Mengambil Jatah Kebahagiaan dari Tuhan

Tuhan menciptakan manusia hanya untuk mengabdi kepadaNya. Artinya, fitrahnya manusia itu sebagai pengabdi. Atau dengan bahasa yang lain, seluruh perangkat jasmani-ruhani manusia di-set-up oleh Tuhan sejak awal memang hanya untuk melakukan aktivitas pengabdian. Konsep dasar penciptaan manusia ini membuat di dalam diri setiap pribadi manusia memiliki naluri untuk mengabdi. Mengabdi itu perilaku manusia dalam menggunakan seluruh modal pinjaman dari Tuhan (perangkat jasmani rohani) untuk kemanfaatan tegaknya nilai–nilai-Nya.

Kemudian Nabi mempertegas orientasi dan aplikasi aktivitas pengabdian dengan memberi parameter yang kongret, yaitu, Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lain. Jika di dalam diri manusia ‘dipasang’ naluri pengabdian, maka wujud naluri itu ialah berupa dorongan suci ingin hidup bermanfaat bagi orang lain. Dorongan fitrah semacam ini dikatakan oleh filosof Yunani yang bernama Aristoteles, bahwa manusia itu “Zon Politikon” atau makhluk sosial. Yaitu makhluk yang tidak bisa hidup sendiri karena terikat oleh naluri saling membutuhkan.

Naluri itu akan menjadi kebutuhan  fitrah. Ia semacam dorongan gaib yang tidak bisa dicegat. Kalau naluri dihadang, maka akan lahir pemberontakan batin berupa perasaan bersalah yang membuat manusia tidak bahagia. Naluri adalah hasrat otentik. Sebuah kebutuhan yang bukan merupakan hasil propaganda dari luar dirinya. Kalau Tuhan menjadikan manusia sebagai pengabdi atau hamba bagi diriNya, itu bukan berarti manusia sedang diposisikan sebagai korban feodalisme dan obyek hierarki strukturalisme dari takdir penciptaan-Nya itu. Tuhan tidak membutuhkan ‘penyembahan’ atau setoran pengabdian dari manusia.

Ketika manusia diperintah untuk berbuat baik, itu artinya Tuhan sedang menyuruh manusia untuk menikmati kebahagiaan, karena hanya dengan cara berbuat baik manusia akan bisa bahagia. Modal berupa badan, tenaga, pikiran, materi atau harta, harus ditransformasi menjadi ‘menu’ rohani. Cara mengubah modal material menjadi makanan rohani adalah dengan mengkontribusikannya kepada kebaikan hidup, kemanfaatan sosial dan kebersamaan kemanusiaan.

Memposisikan diri sebagai pihak yang memberi, apapun jenis pemberian itu, asal bernilai kebaikan hidup bersama adalah cara manusia menyembah atau mengabdikan dirinya kepada Tuhan. Kebaikan horizontal merupakan alamat penyembahan vertikal. Cara beragama yang berhenti pada bentuk–bentuk yang ritualistik, secara tidak langsung merupakan perilaku yang menuduh Tuhan butuh disembah.

Kalau manusia diciptakan hanya untuk mengabdi, maka bumi sebagai tempat bagi manusia menjalani kehidupan, sesungguhnya telah diperintah oleh Tuhan untuk juga hanya mau menerima pengabdi atau hamba Tuhan. Manusia yang menjalani hidup tidak sebagai pengabdi akan ditolak oleh sistem bumi atau hukum alam. Jadi ada suatu sistem yang secara otomatis menolak manusia yang gagal menjaga orientasi hidupnya sebagai pengabdi.

Sebaliknya, manusia yang terjaga kondisi fitrahnya sebagai makhluk pengabdi akan kompatibel dengan sistem bumi. Kalau dalam perspektif kebudayaan Jawa, harmoni manusia dengan alam akan membuat manusia bahagia. Berbuat baik atau memberi kebaikan itu kebutuhan manusia. Jadi, manusia butuh memberi.

Secara teknis perbuatan memberi itu tampak seperti sedang memenuhi kebutuhan pihak lain, tetapi hakekatnya sedang memenuhi kebutuhan sendiri. Yaitu untuk mendapatkan nutrisi ruhani berupa amal saleh. Amal saleh atau perbuatan baik inilah kebutuhan sejati manusia. Bahwa jasad kita juga memiliki kebutuhan, itu akan dipenuhi oleh alam yang memang sudah ditugasi untuk menyediakan segala kebutuhan jasadiah manusia. Alam akan menjalankan mekanisme sistemiknya untuk ‘melayani’ seluruh kebutuhan para pengabdi, melalui jalan yang tidak disangka-sangka.

Manusia harus menemukan titik temu kesepahaman dengan watak alam. Alam punya aturan main, regulasi dan sistem yang mengikat manusia. Tetapi ikatan ini bukanlah penjara untuk manusia. Seluruh aturan main dan sistem alam adalah koridor hidup bagi manusia dalam menjalani sejarahnya. Dan hanya ketika manusia hadir ke bumi sebagai Abdullah atau pengabdi Tuhanlah, bumi bersedia ditinggali.

Bumi telah dititipi Tuhan seluruh kebutuhan manusia. Apapun yang diperlukan manusia sudah disediakan oleh bumi. Tuhan sudah menjatah manusia dengan hidangan-hidangan kebahagiaan dalam hidupnya. “Nikmat  mana lagi yang kalian dustakan”. Tuhan tidak menjatah kesengsaraan kepada manusia. Asal manusia setia dalam fitrahnya sebagai pengabdi, yaitu pihak yang menjadikan seluruh modal dirinya itu sebesar-besarnya untuk kebaikan bersama, maka jatah kebahagiaannya akan bisa didapatkan. Kalau manusia hidupnya sengsara, itu karena ia keliru membangun orientasi. Disorientasi inilah biang keladi dari kesengsaraan. Pengingkaran terhadap fitrah penciptaannya sebagai pengabdi membuat bumi menghardik dari pangkuan dan pelayanannya.

Salah satu contoh watak alam adalah nilai keseimbangan. Untuk menjelaskan hukum keseimbangan ini mungkin saya akan berangkat dari analogi buang air. Tubuh manusia, disamping memerlukan makan, ia juga butuh buang air. Jumlah yang dikeluarkan pasti lebih kecil dari yang masuk. Buang air akan lebih sedikit dari makanan yang masuk ke dalam tubuh. Kebutuhan mengeluarkan secara medis, tidak kalah penting dengan kebutuhan memasukkan. Bahkan ilmu kesehatan akan mengatakan supaya kita langsung buang air begitu terasa kebelet. Jangan ada tindakan menahan untuk mengeluarkan demi menjaga kesehatan tubuh. Tidak ada saran dokter yang berbunyi, semakin kuat menahan kencing atau berak, manusia akan makin sehat. Itu jelas melanggar hukum kesehatan. Tetapi untuk urusan makan atau memasukan, rumus medis justru sebaliknya, semakin manusia kuat dan rajin berpuasa ia akan semakin sehat, metabolisme tubuhnya akan makin baik.

Kalau analogi tersebut kita perlebar spektrum pemaknaannya, maka kita akan menemukan logika pengabdian sebagai jalan menemukan kesehatan dan kebahagiaan hidup. Konsep pengabdian adalah prinsip nilai tentang kontribusi atau mengeluarkan. Tindakan menahan pengeluaran menjadi gawat dampaknya bagi gangguan keseimbangan hidup. Padahal rumusnya jelas bahwa jumlah buang air selalu akan lebih sedikit dibanding dengan makanan yang dimakan. Ini artinya bahwa setiap kita mengeluarkan, berkontribusi kemanfaatan, dan mensedekahkan kebaikan bagi pihak lain,  secara otomatis sistem alam akan memasukan untuk kita jumlah yang lebih banyak.

Sejak lahir kita hidup di atmosfer sejarah dan kultur yang yang tidak sejalan dengan hakekat fitrah kemanusiaan. Suatu keadaan sosial yang melanggar nilai, sistem atau watak alam. Cara berpikir orang menjadi berkebalikan dengan rasionalitas hukum keseimbangan. Kesadaran materialisme membuat manusia mengalami disorientasi dan gagal menemukan alamat nilai. Orang cenderung berorientasi pada pemasukan sebanyak-banyaknya dan enggan mengeluarkan. Peristiwa mengeluarkan menjadi dianggap tindakan merugikan. Inilah awal manusia bergeser dari orbit kehidupan, sehingga rute perjalanannaya tidak sedang menuju jatah kebahagiaan itu disediakan.

Kerja itu kebutuhan. Bukan terutama kerja itu bisa menghasilkan uang, tapi karena setiap manusia itu sudah dipasang dorongan suci atau naluri berupa keinginan untuk bermanfaat. Rasa bermanfaat inilah yang sesungguhnya kita butuhkan, karena rasa tersebut sebagai sebuah naluri harus dipenuhi. Terpenuhinya kebutuhan itu membuat bahagia. Jadi, kerja adalah ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan rohani. Bahwa kerja kemudian menghasilkan uang, itu dampak saja. Semacam hadiah ‘ruh’ kepada jasad sebagai rejeki materi.

Kebahagiaan sebagai sebuah jatah, wajib kita ambil. Pada hakekatnya manusia tidak disuruh mencari, karena kalau mencari berarti sesuatu itu belum ada. Sesuatu yang bernama kebahagiaan itu sudah ada dan memang dijatahkan untuk manusia. Jalan atau cara mengambilnya adalah dengan membangun kesadaran diri sebagai pengabdi. Jenis kesadaran inilah yang akan memperjodohkan manusia dengan sistem alam. Alam akan bertindak sebagaimana istri yang setia. Seluruh yang kita perlukan akan dengan mudah tiba-tiba ada di hadapan kita. Itulah pelayanan alam kepada pengabdi. Pelayanan sebagai bentuk ‘tasbihnya’ kepada Tuhan. Alam akan patuh kepada abdi-Nya, Khalifah-Nya. Makanya, orang yang terjaga kesadarannya sebagai pengabdi, limpahan kemakmuran tercurah tanpa henti dalam hidupnya. Selamat menjemput janji indah dari Tuhan!

Sokawera, 27 September 2017

Tuhan menciptakan manusia hanya untuk mengabdi kepadaNya. Artinya, fitrahnya manusia itu sebagai pengabdi. Atau dengan bahasa yang lain, seluruh perangkat…