Mengenali Diri, Akar yang Menghujam Menuju yang Sejati

Tidak semua yang saya lihat, dengar, rasakan, dan alami benar-benar terekam dalam memori. Lagi-lagi karena keterbatasan saya saja yang belum mampu menyerap semuanya. Termasuk mengatur memori mana yang harus saya ingat, harus selalu siap siaga, hingga untuk sekadar memastikannya harus ada kalau sewaktu-waktu saya membutuhkannya pun saya masih belum bisa.

Pernah juga tiba-tiba saya merasa lupa akan sesuatu, tapi waktu sesuatu itu saya butuhkan tiba-tiba ia melambai-lambai di memori saya. Ada juga yang selalu saya ingat, ndilalah waktu ingatan itu saya butuhkan tiba-tiba ia ngambek dan menghilang begitu saja. Juga tidak sedikit yang saya tidak ingat sama sekali. Kemudian waktu saya ‘memanggilnya’ karena saya membutuhkannya, ia tetap saja tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali.

Terkadang saya suka ndeso banget kalau berhadapan dengan hal-hal yang berbau Tuhan. Sedang tiada satu pun yang saya jumpai dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Tuhan. Jadi kesimpulannya, memang benar-benar ndeso lah saya.

“Sik, sebentar. Ndeso bagaimana maksudmu? Bukannya kamu memang dilahirkan dan dibesarkan di desa?” Tanyaku kepada diriku. Hish, bukan begitu maksudku. Itu tadi lho contohnya. Hanya sekadar mengatur memori saja saya tidak bisa memastikannya. Tidak hanya itu, masih banyak hal-hal lain yang saya tidak bisa mengaturnya sendiri. Untung ada Tuhan, jadi ada yang bisa saya mintai bantuan. Ada tempat yang selalu siap siaga untuk memasrahkan segala-galanya. Dan siap menggenapi segala lubang ketakberdayaan kita. Ya meskipun terkadang ada rasa malu juga sih. Semacam ada pertanyaan, “Lha kowe ki sopo, wani-wanine mestekne Gusti gelem nulungi kowe.” Lha saya ini siapa, berani-beraninya Ge-eR kalau Gusti Allah mau menolong saya. Tapi kalau tidak kepada-Nya, kepada siapa lagi saya meminta. Duh Gusti, ngapunten, mohon maafkan segala kelancangan dan ketidaktahumaluan saya.

Jurus Mengenali Diri

Berbicara masalah memori tadi, ketika mau dan sedang menulis ini pun saya mengalaminya. Entah kenapa beberapa hari ini saya dihantui perkataan Mbah Muhsin di PadhangmBulan 4 Oktober lalu. Saya mencoba mengabaikannya, tapi saya tak kuasa. Padahal ada hal lain yang seharusnya saya ingat dan saya catat. Tapi hal lain itu malah belum muncul juga. Rupanya ia masih kalah ‘saing’ dengan bayangan Mbah Muhsin di arena tumpukan memori saya.

Berbicara tentang Mbah Muhsin, pada kesempatan itu beliau mengungkapkan apa yang membuat beliau betah dan suka hadir di Maiyahan. Bahkan jauh-jauh dari Banyuwangi ke Jombang pun beliau lakoni asal bisa ikut ngaji di sana. Sebelumnya beliau belum pernah menemukan pengajian yang seperti ini. Tidak kemarab, tidak sok ke Arab-araban dengan menggunakan dalil ini dan itu, tapi apa yang dibicarakan, menurut Mbah Muhsin sudah Al-Quran banget.

Apa yang disampaikan Mbah Muhsin tersebut saya rasa ada benarnya juga. Karena di Maiyahan kita tidak melulu dijejali dalil-dalil bahasa Arab yang tak jarang saya masih dlongap-dlongop ndak paham apa maksudnya. Apapun bisa disinauni di sini. Tanpa ada sekat yang mengkotak-kotakkan ilmu itu dan ini.

Seringkali kita diajak mengenali budaya kita sendiri. Nguri-nguri sejarah. Kita ini siapa, lahir dari budaya mana, siapa dan bagaimana mbah-mbah kita, seperti apa masa silam bangsa kita, dan yang semacamnya. Yang jelas, kita diajak terus berdialektika dengan diri sendiri guna menemukan jawaban siapa kita yang sebenarnya. Kita juga diajak berdamai dengan diri sendiri, belajar berdialektika dengan diri agar kita pun bisa mempunyai hati yang selesai.

Kalau dipikir-pikir, kenapa sih beliau-beliau ini malah mengajak kita kepo sama diri kita sendiri. Bukannya malah diajari ngaji ayat-ayat Al Quran atau gimana lah kayak pengajian umumnya gitu. Bahasa kekiniannya, biar kelihatan lebih ‘islami’ gitu lhoh. Kemudian ada yang nyletuk, ‘Emang apa di dunia ini yang tidak islami?’ Nah loh, rasain tuh.

Sedikit cerita, kebetulan beberapa hari yang lalu saya diingatkan seorang guru tentang sebuah hadits. Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu. Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya. Logikanya, jika seseorang sudah mengenali siapa dirinya, ia akan menemukan siapa Tuhannya.

