Membangun Infrastruktur Batin Manusia yang Tangguh

Reportase Sinau Bareng di Dusun Karanganyar, Desa Gadingharjo, Sanden, Bantul, 14 November 2017

Alkisah sebuah negeri bernama Indonesia, sedang dilanda mabuk kemegahan. Tergila-gila keedanan pada pembangunan infrastruktur demi mitos kemajuan ekonomi. Biar ndak malu sama Dubai, Singapore atau Beijing mungkin. Yah begitulah kalau standar kemaluan sudah terlanjur impor, malu saja jadi ndak otentik.

Ada dua perspektif soal infrastruktur, sederhananya; pertama, membangun infrastruktur demi memacu kegiatan ekonomi, ini adalah yang diaplikasikan oleh negara-negara kolonial pada negeri jajahannya. Kedua, membangun ekonomi dari bawah kemudian infrastruktur menjadi salah satu efek dari keberhasilan ekonomi. Ini yang… Indonesia semakin jauh saja.

Foto: Adin.

Persoalan dalam membangun infrastruktur demi memacu ekonomi adalah infrastruktur belum tentu selesai sementara gejolak politik di depan mata.  Keberhasilan ekonomi masih pertaruhan, sedang yang pasti adalah utang yang menggunung. Pun, ketika infrastruktur seperti jalan tol, lintas ini-lintas itu, pelabuhan dan bandara super megah dlsb sudah rampung, toh siapa yang pertama kali menikmatinya kalau bukan kaum kelas menengah ke atas. Masyarakat desa, kaum menengah bawah? Sudra? Mereka mah apa atuh.

Puntadewa kalah dan mesti melepas Hastinapura negaranya, bahkan Drupadi permaisurinya, dalam pertaruhan di meja judi melawan Kurawa (IMF, Bank Dunia, investasi asing). Di mana sesungguhnya titik kesalahan Puntadewa? Apakah karena dia kalah? Apakah bila saat itu Puntadewa menang lantas pilihan untuk mempertaruhkan nasib bangsa menjadi benar? Tidak! Sekali-kali tidak, kalah-menang Puntadewa, biarpun suntikan dana dari ekonom dunia menjadikan kemegahan, ketertataan dan kemakmuran tetap adalah sebuah dosa meletakkan negara sebagai bahan pertaruhan ekonomi global. Tapi Puntadewa mungkin masih seribu kali mending, karena dia kurang bisa ber-talbis.

Karena kalau lagu kebangsaannya masih sama seperti yang dulu, setahu saya liriknya adalah “Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya”. Apa sudah diubah jadi “Bangunlah infrastrukturnya”?

Pembangunan bandara internasional di daerah Kulon Progo untuk mengakomodasi kebutuhan transportasi kota Yogyakarta yang sedang senang bersolek, menarik hati para wisatawan dan pemodal mau tidak mau membawa dampak sosio-kultural pada masyarakat, tidak hanya pada lokasi pembangunan bandara. Ada efek yang panjang, melebar dan jauh yang musti diantisipasi sejak dini.

Foto: Adin.

Kemana masyarakat akan mengaduhkan keresahan? Ke pemerintah? Ternyata tidak, pemerintah dari tingkat provinsi sampai pusat bukan pilihan utama bagi masyarakat untuk mengutarakan kegalauan. Pemerintah seperti sesuatu yang ghaib bagi mereka, semacam ada tapi lebih banyak tidak adanya. Kalau sewaktu-waktu ada pejabat pemerintah yang mau mendengar suara rakyatnya, biasanya di situ juga harus ada kamera tivi, wartawan dan ya mungkin kamera hape yang aktif di social media supaya bisa dijadikan alat talbis pencitraan.

“Ngakunya NKRI harga mati, malah NKRI mateni harga” kalimat yang diucapkan oleh Mbah Nun di hadapan warga ini disambut sorak, tawa dan tepuk tangan membahana. Seperti sesuatu yang mengganjal di hati warga Gandingharjo akhirnya terwakili dan disuarakan dengan lantang.

Menjelang, Mencegah Jogja Sesat Kiblat Peradaban

“Guyup Rukun dan Kuat” tema yang dipilih oleh masyarakat Karanganyar, Gandingharjo, Bantul dalam acara Sinau Bareng malam itu. Acara berlangsung tidak di lapangan atau alun-alun, bukan di tempat yang memadai untuk menampung ribuan massa. Lokasi acara ini di sebuah jalan desa, depan masjid. Menutup jalan untuk kegiatan pengajian? Wah ini kalau dipandang oleh pembela pluralisme ala perkotaan bisa-bisa dipandang kumpulan kaum intoleran anti keberagaman.

