Daur-II • 154

Membeli Selimut Api

“Berita buruk adalah berita baik. Berita yang baik adalah tentang yang buruk”, lanjut Toling.

Jitul menambahkan: “Berita tentang keburukan, yang diberitakan dengan nafsu untuk menegaskan dan menyempurnakan keburukan, itulah kebaikan”

“Bukankah memang demikian naluri alamiah manusia?”, Pakde Tarmihim menggoda dengan pertanyaan.

“Maksudnya, Pakde?”, Seger bertanya.

“Kalau ada orang membangun rumah, tak ada yang nonton, paling pol hanya menoleh secara agak khusus. Tetapi kalau ada rumah kebakaran, semua orang berduyun-duyun datang nonton”

“Tidak salah Pakde”, Jitul mencoba menjawab, “tetapi di samping orang nonton beramai-ramai, ada tim pemadam kebakaran yang datang mengatasi kebakaran. Bahkan di antara penduduk yang berkerumun, banyak juga yang berupaya ikut memadamkan api”

“Sementara media-media informasi bukan hanya tidak ikut memadamkan api, malah dalam banyak hal mereka yang menjadi api sumber kebakaran”. Toling menambahkan.

Pakde Sundusin tersenyum. “Mungkin mereka latihan untuk canggih di masa depan. Kata Mbah Sot dulu, ada orang di dunia yang hidup untuk berlatih menjadi penghuni sorga. Ada juga yang latihan menjadi penduduk neraka. Mereka mensimulasi kampungnya di neraka, rumahnya, perangkat-perangkatnya sampai tempat tidur dan selimutnya. Juga cara hidup di rumah neraka itu. Allah Maha Mengerti atas semua itu. “Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut api neraka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim[1] (Al-A’raf: 41).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra