Menegakkan Pilar Khilafah-Silmiyah

Catatan Majelis Ilmu Padhangmbulan, Jombang 8 Juli 2017, Bagian 2

Momentum Fuadussab’ah yang melacak fakta genealogi sejarah tidak untuk memuaskan hasrat romantisme. Kita tidak sedang latah seperti kaum urban yang mudik: merindu bau tanah sawah, semilir angin di bukit, gemericik air mengalir.

Fuadus-Sab'ah. Foto: Adin.
Fuadus-Sab’ah. Foto: Adin.

Apa yang dituturkan Cak Nun adalah upaya menarik garis lurus antara proyeksi masa depan, masa kini dan watak genealogi untuk membaca “suratan takdir” yang tertulis di lauhul mahfudz. Ketepatan mata pandang memproyeksi masa depan perlu dibekali kejelian membaca fakta sejarah kita sendiri. Demikian pula memahami pengajian Padhangmbulan yang mbembet itu. Kita akan kecelek kalau tujuan mengikatkan diri pada tali cinta Maiyah Padhangmbulan adalah mencapai popularitas dan eksistensisme. Padhangmbulan tidak diwataki genealogi sejarah semacam itu.

Ishlah dan Default Kepengasuhan

“Kalau hidup ibarat makanan, ada orang yang jadi nasi, sayur, garam, piring, dan ada pula yang selalu bertugas korah-korah, resik-resik piring,” ujar Cak Nun. Pembagian tugas semacam itu asal-usulnya bagaimana? Apakah ditentukan oleh kasta, level pendidikan, atau gen? Kalau kita tidak mengenal watak genealogi sejarah, masa depan kita akan remang-remang. Mata kita akan rabun menatapnya. Ringkasnya, genealogi sejumput garam jangan diproyeksikan sebagai sebutir nasi.

Terminologi itu kerap disampaikan Cak Nun melalui ibarat yang berbeda, misalnya manusia ruang dan manusia perabot. Atau kita bercermin pada keempat sahabat Rasulullah untuk menemukan kecederungan watak tugas sejarah: apakah kita ini Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin ‘Affan, ataukah Ali bin Abi Thalib? Refleksi tugas sejarah itu juga bisa dibaca melalui perwatakan tujuh ayat surat Al-Fatihah. Maiyah memiliki beragam terminologi untuk mengenal genealogi sejarah.

Rangkaian pertemuan Cak Nun dengan DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan rombongan Mabes Polri, diceritakan Cak Nun selain untuk pembelajaran politik, juga untuk melengkapi kaca mata terminologi genealogi sejarah. Peran dan fungsi Cak Nun menggarami sejarah pada pertemuan itu diwataki oleh sikap ishlah: mendamaikan dua pihak yang berseteru. Watak “garam-menggarami” tidak muncul secara tiba-tiba. Watak ini dapat dipahami melalui perjalanan sejarah keluarga Beliau hingga lahirnya Padhangmbulan dan Maiyah.

Hanya itu? Tentu tidak. Jernih melihat peta persoalan, cermat menemukan akar permasalahan hingga akurat menawarkan solusi yang merangkul dan mengayomi, diwataki oleh kandungan “darah-sejarah” itu. Default rububiyyah (kepengasuhan) yang ditawarkan Cak Nun kepada Polri adalah refleksi peran garam-menggarami itu. Terminologi surat An-Naas: rabb, malik, ilah menemukan urgensinya ketika Polri menjadi sosok yang menakutkan di mata rakyat.

Citra Polri yang didominasi oleh peran ilah: kuat dan menakutkan, sehingga sering membuat rakyat nggreweli, oleh Cak Nun ditarik mundur menuju seratus persen peran kepengasuhan (rabb). Gerak mundur ke belakang yang mengembalikan peran dan fungsi primer Polri sebagai pengasuh rakyat merupakan mudik-thariqah. Polri menemukan sabil, syari’-syariat dan atmosfir thariq-thariqahnya. Pengasuh rakyat adalah cakrawala shirathal mustaqim yang hendak digapai Polri.

Karena Khilafah Adalah Benih

Momentum demi momentum menemukan gathukan-nya. Demikian pula dengan konsep khilafah yang diidentikkan dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Akar genealogi dan makna  denotasi khilafah dilacak kembali. Khilafah bukan konsep miliki HTI saja. Khilafah adalah benih yang ditandur oleh Allah Swt di bumi. Setiap manusia diciptakan Allah sebagai khalifah. Tugas yang diemban bernama khilafah.

Benih khilafah ini ditanam dan disirami hingga berbuah dalam berbagai bentuk: kesultanan, republik, perdikan atau kerajaan. Prinsipnya, Allah Swt tidak memberi barang jadi, mengingat sejumlah ayat di Al Quran pun memiliki sifat benih. Falya’mal ‘amalan shaliha dan kategori ulama misalnya, merupakan benih yang setiap orang bisa menanamnya.

