Meng-hack Kesempitan Menuju Keluasan

Apakah kita memang punya kelemahan untuk mudah mencurigai, menilai, dan memprasangkai di antara sesama kita berdasarkan penampakan lahiriah belaka ataukah bagaimana. Kalau tidak terdapat atribut, busana, atau simbol menempel pada diri kita yang diidentikkan dengan suatu nilai (kealiman, kesalehan, dan lain-lain) bukan tidak mungkin kita tertimpa prasangka kurang nikmat.

Hari itu, pemuda pilot yang menyebut Cak Nun sebagai “hacker ulung” membawa kami bertujuh wisata ke Bukit Genting yang tinggi, dan layaknya pengunjung lain, kami diajak naik gondola atau kereta gantung. Kereta itu membawa kami naik ke Sky Avenue Genting Highlands. Perjalanan ke atas itu menembus mendung kabut dan hujan lembut di atas kawasan bukit Genting.

Di gedung besar bertingkat-tingkat Sky Avenue itu terdapat aneka macam sarana seperti hotel, hiburan, game, restoran, toko-toko layaknya di mall-mall, dan ada beberapa spot casino. Kami berjalan menyusuri area ini yang di dalamnya ada dua landmark dunia yaitu Patung Liberty Amerika dan Big Ben London. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami memutuskan untuk segera shalat Asar. Berbekal informasi dari petugas, mushalla atau di sini popular dengan sebutan surau, akhirnya kami temukan. Ruangannya sangat kecil, bahkan lebih kecil dari mushalla-mushalla di mall-mall di Indonesia. Tempat wudhunya pun jadi satu dengan ruang shalat. Bukan di luarnya.

Saat kami telah usai wudhu, bersiap berdiri menghadap kiblat, seorang Bapak berbusana rapi dan mengenakan dasi, tiba-tiba dengan ekspresi agak curiga bertanya, ”Shalat apa ini?” Saya jawab, “Shalat Ashar”. Lalu dia mengatakan dengan nada penuh sikap mencemaskan pada kami bahwa masih sepuluh menit tersedia waktu. Dia mungkin mengira kami terlalu cepat mau shalat maghrib padahal waktu belum tiba. Atau menyayangkan mepetnya waktu kami dalam shalat Ashar. Memang sih kita terlambat, tapi waktu belum habis, karena tadi masih dalam perjalanan dari Batu Caves ke Bukit Genting ini.

Dan setelah selesai, kami memutuskan untuk sekalian saja menunggu waktu Shalat Maghrib. Ketika kami ngobrol, lagi-lagi dia nyelonong dengan mengatakan waktu shalat maghrib 19.34 waktu setempat. Menjelang tiba waktunya, terdengar dari HP salah satu di antara kami suara adzan yang sudah tersetting secara otomatis menyesuaikan perubahan tempat, dan dia menyela langsung, “Itu waktu Kuala Lumpur, di sini belum.” Entah apa yang dipikirnya.

Ketika benar-benar sudah masuk waktu Maghrib, saya meminta supaya ada yang adzan. Oman rupanya segera berdiri dan mengumandangkan adzan. Oh, ternyata adzannya enak didengar. Saya juga baru dengar kali ini. Kalau adzannya seperti itu, bisa diterka latar belakang dia. Saya pun segera introspeksi. Biarpun saat itu hanya mengenakan kaos dan celana jeans, saya tak boleh tak punya sedikit pun ruang dalam pikiran saya untuk membayangkan bahwa dia adalah orang yang rajin beribadah dan pernah menimba di lembaga pendidikan Islam yang cukup bagus.

Barisan segera berdiri dan merapatkan shaf, dan sebagai bentuk penghormatan saya meminta Bapak yang tadi memantau pergerakan kami buat mengimami. Sayangnya, permintaan kami ditolak. Alasannya tenggorokannya sakit. Bahkan mendekat ke shaf pertama pun tak mau atau tak berani, dan mempersilakan yang lain saja. Akhirnya saya minta Fahmi untuk maju ke sajadah imam yang sudah disediakan. Rupanya ngimaminya juga enak dengan nada yang tegas dan lurus tapi tanpa kehilangan keindahan. Walaupun dia hanya mengenakan kaos dan celana jeans ala anak muda. Namanya juga lagi piknik.

