Mengasuh Desa, Membasuh Indonesia

Tahun 2010 silam saya mantap terbang ke Jakarta. Pergi ke Ibukota untuk sebuah cita-cita yang tinggi dan mulia. Minimal buat diri saya. Berangkat ke kota Metropolitan demi satu tujuan: mempromosikan puluhan lagu karya band saya agar diterima di label-label perusahaan rekaman yang ada di Jakarta. Sejak kecil saya memang gandrung-kedanan dengan musik. Musik adalah darah saya, jiwa saya, hidup-mati saya. Hal itu meyakinkan bahwa saya diciptakan Tuhan untuk menjadi seorang seniman musisi.

Dengan bekal semangat, tekad, bakat, kreatifitas serta segepok doa orang tua, dalam hati saya yakin dapat menaklukkan Jakarta. Akan saya tunjukkan ke seluruh dunia, bahwa saya dan rekan bisa menjadi band terkenal, band papan atas yang mempunyai ribuan bahkan jutaan fans yang tersebar di penjuru Nusantara. Tinggi nian mimpi saya itu. Sehingga tak sedikit yang bilang; preekk! mengatai saya konyol, pekok, dan gila. Namun sedikit-pun saya tak bergeming dan tetap nekad berangkat ke barat (baca: Jakarta).

Pamit saya kala itu kepada kedua orangtua adalah ingin bekerja dan mewujudkan cita-cita di Jakarta. Dengan rasa cemas dan harap, orangtua ikhlas melepas dan merelakan anaknya merantau ke Ibukota. Awal di Jakarta saya numpang hidup di tempat saudara untuk beberapa bulan. Tak enak rasanya jika hanya sekedar numpang makan dan tidur di sana. Maka setiap sore hingga larut malam saya turut ewang-ewang, bantu berjualan di  warung makan milik saudara saya. Ya cuci gelas-piring-mangkok, nyapu, ngepel, angkat-junjung, semua ikhlas saya jalani.

***

Sejumlah alamat label rekaman sudah saya dapatkan. Targetnya, satu hari satu label yang saya masuki CD demo lagu. Karena pergi sendiri dan baru sekali di Jakarta maka yang namanya kesasar itu sudah pasti dan menjadi menu wajib sehari-hari. Maksud hati mau ke jalan Cikini tapi malah keblasuk ke Taman Mini. Niatnya menuju jalan Pancoran, tapi malah kebablasan sampai Kuningan. Begitulah resiko orang awam yang berani terjun ke jalanan metropolitan sendirian.

Mengirim demo lagu ke label rekaman tidak seperti memasukkan surat lamaran kerja ke sebuah perusahaan. Kalau melamar kerja, biasanya selang satu-dua minggu akan ada panggilan pemberitahuan dari HRD untuk mengundang hadir wawancara. Namun untuk menembus dapur rekaman tidak semudah itu. Tidak sesederhana itu. Tidak ada batasan waktu. Pihak label baru akan menghubungi ketika mereka merasa tertarik dengan demo lagu yang masuk dan timing-nya pas dengan kondisi pasar musik saat itu.

Kurun tiga bulan berjalan, mungkin sudah lebih 20 label rekaman yang saya masuki demo lagu. Itu baru yang saya kirimkan berupa fisik CD. Ada juga beberapa label yang saya kirimkan demo lagu-nya via email. Dan respons setiap label berbeda-beda.

Hari, bulan, tahun berganti. Hampir semua label rekaman di Jakarta sudah saya sambangi. Namun nihil, tak ada satu-pun label yang sedia menghubungi nomor saya. Sebenarnya ada dua label yang cukup besar meng-konfirmasi, tapi sayang isinya penolakan. Dan mereka menyarankan saya untuk mengirim lagi demo lagu baru. Aih kilahku.

Menanti sesuatu yang tak pasti memang meletihkan. Dan keletihan itu tengah menghinggapi dada dan hati saya saat itu. Saya mikir, perjuangan saya bertahun-tahun ini seperti sial dan sia-sia. Ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan untuk bisa tembus dapur rekaman. Bingung, frustasi, mangkel, nggrundel, saya terus memaki keadaan. Tuhan, dengan cara apalagi yang harus ditempuh untuk merealisasikan mimpi ini.

Bayangan saya dulu, hijrah ke Jakarta–masukin demo lagu, tembus, lalu rekaman, kaset/CD beredar, manggung, tour keliling Nusantara, rupiah ngumpul, rekening kemebul, kawin, bangun rumah, naikin haji bapak/ibu. Kalau urusan keluarga beres baru ngurusin yang lain. Ngaspal jalan kampung, bangun masjid, bangun puskesmas, sekolah gratis, nyumbang pondok pesantren, dll. Cita-cita yang tinggi memang, mulia tapi GILA. Saya memang berhasrat besar untuk membahagiakan keluarga dan berguna bagi sesama. Itu cita-cita sejak dulu kala. Sayang, rencana yang sudah tersusun rapi, tidak dibarengi niat yang suci. Seolah bisa diatur seenak udel saya sendiri. Ini blunder sekaligus keblinger.