“Ketika Allah menurunkan surat tentang kategori ulama, apakah sudah ada seseorang yang disebut ulama?” tanya Cak Nun. Berangkat dari Al Quran surat Fathir: 27-28, ulama yang dimaksud bukan sudah ada orangnya, lalu Allah memberi label mereka ulama. Yang terlebih dahulu disebut Allah adalah parameter ulama, yakni yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.

Kalau indikator ulama dikaitkan dengan terminologi sabil, syari’, thariq dan shirath, bertambah jelas bagi kita, ternyata mata pandang kita tengah menghadap arah (sabil) yang tidak sepenuhnya tepat. Akibatnya, jalan (syari’ – syariat) yang dilalui tidak lebih sekadar labeling ulama dan dibangun melalui hasrat simbolisme parameter budaya, seperti kopyah, jubah, serban, jenggot, Gus, Habib. Adapun cara (thariq-thariqah) yang ditempuh juga sebatas menampilkan barang katon, kasat mata, institusional, yang mudah terperosok ke dalam lubang materialiasme. Cakrarwala shirathal mustaqim ke-ulama-an jadi tangeh-lamun digapai.

Mencermati konteks dan susunan surat Fathir ayat 27-28 mengantarkan kita pada pengertian silmu tentang ulama. Urutan konten ayat sebelum penjelasan tentang parameter ulama seolah-olah tidak terkait langsung. Cara berpikir yang linier tidak akan nyambung.

Bahkan pada surat Fathir ayat ke-27 Allah menerangkan tentang hujan, aneka ragam buah-buahan, dan gunung-gunung. Lalu dilanjutkan ayat ke-28 tentang manusia, binatang melata, binatang ternak.  Allah mengakhiri ayat ke-28 surat Fathir secara mendadak, dan tiba-tiba menjelaskan parameter ulama. “Yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah Ulama.”

Menemukan Akurasi Sabil, Syari’, Thariq, Shirath. Foto: Adin.
Menemukan Akurasi Sabil, Syari’, Thariq, Shirath. Foto: Adin.

Kita bisa mentadabburi ayat ini, misalnya sebelum “ayat ulama” adalah deskripsi keterlibatan seseorang dalam berbagai fungsi dan peran tugas sejarah. Intensitas keterlibatan seseorang saat dirinya bersentuhan dengan aneka ciptaan Allah merupakan jalan sekaligus cara menghayati kebesaran-Nya. Hingga tergetar hatinya oleh rasa yakhsyallaaha (takut kepada Allah).

Jadi, siapakah mereka? Bisa siapa saja: tukang ojek, wong ngarit, pengusaha selama diparameteri oleh yakhsyallaaha (takut kepada Allah) — merekalah Ulama.

Ketika yang Gaib Menjadi Kunci Berpikir dan Berkesadaran

Dan rasa takut kepada Allah ini tidak kasat mata, sebagaimana ombak, asin, manis, dan cantik. Yang tampak adalah garam, gula dan raut wajah seseorang. Sayangnya, kita terlalu berpedoman pada yang kasat mata, yang bisa dilihat mata. Jadi materialisme bukan hanya nafsu memburu kekayaan, namun terkait pula dengan cara berpikir yang mempedomani ilmu katon semata.

“Lebih banyak mana antara yang kelihatan dengan yang tidak kelihatan?” tanya Cak Nun. Jawabannya terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 3: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

Lebih jauh, Cak Nun memaparkan evolusi fii sittati ayyaamin (enam hari). Dari materi, materi berketumbuhan, materi berketumbuhan dan berdarah daging, materi berketumbuhan dan berdarah daging yang dianugerahi akal, hamba Allah dan khalifatullah. Beragam eksplorasi pemaknaan evolusi enam hari, dimana peradaban masa kini baru belajar menjadi manusia, sehingga human-oriented menjadi panglima. Manusia masih menyembah dan menomorsatukan dirinya.

Manusia memadat pada bulatan dirinya sendiri, sehingga alam lingkungan tidak menjadi sejawat yang berdialektika untuk mengabdi kepada Allah apalagi menjalankan tugas kekhalifahan. Simulasi kepemimpinan demokrasi yang human-oriented dan kepemimpinan tradisional yang mengkhalifahi alam semesta  memiliki perbedaan mendasar. Cak Nun menguraikannya secara gamblang.

Maiyah mengenal khilafah-silmiyah — mengkhalifahi lingkungan terdekat sebisa-bisanya. Menyayangi orang lain di sekitar kita, menebar kebaikan untuk kerabat terdekat, menjaga keamanan dan keselamatan lingkungan merupakan benih-benih khilafah-silmiyah jamaah Maiyah. Khilafah-slimiyah merupakan pengejawantahan “kerajaan-kerajaan” kecil yang kita tegakkan dengan silmi dan kelembutan Islam sebagai pilar-pilar utamanya.

Secara kasat mata Padhangmbulan dan Maiyah memang jauh dari kemewahan, kemegahan, kemasyhuran. Tidak apa-apa, karena yang kasat mata bukan pilar utamanya. Beriman kepada yang gaib menjadi kunci berpikir dan berkesadaran. Fuadussab’ah merupakan momentum untuk slulup dan menemukan titik pusaran Padhangmbulan.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image