Walhasil dua petugas ad hoc ini, Oman dan Fahmi, dan keduanya adalah penggiat Maiyah Kenduri Cinta, telah menyelamatkan muka kami, tanpa dia sendiri sadar atau berpikir demikian.  Sebab, selain kami, juga ada orang-orang lain yang ikut berjamaah. Nggak ngisin-ngisini banget gitu lah.

Sambil berjalan meninggalkan surau kecil dan terpencil di gedung yang melayani kebutuhan leisure time manusia modern ini, kami sempat menggerundal juga tentang sikap Bapak berdasi tadi. Macam-macamlah. Sebab memang yang dia lakukan ke kami, membawa kami ke situasi untuk menduga-duga juga, termasuk tentang nggak maunya dia jadi imam dengan alasan sakit tenggorokan, padahal sewaktu ngomong ke kita soal sholat apa dan waktu sholat maghrib suaranya jelas-jelas saja tanpa ada tanda-tanda sakit. Tapi ya sudahlah, kami segera melupakannya dan tak mau menerka-nerka lebih jauh. Lagi pula, apa gunanya. Mungkin semua itu terjadi, karena dia dan kami belum saling cukup mengenal.

***

Sedari berangkat dari Jakarta, kami sudah sepakat, nanti di sana tak usah banyak diskusi. Kita menikmati jalan-jalan saja (wah, jangan ditiru yang ini). Tetapi tetap saja, kesepakatan itu tak bisa tercapai. Baik di dalam mobil, di lokasi-lokasi, dan di tempat makan malam hari di Presint, ternyata kita (mas Pilot dan kami) malah banyak sharing, bertukar informasi tentang Maiyah. Bahkan ketika menjelang tidur malam, kita masih menyisakan waktu buat ngobrol-ngobrol di ruang tengah, di rumah Mas Kapten Pilot ini tentang berbagai soal, tentang perkembangan keislaman di Indonesia dan KL menjadi perbincangan. Juga tentang perkembangan Maiyah. Sejauh yang kami mampu mempersepsikan dan memahami tentunya.

Sebagai seorang yang sering lompat dari satu negara ke negara lain, pemuda pencetus istilah hacker ulung ini merasakan banyak pengalaman. Salah satunya, lima tahun silam ia pernah singgah di Iran pada waktu bertugas menerbangkan pesawat ke sana. Sewaktu berada di Teheran itu, ia sempat mencari sebuah masjid buat shalat. Di Iran, kebanyakan orang shalat dengan tata cara yang agak beda, yaitu menggunakan potongan tanah dari Karbala untuk letak sujud kepala.

Si pemuda dari Asia Tenggara ini tentu tidak menggunakan potongan tanah itu. Ia shalat seperti biasanya di Indonesia atau di Malaysia, atau di manapun. Tiba-tiba di tengah-tengah shalat, dia mendengar suara teriakan yang makin mendekat ke dia, dan pada teriakan ketiga itu suara keras itu benar-benar berada di telinganya. Membuatnya terkejut dan ketakutan. Ia diteriaki dengan kalimat bernada keras, ”Are you Syafi’iyyin?” (Apakah Engkau bermadzhab Syafi’i?).

Rupanya, dia ditegur dan diteriaki karena tidak menggunakan batu atau tanah Karbala. Sempat ketakutan karena orang yang meneriaki ini adalah security. Tapi, beberapa saat kemudian, dia sadar dan berkata dalam hati ya Allah kenapa di dalam rumah-Mu aku ketakutan atau takut akan sesuatu. Kemudian dia tenang kembali.

Lepas menenuaikan shalat, ia cari orang yang barusan menerornya dengan teriakan. Hanya ingin melihatnya saja. Tak ingin berdebat. Apalagi mem-bully. Apalagi berteriak di medsos. Ia masih perlu mempelajari apa yang sesungguhnya barusan terjadi padanya. Ia tak ingin salah menilai. Atau mengambil kesimpulan yang gegabah. Nanti waktunya akan tiba di mana penjelasan, atau pembelaan jika ia memang tak salah, itu datang.

