Mencapai Kembali Keseimbangan Indonesia

Sebelum acara Halal Bihalale Arek Suroboyo tadi malam 19 Juli 2017 di SHW Center Jl. Imam Bonjol Surabaya, penyelenggara acara yakni Nusantara.news menggelar konferensi pers untuk menyampaikan sejumlah informasi seputar acara ini kepada para wartawan.

Konferensi Pers menjelang acara Halal Bihalale Arek Suroboyo (19 Juli 2017).
Konferensi Pers menjelang acara Halal Bihalale Arek Suroboyo (19 Juli 2017).

Dalam konferensi pers ini, Sigid Haryo Wibisono selaku tuan rumah dan pemilik Nusantara.news mengajak serta Cak Nun yang malam itu diundang sebagai narasumber utama acara Halal Bihalale Arek Suroboyo ini dan beberapa tokoh senior lain seperti Hariman Siregar dan Suripto.

Dalam kesempatan press conference ini, Cak Nun diminta ikut berbicara. Sesungguhnya pertemuan ini dimanfaatkan Cak Nun untuk memberikan gambaran kepada para wartawan tentang muatan dan tema yang akan dibahas dalam acara Halal Bihalal itu dan hal ini sejalan saja adanya dengan tujuan konferensi pers ini.

Sebelum Sinau Bareng dimulai, panitia menggelar konferensi pers bagi awak media.
Sebelum Sinau Bareng dimulai, panitia menggelar konferensi pers bagi awak media.

Terlebih dahulu Cak Nun memberikan deskripsi akan posisi dirinya, “Saya ini rakyat yang sangat mencintai Indonesia. Indonesia itu ada di dalam hati saya. Nah, di dalam Indonesia yang ada di hati saya itu, ada PDIP, ada Golkar, ada semuanya. Dan karena saya menyayangi, maka saya tak bisa menolak apapun, karena Indonesia tetap lebih baik dari apapun dalam kehidupan ini. Jadi, ke manapun dan di manapun, saya ya begitu itu. Itu nomor pertama.”

Sesudah menggambarkan bagaimana posisi Indonesia dalam hatinya dan betapa cinta Beliau kepada Indonesia, kemudian Cak Nun mengemukakan sedikit paparan tentang keadaan Indonesia, “Nomor dua. Indonesia ini sedang mengalami berbagai macam ketidakseimbangan. Itu nanti tema kita di acara. Ketidakseimbangan berpikir. Ketidakseimbangan manajemen. Ketidakseimbangan apa saja. Ketidakseimbangan komponennya. Tidak seimbang antar komponennya. Tidak seimbang komprehensinya. Tidak seimbang macam-macamnya. Perppu Ormas itu hanyalah salah satu hasil ketidakseimbangan itu. Tetapi kita tidak boleh putus asa. Dan acara malam ini untuk menunjukkan bahwa kita tidak pernah putus asa.”

Kemudian Cak Nun mengilustrasikan sembari menambahkan alasan mengapa kita tidak putus asa, salah satunya dalam konteks karakter manusia Surabaya dan posisi historisnya dalam sejarah dan peta politik Indonesia, dan ini pun menurut Cak Nun dapat dielaborasi tahap per tahap dalam acara yang segera akan berlangsung. Termasuk diberikan contoh gambaran kondisi tak seimbang itu.

Apapun yang terjadi pada Indonesia, kita tidak putus asa untuk menyembuhkannya.
Apapun yang terjadi pada Indonesia, kita tidak putus asa untuk menyembuhkannya.

Tetapi, dalam konferensi pers itu, Cak Nun mengajak semuanya untuk punya prinsip dan semangat ke depan, yaitu, “Ke depan, kita harus berpikir untuk mencari siapapun, kelompok, orang, tokoh, pikiran, filosofi, cara berpikir, apapun saja, yang dasar utamanya adalah mencapai kembali keseimbangan dalam berbangsa, bernegara, berpikir, dalam bidang apa saja. Kita kembali kepada keseimbangan itu. Karena hidup adalah keseimbangan.”

Demikianlah, dalam konferensi pers ini Cak Nun menunjukkan situasi yang dialami Indonesia saat ini yakni ketidakseimbangan sebagai latar tematik acara Halal Bihahal ini, dan justru dengan fokus utama adalah upaya mencapai kembali keseimbangan itu, di antara dengan nyicil pembenahan atas ketidakseimbangan cara berpikir melalui acara malam itu. (Helmi Mustofa)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image