Mengeja Inti Jiwa Sebuah Kata

Catatan Workshop Penulisan Padhangmbulan 8 Juni 2017

Ada yang terus mengganjal di hati saya sejak Workshop Penulisan Padhangmbulan selesai diselenggarakan. Selain karena acara dua hari itu bukan sembarang workshop, demikian diutarakan Mas Helmi Mustofa, pelatihan penulisan yang awalnya digagas Cak Nang dan Cak Yus itu menorehkan kesan mendalam.

Berkumpullah sore dan malam itu saya bersama anak-anak muda yang gairah menulisnya menyala-nyala. Yang sorot matanya menatap cakrawala. Yang butiran gagasannya dibuahi oleh Maiyah. Siapa tidak tergetar hatinya—Mas Afan Ebo terbang dari Kupang untuk menuntaskan cintanya kepada Maiyah yang terjalin melalui paseduluran workshop.

Atmosfir dan gairah Maiyahan sudah terasa sejak pembukaan acara. Mas Rio, Cak Yus dan Mas Prayogi mengawali sesi pemanasan untuk member kloso bagi kenduri penulisan pada sesi selanjutnya.

Waspada terhadap Kata

Video Mbah Nun di Forum Umar Kayam UGM dan 50 Tahun Majalah Horison di TIM Jakarta telah saya siapkan. Saya tidak tahu persis mengapa saya mengunduh dua video itu. Perasaan sreg, hanya itu yang saya rasakan ketika memilih puluhan bahkan ratusan video Mbah Nun. Pada video pertama Mbah Nun membabar konotasi yang liar menimpa kata. Video kedua Mbah Nun berbicara sebagai “sastrawan” yang merespon perkembangan dan perjalanan Majalah Horison.

Apa relevansi kedua video itu untuk bahan worksop penulisan? Saya juga tidak tahu. Hingga malam itu semua peserta siap dengan kertas dan alat tulis. Video Forum Umar Kayam pun ditayangkan. Kami terserap ke dalam alur pemaparan Mbah Nun. Denotasi dan konotasi, denotasi yang dikonotasikan, konotasi yang didenotasikan, denotasi yang ketlingsut, konotasi yang dikonotasikan—semuanya bergerak liar, menerabas pagar common sense, hingga pada bobot tertentu, menistakan martabat dan harga diri. Kita harus waspada terhadap sebiji kata.

Waspada—Mbah Nun mentadabburinya dari takwa. Bukan hanya sikap pasang kuda-kuda saat merespon peristiwa, melainkan juga cermat, teliti, ati-ati, peka terhadap denotasi, konotasi, nuansa dan konteks sebuah kata.

Abad ke-21, ketika manusia masih berada pada tahap kesadaran kemanusiaan; saat manusia belajar menjadi manusia; saat mata pandang focused pada kepentingan dirinya yang sebatas dan terbatas sebagai manusia; saat manusia menganggap dirinya adalah pusat alam semesta, bahkan Tuhan pun harus tunduk kepadanya—memperalat kata adalah kelaziman sekaligus keharusan yang tak bisa dipungkiri.

Kata adalah sesosok makhluk, serupa hutan, tambang, laut, tanah yang dieksploitasi oleh egoisme dan materialisme. Kata menjadi wasilah, tidak terutama untuk berbagi denotasi kebaikan, kebenaran dan keindahan, melainkan menjadi alat untuk menampilkan konotasi image, brand, kesan, citra, status. Di balik semua itu, betapapun indah dan mulia konotasi yang diciptakan, kita harus waspada, terutama kepada diri sendiri, terhadap denotasi egoisme dan materialisme sebagai muatan utamanya.

Menemukan Inti Jiwa Sebuah Kata

Kita tidak sedang mengutuk konotasi. Imaji-konotatif yang dimiliki oleh sebuah kata jangan dilepaskan liar. Ia harus dicancang pada sebuah tonggak. Karena pada konteks tertentu, keributan pro dan kontra yang kerap terjadi, sering dipicu oleh imaji-konotatif itu. Akar persoalan yang denotatif-substantif mrusut dari pengamatan. Pro dan kontra sekolah delapan jam dalam satu hari misalnya, merupakan akibat tidak waspada terhadap liarnya konotasi full day school.

Konotasi yang liar—mulai frasa pendidikan karakter, gerakan literasi, gerakan membaca, ayo bersedekah, tahajud call hingga Pancasila yang di-saya-kan—merupakan sejumput idiom yang tidak pernah sungguh-sungguh dipelajari dan dilacak makna denotasinya. Kita akan segera menjumpai idiom-idiom itu lantas dibakukan ke dalam logika politik regulasi, surat keputusan, peraturan menteri, peraturan daerah. Formalisme dan lembaga-isme akan membekukan imaji-konotatif menjadi padatan-padatan denotasi yang baru.

Wejangan Mbah Nun agar kita berhati-hati menggunakan kata bisa direfleksikan melalui terminologi ‘arafa nafsahu. Kita coba bertadabbur. Dlomir muttashil “hu” merujuk pada (ya’udu ilaa) “kata”. Mengerti inti jiwa sebuah kata, kira-kira demikian terjemahnya. Ketika kita menyusun kata per kata, inti jiwa kesadaran dan isi pikiran nyambung dan gathuk dengan inti jiwa sebuah kata. Kita menulis dengan sikap yang jujur dan merdeka—tidak manipulatif bahkan sejak sebelum menulis. Situasi ini semoga menghadirkan rasa kesadaran ‘arafa rabbahu. Apa yang kita tulis sejatinya berkat kemurahan Ilmu dan Kasih Sayang-Nya. Kata-kata yang berpijak di bumi menali-sambung dengan semesta langit Cinta-Nya.

Teman-teman peserta Workshop Penulisan Padhangmbulan yang duduk melingkar itu diikat oleh tali cinta Maiyah. Saya, Anda dan jamaah Maiyah akan terus menulis dan membaca ayat yang terhampar di jagad alit dan jagad besar, mengeja inti jiwa sebuah kata, menemukan kembali rasa kesadaran ‘arafa rabbahu.

Langit ‘arafa rabbahu pasti lebih menggairahkan ketimbang—maaf—menulis sekadar untuk meniti karir menjadi penulis. Tidak diniatkan jadi penulis, orang yang menulis disebut penulis (isim fail). Sayangnya, diksi “penulis” pun menjadi kuda-konotasi yang binal.[]

search cart twitter facebook gplus whatsapp telegram youtube image