Akan tetapi, ke dua premis tersebut tidak bisa dibalik begitu saja. Artinya, belum tentu kalau seseorang itu ‘arafa rabbahu, ia akan ‘arafa nafsahu. Kalau dalam matematika, ada yang namanya implikasi. Jika p, maka q. Belum tentu benar untuk jika q, maka p. Karena tidak ada jaminan kebenaran akan berlakunya dua arah dalam pernyataan ini. Jika hari ini hujan, saya akan bawa payung. Belum tentu benar untuk pernyataan, ‘jika saya bawa payung, hari ini hujan’. Jika dia mencintai saya, saya akan melamarnya. Belum tentu benar untuk kalimat, ‘jika saya melamarnya, dia akan mencintai saya’.

Menghujamkan ‘Akar’

Menurut pengakuan Bapak Guru tadi, jurus ini lumayan cukup membantu beliau untuk mengantarkan murid-muridnya mengenali siapa Tuhannya dan berjalan menuju-Nya. Belajar mengenali potensi diri, apa kekurangan dan kelebihannya, sedikit banyak membantu murid-murid Bapak Guru ini bermesraan dengan Sang Maha. Agama, keimanan, keyakinan seseorang merupakan privasi seseorang. Itu semua adalah wilayah dapur seseorang. Jadi kurang etis rasanya kalau tiba-tiba kita blusukan masuk ke dalam dapur orang lain. Kecuali kalau sang pemilik dapur sendiri yang mengajak kita untuk singgah sebentar ke sana. Inilah mengapa beliau lebih memilih mengajak belajar mengenali diri sendiri, alih-alih ‘mengaduk-aduk’ agama dan keyakinan si murid.

Lalu bagaimana dengan kita yang telanjur diajari untuk belajar mengenal Tuhan? Apakah ini salah? Apa kita harus langsung men-delete semua kenangan kita akan Tuhan begitu saja. Lalu mulai dari nol, terlebih dulu belajar mengenali siapa kita yang sebenarnya.

Tentu tidak begitu juga dong. Tidak ada yang salah, jika kita telanjur diajarkan mengenali Tuhan sebelum kita mengenali siapa kita yang sebenarnya. Asalkan ada iktikad untuk mengimbanginya dengan belajar mengenali siapa kita. Belajar berdialektika, kita belajar mengasah hati dan pikiran kita, hingga semakin mantaplah keyakinan kita kepada Sang Pencipta. Hingga semakin tak ada celah keraguan akan laa ilaha, kecuali Allah, illallah.

Ibaratnya begini, keyakinan kita kepada Sang Pencipta tersebut adalah buah dari pohon diri kita. Beruntung kita dipertemukan dengan orang-orang baik. Coba bayangkan, bagaimana jadinya kalau kita dipertemukan dengan orang-orang yang berniat jahat. Buah kita lebat, sementara akar kita, keyakinan kita akan diri kita sendiri masih belum begitu kuat. Karena kita memang belum begitu mengenali diri kita sendiri. Karena keyakinan kita hanya sebatas ‘suapan’ semata. Tanpa kita imbangi dengan upaya ‘memakan dan mengunyahnya’ sendiri. Kalau sudah begini, tidakkah pohon kita ini akan mudah dirobohkan oleh mereka yang  berniat jahat?

Lagi-lagi, kita memang harus mengimbanginya dengan terus mencari, berdialektika dengan diri sendiri, belajar mengenali diri kita sendiri. Ada lagi yang sedikit banyak menambah kemantapan saya akan jurus mengenali diri ini. Katakanlah kita ini hidup dalam ruang dan waktu. Dalam dimensi ruang dan waktu, setidaknya ada dua arah gerakan yang bisa kita lakukan di dalamnya. Bergerak ke atas (vertikal) atau bergerak ke samping (horizontal). Gerakan menyamping yang dimaksud di sini tentu tidak hanya sebatas kanan kiri saja, tapi juga ke depan maupun ke belakang.

Anggap saja dialektika kita dengan diri sendiri tadi merupakan gerakan horizontal. Sedangkan menuju Tuhan adalah gerakan vertikal. Sekarang coba kita bayangkan. Ke arah mana lagi kira-kira kita akan bergerak, kalau kita sudah mentok bergerak menyamping. Pilihannya yang tersisa tinggal ke atas, bukan? Artinya jika kita belajar membiasakan mengasah hati dan pikiran kita, belajar berdialektika dengan diri sendiri, pada akhirnya tak ada lagi pilihan lain. Selain kita mengudara ke ‘langit’, mendekat dan semakin mendekat kepada Sang Pemilik segala langit.

Setidaknya ini sedikit banyak turut menyumbangkan jawaban atas penasaran saya. Bagaimana kok bisa-bisanya Maiyahan ini mengajari kita belajar budaya, sejarah, membaca diri, berdialektika dengan diri, mengasah nalar dan hati nurani. Dan bukannya malah sibuk menyampaikan kalam-kalam agama. Bagaimana juga kok bisa-bisanya Maiyah ini bisa diterima jamaah dari berbagai pemeluk agama. Ya, karena ini tadi. Di sini, kita tidak melulu disuapi dalil-dalil. Kita diajak mengenali diri sendiri, berdialektika untuk menemukan Yang Sejati. Dan bukankah sudah fitrahnya, bahwa jauh dalam kesunyian yang terdalam, setiap  hati pada dasarnya merindu pada Yang Sejati.

Tidak semua yang saya lihat, dengar, rasakan, dan alami benar-benar terekam dalam memori. Lagi-lagi karena keterbatasan saya saja yang belum mampu menyerap…