Daur-II • 011

Membersihkan Tanpa Ikut Mengotori

Mbah Sot, demikian Brakodin menceritakan, sebenarnya sudah sangat kelelahan untuk menjelaskan kerusakan-kerusakan Negerinya sendiri yang sangat menyedihkan hatinya dan amat menguras tenaga batinnya. Satu Iqra` saja sudah tak ada habisnya. Tapi rupanya masih sempat sekilas dua kilas menyampaikan sejumlah inti permasalahannya.

“Kalian tidak harus mencari dan membaca informasi Tuhan ini: ‘Maka bagaimanakah halnya apabila mereka orang-orang munafik itu ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: ‘Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna’.’ [1] (An-Nisa: 62). Kalian sangat berhak meremehkan saya, karena saya orang tua renta ini memang bukan faktor apa-apa di Negeri kalian. Tapi kalau beberapa waktu yang dekat di depan kita ini nanti kalian mendengar apa yang Tuhan bilang ‘kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah’ – kalian tidak perlu heran, karena sekarang saya sudah menyampaikan kepada kalian”

“Sejak puluhan tahun silam pekerjaan saya adalah memperbaiki truk yang rusak, meskipun saya tidak ikut merusaknya. Membersihkan rumah yang kotor penuh tinja, padahal saya tidak ikut buang air besar. Memperbaiki bangunan rumah yang tiangnya patah, atapnya bocor, temboknya retak, atau hama tikusnya merajalela. Mendamaikan penghuni rumah itu yang tak habis-habisnya bertengkar. Baik bertengkar di antara mereka sendiri maupun berantem dengan tetangga-tetangganya. Alhasil pekerjaan saya adalah mendirikan kembali bangunan yang roboh, tanpa saya pernah merobohkannya. Menata hati dan pikiran maling yang akan dipenjara, padahal ketika akan mencuri tidak bilang saya…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra