Daur-II • 250

Memotong-motong Agama

Kegagalan “Iqra” berabad-abad lamanya membuat Kaum Muslimin tidak hanya terpecah belah, saling membenci dan bermusuhan satu sama lain sampai pada skala dunia. Tapi juga membuat mereka belum pernah sungguh-sungguh berhasil merepresentasikan Al-Qur`an dan Islam kepada masyarakat bumi, dari urusan akhlaq, budaya, teknologi, perekonomian, maupun politik dan kenegaraan.

Di mata dunia, Islam yang tampak adalah perpecahannya, beda-beda alirannya, madzhab dan golongannya. Andaikan itu terjadi hanya pada koridor ibadah mahdloh, mungkin tidak terlalu mencolok. Tetapi ada dua yang memprihatinkan. Pertama, perbedaan golongan itu teraplikasi sampai ke penyikapan politik, pertentangan kebudayaan, bahkan sampai ke terorisme.

Kedua, suatu golongan dalam Islam tidak memerdekakan golongan lain untuk menerapkan pandangannya. Di antara mereka sangat besar kecenderungan untuk menuduh sesat, menerakakan, mengafirkan, serta berbagai macam ketidakdewasaan kemanusiaan lainnya.

“Coba lihat solusi dari Allah”, kata Mbah Sot dulu, dikutip oleh Pakde Brakodin.

Mbah Sot menguraikan. Pertama ketetapan hakiki bagi semua manusia di dunia dari Allah, bahwa “Sesungguhnya agama Tauhid ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”. [1] (Al-Anbiya: 92).

Kemudian Allah memaparkan: “Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. Kepada Kami-lah masing-masing golongan itu akan kembali”. [2] (Al-Anbiya: 93). Maka bagimu masing-masing, solusinya sederhana: “Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya”. [3] (Al-Anbiya: 94).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra