Daur-II • 189

Menegakkan Pagar Masa Depan

“Padahal begitu lebar Allah membuka pintu pengampunan demi keselamatan manusia. “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[1] (An-Nisa: 110). Tapi kalau ada yang menyarankan Gerakan Taubat Nasional misalnya, akan diejek di sana sini…”

“Karena mereka tidak merasa salah. Tidak ada sesuatu yang perlu dicemaskan kecuali soal kenaikan pajak, kesulitan usaha ekonomi, tawur antar kampung dan kampus, kurikulum Sekolah berubah-ubah, listrik mati atau sepakbola nasional kalah. Adapun hubungan mereka dengan Allah baik-baik saja. Pak Ustadz mengumpulkan sedekah se-Nusantara sampai berjumlah trilyunan dengan tujuan agar Allah memenuhi janji-Nya akan melipatgandakan harta benda dan uang mereka”

Kali ini Seger tertawa. “Terus terang kami kadang merasa seperti Nabi Musa yang berguru kepada Nabi Khidlir. Tidak lulus tidak apa-apa, asal sempat bersilaturahmi dengan manusia istimewa yang misterius itu, sekurang-kurangnya ya bau-baunya atau cipratan air sejuknya dari jauh. Kami diajak membocorkan kapal, dikejutkan dengan anak kecil dibunuh. Kemudian kami diajak mendirikan pagar yang roboh, demi mempersiapkan masa depan…”

Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”. [2] (Al-Kahfi: 82). Yang kami pelajari dari Mbah Sot dan Pakde Paklik ibarat membangun pagar yang di bawahnya tersimpan modal masa depan…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra