Mencari Kesalahan Diri, Menemukan Kebenaran Orang Lain

Saat ada orang yang menyalahkan Cak Nun akibat “Doa Mohon Kutukan”, ada hal menarik yang disampaikan beliau, “Di setiap awal langkah, apapun dalam kehidupan ini, yang kutuding dan kucari kesalahannya adalah diriku sendiri,” demikian salah satu petikan dari Daur perdana yang berjudul, “Doaku Dosaku”.

Secara spesifik, nilai yang disampaikan oleh Cak Nun ini ialah semangat untuk terus lebih mengevaluasi dan mencari kekurangan diri daripada meneliti kesalahan dan kekurangan orang lain.

Ketika ada orang yang mengingatkan kesalahan, justru yang perlu dicari dari orang lain –sebagaimana dalam Daur yang berjudul: Belajar Alif Ba Ta Agamaku – adalah, “Aku tidak akan pernah menuduh siapapun sebagai pelaku dosa. Selalu kuyakini orang yang bukan aku sebagai calon penghuni sorga.”

Beliau tidak memosisikan diri untuk menyerang balik, tapi melakukan dua hal: Pertama, evaluasi diri barangkali memang ada kesalahan sehingga bisa diperbaiki. Kedua, tidak mencari-cari kesalahan orang yang menganggapnya salah.

Dewasa ini, kebanyakan orang lebih suka mencari-cari kesalahan orang lain daripada diri sendiri. Sangat relevan pribahasa yang mengatakan: Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak.

Di samping itu, lahir anggapan sepihak bahwa dirilah yang paling benar, sedangkan yang lain salah. Fenomena takfiri (saling mengkafirkan), membid’ahkan, menyalahkan pun tidak bisa terelakkan jika yang dilihat dari orang di luar dirinya selalu kesalahannya, tanpa peduli dengan kesalahan diri yang boleh jadi lebih parah dari orang lain.

Belum lagi konsep mengenai ‘kesalahan’ dan ‘kebenaran’ terkadang disabotase hanya untuk kepentingan diri sendiri, tanpa memperhatikan dan meneliti lebih jauh hakikatnya. Padahal, bisa jadi ada orang yang kita anggap salah, gara-gara tidak sesuai dengan cara pandang dan ilmu kita yang terbatas, padahal apa yang dia lakukan justru yang benar.

Dalam fiqih Islam ada beberapa idiom yang digunakan untuk menyebut kata benar dan salah yaitu shawab (benar) dan khatha’ (salah). Istilah ini dipakai dalam ranah perbedaan furu’iyah (parsial, cabang dalam fikih). Bila ada orang yang salah dalam masalah ini karena tidak sesuai dengan cara kita, maka sejauh yang kita lakukan adalah tetap berendah hati untuk tidak menyalahkannya secara mutlak, karena bisa jadi dia juga memiliki porsi kebenaran juga.

Ibnu Najim rahimahulllah ulama bermadzhab Hanafi memberi teladan yang baik dalam masalah ini, “Jika kita ditanya tentang madzhab kita oleh orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah furu’ (cabang fikih), kita wajib menjawab bahwa madzhab kita shawab (benar) tapi ada kemungkinan salah, sedangkan madzhab yang menyelisihi kita bisa jadi khatha` (salah) tapi bisa jadi benar.” (al-Asybah wa al-Nadhair, Ibnu Najim 330) ulama empat madzhab besar dalam fikih pun seperti Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali juga pernah memberi nasihat terkait hal ini.

Dalam masalah fikih yang furu’ saja ulama memberi teladan agar tidak merasa paling benar dan menyalahkan pihak lain, apa lagi perkara-perkara mu’amalah (interaksi sosial) yang sangat dinamis salah-benarnya.

Sedangkan level yang lebih tinggi dari shawab dan khata’ adalah haq (kebenaran yang pasti tidak berubah-ubah) dan bathil (kesalahan yang sudah pasti). Karenanya kalau kita melihat Al-Qur`an misalnya, kebenaran pada level al-haq ini hanya berasal dari Allah (QS. Al-Baqarah [2] :147) dan tidak bisa dicampuradukkan dengan kebatilan (QS. Al-Baqarah [2] : 42).

Ironisnya, dalam praktik internal umat, banyak yang terbalik-balik dalam menggunakan istilah kebenaran dan kesalahan ini. Ada orang yang melakukan kesalahan dalam kadar khata’ tapi sudah dianggap bathil. Sedangkan yang bathil diperlakukan sebagai khata’. Kebenaran sendiri dianggap haq, sedangkan kebenaran orang yang menyelisihinya dianggap shawab. Klaim seperti inilah yang acap kali menimbulkan konflik dalam internal ummat Islam.

Karena itulah, kita perlu terus waspada dan mawas diri, di antara pelajaran penting yang bisa dipetik dari statement Cak Nun dalam Daur pertama dan kedua: Pertama, jika ada orang menyalahkan kita, maka kita perlu mengevaluasi dan menemukan kesalahan diri barangkali memang kita salah dan perlu perbaikan. Kedua, tidak mencari kesalahan orang lain, tapi justru menemukan kebenaran dan kelebihannya. Alangkah Indahnya jika ini dipraktikkan dalam interaksi sosial.

Sebagai penutup, riwayat berikut maknanya sangat relevan untuk dihayati, “Beruntunglah orang yang sibuk dengan aibnya sendiri, sehingga tidak sempat memperhatikan aib orang lain.” (HR. Al-Bazzar dengan sanad yang hasan).