Membumikan Markesot

Antara keawaman kita dan kedalam-luasan ilmu Mbah Markesot mungkin setara jauhnya dengan jarak bumi-langit. Terutama bagi kita yang belum tumbuh sayap, sehingga bisa mengangkasa dalam menafakkuri dan menafsiri ilmu Mbah Markesot. Hanya bisa menerka-nerka isi langit seraya mendongak dengan rindu; bagaimanakah cara membumikan langit? Menjejakkan ke tanah apa-apa yang berada di awang-awang?

Ya sudah. Kita ‘tunggangi’ saja kekuatan Revolusi Tlethong alias Revolusi Tadabbur. Meskipun tidak paham-paham amat, asalkan remahan ilmu Mbah Markesot yang kita ambil bisa membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, itu sudah ‘gugur kewajiban’. Jarak bumi-langit akan memendek dan kita menjadi semakin ‘akrab’ dengan Mbah Markesot, sebagaimana kita tak akan terasing dari Allah bila mentadabburi Al Qur`an.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana posisi ‘keakraban’ kita bersama Mbah Markesot jika dibandingkan ‘keakraban’ kita bersama Allah dan Rasulullah?

Mbah Markesot dengan ketinggian ilmunya yang terasa ruhaniah-ilmiah dan ketawadlu’annya yang sanggup menyaljukan musim panas itu, sangat menyilaukan mata kita. Tetapi, sesilau apapun, tidak ada tempat baginya dalam Segitiga Cinta antara kita-Allah-Rasulullah. Semenyilaukan apapun, tempat Mbah Markesot hanyalah dalam Bulatan yang dilingkupi oleh Segitiga Cinta. Sebagaimana pesan Mbah Markesot dalam Daur 70 – Mursyid Peradaban dari Barat dan Utara.

“Maka kalian harus berdaulat atas diri kalian sendiri, agar siap juga mendaulati saya. Mengatasi saya di dalam diri kalian. Menjadikan saya hanya sebagai tambahan unsur, misalnya alat bercermin, di dalam diri kalian. Jangan sampai saya mendominasi kedalaman jiwa kalian”

Mbah Markesot tidak menghendaki Segitiga Cinta berubah menjadi Segiempat Cinta. Mbah Markesot juga tidak menghendaki kita menjadi seorang Markesot. Mbah Markesot berharap kita menjadi manusia otentik, yang lahir dari proses penggalian diri, dan dengan ilmu yang tumbuh dari keotentikan itu, kita berdaulat mengolah bahan-bahan dari luar diri.

Manusia otentik bersedia mentadabburi siapa dan apa saja, baik itu Mbah Markesot, Peradaban Barat, maupun Utara, tetapi tidak menjadi silau olehnya. Manusia otentik sadar, bahwa jika ia masih saja disilaukan oleh sesuatu selain Allah dan Rasulullah, Segitiga Cinta akan mengecil, terlempar masuk ke dalam Bulatan, dan tertelan habis oleh keadaan.