***

Dibayangi kegagalan, dihantui keputus-asaan. Suatu malam (penghujung 2011) saya mlaku-mlaku menyusuri ruas jalanan Ibukota. Tanpa tujuan, tanpa teman, persis seperti gelandangan. Lalu lalang orang dan kendaraan tak saya hiraukan. Jiwa sepi, lengang meski berada di tengah keramaian. Tetiba langkah saya terhenti di depan pelataran Taman Ismail Marzuki daerah Cikini. Ada sekumpulan orang-orang yang duduk tak beraturan, tetapi semua pandangan fokus tertuju ke depan, ke pusat titik sentral, di atas panggung yang tidak tinggi dan juga tidak besar.

Di atas panggung mini itu, dari kejauhan saya melihat sosok lelaki yang mengenakan kemeja putih lengan pendek, celana hitam panjang. Berambut cukup panjang-ngombak andan-andan. Sebagian rambutnya hitam, sebagian-nya telah memutih. Memegang mikrofon di tangan kiri. Duduk takhiyat sembari terus sesorah dengan lihai-nya. Saya berjalan mendekat, membelah kerumunan manusia yang penuh sesak. Lamat-lamat saya turut menyimak.

“Temen-temen sekalian, kalau anda benar-benar sudah muak dengan kondisi Jakarta dan Indonesia. Maka minggir dan menyingkirlah. Lakukan dan kerjakan kebaikan dimulai dari diri sendiri, dari lingkaran terkecil di sekitar kita, baru kemudian bertambah dan bertambah. Anda bangun diri anda, keluarga anda, RT anda, kampung anda, kelurahan, kecamatan anda dan seterusnya. Dan itu semua tidak lain dalam rangka shodaqoh kebaikan membangun negeri Indonesia kita tercinta.”

Kata-kata yang ringan, enak, magis, mesra, dan memuat sejuta hikmah luar biasa. Seketika saya mengusap muka dan mengelus dada. Iya ya, siapa sebenarnya saya ini. Punya daya apa kok sok pede-pedenya mau menaklukkan Jakarta. Mau jadi orang yang berjasa dan terkenal di mana-mana. Dengan cara dan kekuatan apa saya bisa mewujudkannya. Ngimpi! Ini ngimpi di siang bolong. Apa saya punya Doraemon? Apa saya punya tambang batubara? Apa saya ini ponakan-nya Bung Karno? Apa mungkin saya titisan-nya Gajahmada?? Itu semua khayalan belaka, konyol, pekok, dan gila.

Bagaimana kalau mulai nanti malam engkau coba elus-elus dengan kelembutan hatimu dan kejernihan pikiranmu kata-kata berikut ini:  “Indonesia adalah salah satu dari sekian anak asuhmu”. Daur 07 – Anak Asuh Bernama Indonesia

Saya yang bodoh, awam, bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa. Maka rasanya terlalu luas untuk bicara tentang Indonesia. Terlalu rumit ngomongin persoalan Jakarta. Dan terlalu picik jika hanya bercita-cita meraih kepuasan dunia semata.

***

Lelaki itu, motivator dadakan itu, guru yang tak disangka itu, telah mengajarkan sekaligus menyadarkan siapa saya dan apa yang seyogianya bisa saya lakukan. Indonesia bukan kapasitas bagi orang kerdil seperti saya. Jakarta bukan wilayah yang pas buat orang kecil semacam saya. Tidak lain saya hanyalah manusia biasa, hamba sahaya, tak pantas untuk menuntut apa-apa kepada Tuhan Sang Pencipta.

Akhirnya saya pulang kandang (2015 awal). Kembali ke kampung halaman (Selogono, Girimargo, Miri, Sragen). Dengan sedikit ilmu yang didapat saat kuliah serta pengalaman selama berjuang dan bekerja di perantauan, saya dirikan Sanggar belajar anak dan perpustakaan di kampung tempat saya tinggal. Semua free, tak ada pungutan biaya. Di sanggar anak-anak bisa belajar alif-ba-ta, ngaji Qur`an, sinau musik, nyanyi, teater, berpuisi, unjuk keterampilan (buat sulak, hiasan dari kardus, celengan dari botol bekas,  gantungan kunci) dan berbagai kegiatan kreatif lain-nya.

Anak-anak juga bebas untuk membaca dan meminjam buku bacaan kapan-pun mereka mau. Ini semua tak lain bentuk ikhtiar kecil yang coba saya lakukan dalam rangka ssedekah kebaikan bagi sesama dan sekitar. Terus nandur, poso lan sodaqoh, pesan Simbah Guru. Saya ikhlas dan terima untuk tidak jadi siapa-siapa, juga tak punya apa-apa. Harapannya semoga dari kesekian mereka (anak-anak) suatu saat akan ada yang ‘sukses’ membuat harum nama kampung, desa, agama, dan negerinya.

***

Maafkan kekerdilan saya Mbah Nun, berat dan tidak sanggup rasanya bagi saya untuk mengasuh anak yang bernama Indonesia. Indonesia terlalu luas, ribet dan complicated. Indonesia biarlah diampu dan diasuh oleh mereka yang benar mampu dan peka untuk mengasuh-nya. Biarkan saya kembali ke huma, mudik ke rumah orang tua. Mengasuh desa dalam rangka membasuh Indonesia. Doakan, semoga tetap istiqomah, setia untuk mengasuh, merawat, menjaga anak-anak, sesama dan semesta.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image