Suatu hari di waktu kemudian, dalam penerbangan ke lain negara dia punya kenalan pramugara asli dari Iran. Ia merasa kesempatan buat mencari pembanding atau pengetahuan tentang masyarakat Iran telah datang. Keakraban dengan pramugara Iran itu segera terjalin keakraban, dan dari situ serangkaian tema obrolan bergulir. Banyak hal tentang bagaimana Islam di Iran diperoleh dari tuturan sang pramugara. Termasuk relasi pengikut Syiah dan Sunni. Di sana cukup biasa seorang syiah menikah dengan sunni. Dengan antusias, pramugara Iran itu menjawab pertanyaan-pertanyaan pemuda Jamaah Maiyah ini.  Lalu dengan hati-hati  diceritakanlah kepada pramugara itu kejadian yang dialaminya di sebuah masjid di Teheran itu.

Seketika wajah si Pramugara Iran ini berubah segera setelah menyimaknya. Memerah rona di wajahnya. Antara malu dan marah. Dengan cepat dan penuh intensi geram ia berseru, ”Tolong kalau ke Iran lagi, bilang sama saya, siapa nama orang itu. Atau ingat-ingat wajahnya. Saya akan laporkan dia ke polisi, karena telah membuat Anda takut dan tidak aman di negara kami,” katanya sembari terus mengumpat menyalahkan sikap security masjid yang tidak sepatutnya kepada orang lain, dan apalagi itu tamu dari negara lain yang semestinya dimuliakan dengan sikap ramah. Si pramugara Iran menanggung malu akibat perilaku sesama bangsanya.

“Mengintervensi” ibadah orang lain dengan sikap judgement, kurangnya wawasan, tidak adanya empati dan persepsi positif terhadap manusia mungkin bukan gambaran yang senantiasa muncul dari suatu kelompok kepada kelompok luar, tapi bisa diidap oleh individu-individu. Terutama individu yang tak menyisakan sedikit ruang buat mencintai sesama, atau telah terbodohkan oleh gelombang kesempitan-kesempitan yang kian massif.

Lewat beragama formula Maiyahan, setiap individu Jamaah Maiyah sesungguhnya diasah terus oleh Mbah Nun untuk tidak jumud, tidak sempit, tidak mata kuda, tidak bersikap kampungan, dan tidak ahmaq. Luasnya tema yang dibahas Cak Nun bukan dalam rangka melanggar batas-batas disiplin akademis dan ekspertasi, melainkan upaya agar Jamaah Maiyah terbiasa dengan keluasan ilmu, wawasan, dan kekayaan sikap hidup.

Kapten pilot yang pekerjaan sehari-harinya terbang ke berbagai negara dengan pergaulan global ini menyadari betul arti penting keluasan sikap hidup, terutama dalam menyikapi beragam jenis dan latar belakang manusia. Pada dirinya, hal itu membuat dia tidak gampang bersikap reaktif manakala melihat berbagai perbedaan, dan membuatnya selalu mencari tahu demi mengembangkan wawasannya.

Pada suatu ketika, dia pulang sejenak ke rumah orangtuanya di Jogja. Latar belakang keluarga orangtuanya adalah Muhammadiyah. Tatkala masuk di ruang tengah, Ia sedikit terperanjat, karena televisi yang sedang ditonton keluarganya itu adalah siaran Mocopat Syafaat ADiTV. Rupanya dia baru tahu kalau keluarganya juga suka mengikuti Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng melalui televisi lokal Yogyakarta ini.

Ia yang merupakan salah satu dari sekian banyak “anak” Cak Nun seperti disebut sewaktu Sinau di AOB Angkasara Pura I Juanda Sidoarjo itu menyaksikan bagaimana upaya sang Ayah alias Mbah Nun dalam menyebarkan cara berpikir yang luas, proporsional, berpijak pada titik adil dalam melihat pelbagai soal, dan itu menembus ke publik yang kian luas, salah satunya melalui tayangan televisi lokal ADiTV tersebut. Dan penyemaian keluasan berpikir itu melintasi batas-batas golongan, ormas, dan strata.

Sebagai pilot, Ia sangat mengerti arti penting sikap luas jiwa. Ia melihat bagaimana kehadiran Cak Nun telah meng-hack atau meretas kesempitan-kesempitan jiwa manusia menuju keluasan. Agar orang tidak mudah meneriaki dan menyinyiri orang lain, lebih-lebih sesama Muslim.

Kuala Lumpur, 5 Maret 2017

Sebagai pilot Ia sangat mengerti arti penting sikap luas jiwa. Ia melihat bagaimana kehadiran Cak Nun telah meng-hack atau meretas kesempitan-kesempitan…