Meminta Kekuasaan atau Mengajukan Diri Jadi Pemimpin

Rasulullah Saw tidak melarang kita menjadi pemimpin tapi melarang kita meminta jadi pemimpin. Hadisnya sahih dari Bukari Muslim.

حديث عبد الرحمن بن سمرة رضي الله عنه قال : قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم : يا عبدالرحمن بن سمرة، لا تسأل الإمارة؛ فإنك إن أُوتِيتَهَا عن مسألة وُكِلْتَ إليها، وإن أوتيتها من غير مسألة أُعِنْتَ عليها.

“Wahai Abdurrahman, jangan minta jadi pemimpin. Kalau kamu jadi pemimpin karena permintaan atau keinginanmu, maka semua urusan menjadi urusanmu sendiri (Allah tidak mau tahu). Tapi kalau kamu jadi pemimpin bukan atas permintannmu atau keinginanmu, Allah akan membantumu.”

Banyak hadis yang memperingatkan betapa beratnya tanggung jawab seorang pemimpin. Banyak pemimpin yang di dunia dihinakan dan di akhirat dicampakkan ke neraka.

Seorang muslim yang menjadi pemimpin punya kewajiban untuk menegakkan agama dalam arti menegakkan keadilan, kebaikan, dan kebenaran yang merupakan inti dari ajaran agama.

Beberapa perilaku pemimpin yang disebut oleh Rasulullah sebagai penyebab mereka dihinakan dunia akhirat antara lain orientasi kekuasaan bukan pengabdian, memilih pejabat atas dasar nepotisme dan like-dislike, membohongi, menyulitkan dan menyusahkan rakyat, tebang pilih dalam penegakan hukum.

Menurut sejarawan, bisa dibedakan beberapa tipe orientasi tokoh berkaitan dengan kepemimpinan politik.

  1. Yang tidak punya orientasi politik, tapi lebih kuat orientasi iman dan ilmu, juga tidak buta politik. Contohnya Ali bin Abi Thalib. Meskipun beliau tahu bahwa Rasul pernah mengisyaratkan bahwa dialah pemimpin masa depan dan beliau memiliki semua persyaratan untuk menjadi pemimpin, tapi Ali tetap mendukung kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Usman. Setelah Usman diberontak dan dibunuh, Ali diangkat sebagai Khalifah oleh kedua kubu, yaitu kubu pemberontak dan kubu pendukung Usman.
  2. Yang punya orientasi politik tapi untuk kepentingan ummat/rakyat. Contohnya adalah tiga Khalifah sebelum Ali. Mereka menjadi Khalifah karena dipilih, bukan atas keinginan sendiri. Orientasi mereka kemaslahatan dan kepentingan umat.
  3. Yang berorientasi politik untuk kepentingan individu atau dinasti. Contohnya kebanyakan Khalifah sesudah Khulafaur Rasyidin.

Orientasi ketiga inilah yang merusak, dan sangat dominan di masa sekarang. Di dalam Al-Qur`an ada kasus Nabi Yusuf yang “meminta” jabatan sebagai “Menteri Ekuin”. Hal ini bisa dijelaskan sebagai berikut:

Sebelum Nabi Yusuf berkata kepada Raja (Yusuf: 55):

اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

“Jadikanlah aku pemegang perbendaraan negara, sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan menguasai persoalan”,

Namun sebelum itu, Raja sudah berkata kepada Yusuf (Yusuf: 54):

إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ

“Sesungguhnya hari ini kamu bagi kami adalah orang yang kuat dan terpercaya”.

Menjadi “Menteri Ekuin” itu bukan ambisi atau atas keinginan pribadi Yusuf, tapi atas perintah Allah untuk mengatasi krisis yang terjadi Mesir.

Nabi Yusuf tahu benar bahwa ekonomi Mesir benar-benar dalam keadaan yang sangat gawat, yang tidak bisa ditangani kecuali oleh orang yang benar-benar kuat dan terpercaya. Maka demi kepentingan negara dan rakyat dan atas isyarat dari Allah, Yusuf mengajukan dirinya.

Jika dihubungkan dengan tiga orientasi di awal, Yusuf jelas bukan yang ketiga. Bisa yang pertama atau kedua. Mencalonkan diri sebagai presiden dll karena prosedur demokrasi modern, bisa saja ditempuh dan mudah-mudahan tidak berdosa dengan syarat orientasinya adalah yang kedua (benar-benar untuk kepentingan ummat/rakyat).

Di sini berlaku kaidah (At-Taghabun: 16):

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image