Ada kesalahkaprahan manusia modern memang dalam memandang pluralisme. Tak usah dulu membahas soal bedanya pluralitas dan pluralisme. “Plural kok kudu”, kata Mbah Nun disambut tawa-tawa miris para warga.

Siapa yang paling tahu soal keberagaman dibanding manusia desa? Mereka terbiasa beragam bahkan dengan dirinya sendiri.

Foto: Adin.

Ibu mertua saya yang dari kecil sampai seusia sekarangnya masih selalu bertani, pernah mengajarkan pada saya perbedaan suara jangkrik yang biasa ada di sawah dengan yang biasa ada di pekuburan. Ada bedanya antara jangkrik yang berbunyi “krik…krikk…krikkk” dengan yang “krrrriiiiikkkkk… krrriiiikkkk”

Nah begitu masuk ke lokasi Sinau Bareng kali ini, beragam macam nada suara jangkrik dengan tempo dan karakter vokal yang berbeda-beda terdengar jelas di telinga. Padahal kuping saya juga sedang terserang radang yang disebabkan batuk pilek berkepanjangan. Coba begitu itu apa kurang plural? Tapi aktivis pluralisme perkotaan jarang sekali membahas bhinneka tunggal ika dari perbedaan suara jangkrik. Bedanya suara kambing yang sedang kewaregan dan sedang masuk angin karena rumputnya lembab, ragam bentuk kotoran sapi dan sebagainya, kurang sexy dibahas. Ndesit. Apalagi ya itu kurang bisa dipakai untuk menghantam kaum yang dicap intoleran anti pluralisme.

Maka tak perlu heran di perkotaan kata pluralisme bisa jadi bahan bakar pertengkaran jua. Bagi manusia desa, Bhinneka Tunggal Ika adalah dengan semua yang hidup, tidak peduli si makhluk itu pernah mendengar istilah tersebut atau bahkan setuju atau tidak setuju dengan istilahnya.

Namun memang perubahan sedang di depan mata, pembangunan infrastruktur yang berkiblat pada modernisasi, pemujaan terhadap berhala batu dan semen pada akhirnya mulai menggerus kepekaan-kepekaan terhadap hal-hal silmi. Guyub dan rukun terancam, bukan saja sesama manusia, bahkan kepada suara jangkrik padahal keberagaman bersama suara jangkrik itu sebenarnya masihlah keberagaman materialistik, masih dapat tercecap panca indera, itu saja manusia modern banyak yang belum lulus lantas bagaimana Bhinneka Tunggal Ika sampai kepada hal-hal yang non-materi?

Ancaman terhadap kebersamaan dan keberagaman bukan saja datang dari pihak yang memang menyatakan menentang keberagaman, tapi juga terancam oleh yang mengaku sedang memperjuangkan keberagaman.

Foto: Adin.

“Lawan kita bukan Kristen, bukan Hindu, bukan Buddha. Lawan kita adalah penjajahan yang masuk ke dalam pikiran kita yang disebarkan melalui media-media. Di mana Islam diletakkan paling belakang. Islam selalu disalahkan, dihina dan dijelek-jelekkan oleh orang Islam sendiri yang memiliki kepentingan pada penjajahan global. Anda harus berpikir sebagai pejuang. Di mata Allah, pejuang itu yang nomer satu”, urai Mbah Nun.

Api menyala, terpancar dari mata para warga yang hadir. Bukan api permusuhan, tidak! Mereka bukan haters, mereka tidak ada urusan dengan politik puja-hujat di medsos, api dalam mata mereka adalah api harapan. Harapan yang makin buram kembali tersulut, harapan untuk tetap menjadi diri sendiri di hadapan roda zaman yang mengikis otentisitas kedirian.

Bahwa desa adalah diri kita, jati diri “Sampai nanti masuk surga, desamu tetap dibawa karena inilah titipan tuhan padamu”, ungkap Mbah Nun. Harapan makin nyala.

Suket Teki, Kondisi Politik Nasional, Desa Titipan Tuhan
Wong salah ora gelem ngaku salah
Suwe-suwe sopo wonge sek betah
Mripatku uwis ngerti sak nyatane
Kowe selak golek menangmu dewe
Tak tandur pari jebul tukule suket teki

Lagu Suket Teki yang belakangan marak oleh penyanyi-penyanyi macam Nella Kharisma atau Via Fallen dan sejenisnya atas request warga pun dilantunkan oleh bapak-bapak KiaiKanjeng dengan di-lead vocal tentu saja oleh pewaris tahta Raja Dangdut; Mas Imam Fatawi.

Foto: Adin.

Mendengar lagu ini biasanya mungkin sekadar hiburan, tapi dengan didahului oleh pembukaan-pembukaan pemahaman dan disusul dengan menajamkan penangkapan sinyal hikmah tiba-tiba lagu ini menjadi begitu miris terdengar.

Seolah lirik Suket Teki memang berbicara tentang laku lampah sebentuk pemerintahan dan pendukungnya yang “hambegugug muto wathon”  yang diingatkan sekian kali tetap saja “ora gelem ngaku salah”  yaah “suwe-suwe sopo wonge sing betah” kan. Baru kali ini saya mendengarkan lagu Suket Teki tapi beraroma progresif revolusioner.

“Ini bukan sekadar soal nanti ada bandara. Bukan sekedar soal perubahan ekonomi atau sekedar perubahan budaya. Ini tingkatannya revolusi peradaban”, jelas Mbah Nun kemudian.

Manusia Yogyakarta yang terbiasa dengan pola pandang holistik-siklikal karena dipengaruhi tatanan garis imajiner Merapi-Tugu-Kraton-Laut Kidul, pada saatnya nanti memang akan menghadapi perubahan drastis dengan “dipaksa” menghadap ke arah yang berbeda dari cara pandang mereka selama ini. Keraton yang semestinya adalah titik tengah, ahlul bayt, dengan empat masjid patok negoro di sekeliling batas kota kemudian akan jadi bokong. Merapi akan terlupakan dan Segoro Kidul hanya menampung sampah kebudayaan.

Roda ekonomi akan bertumbuh tentu saja, bagaimanapun bandara itu besarnya kan butuh tukang bersih-bersih, satpam dan yang setingkat. Hinakah menjadi pekerja kecil semacam itu? Tentu tidak, hanya kalau nanti di akhirat ditanya soal desa titipan Gusti Ingkang Murbeng Rat lan Dimadhi, gimana kita menjawabnya?

Sektor perdagangan di wilayah Selatan tentu akan naik drastis. Namun juga pertaruhannya adalah pada perubahan corak, pola pikir, selera dan cita rasa.

Foto: Adin.

Sekarang saja memang sudah terasa. Wajah Merapi telah terburamkan oleh hotel-hotel dan apartemen pencakar dan pengoyak langit. Spiritualitas dalam laku keseharian menjadi dangkal terkungkung dalam jual beli. Spiritualitas yang terpisah dari keseharian dengan segera menjadi komoditas dagang, karena dengan mudah dikalengkan, diberi merek dan diperjualbelikan menjadi pelatihan-pelatihan yoga atau pelatihan shalat khusyuk.

Apakah kita akan membiarkan kebaikan yang ditandur oleh poro leluhur menjadi “malah tukule jebul suket teki“?

Bahagia, Infrastruktur Internal

Mbah Nun juga memperkenalkan beberapa tamu yang ikut naik ke panggung malam itu. Rombongan mahasiswa muslim dari Pattani (Thailand) dan Malaysia. Yogya yang seperti di pedesaan inilah Jogja yang mereka sebut nyaman, feels like home. Mereka memang juga adalah kaum muslim yang, walau penduduk desa di negerinya, tapi sekaligus minoritas. Kehidupan ke-Islaman di tempat mereka, terutama yang dari Pattani memamg miris. Ada persambungan rasa, ada kerinduan, kebahagiaan membuncah-buncah dari para tamu ini ketika diberi kesempatan memperkenalkan diri.

Kita memang tidak memiliki lagi tokoh yang bisa menghibur, apalagi mencerahkan. “Kita ini jangankan ulama atau negarawan. Pelawak saja kita ndak punya”, ungkap Mbah Nun.

Secara ukuran matematis rasional, adakah jalan untuk memecahkan segala persoalan bangsa? Apakah para warga desa dengan segala rutinitas hidup –yang sebenarnya malah beres tanpa ada negara– berkewajiban memikirkan ini semua? Maka adakah kewajjban selain menegakkan kegembiraan serta meneguhkan kedaulatan

“Pastikan kemandirian dan kedaulatan dirimu. Karena di indonesia tidak ada kedaulatan rakyat, yang ada adalah kedaulatan petinggi-petinggi politik”, pesan Mbah Nun.

Bergembira bersama masyarakat Dusun Karanganyar, Gadingharjo, Bantul dalam Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng. (14/11)
Bergembira bersama masyarakat Dusun Karanganyar, Gadingharjo, Bantul dalam Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng. (14/11)

Hujan mengawali berlangsungnya acara. Tanpa perlu menunggu hujan berhenti, sedikit saja hujan reda, para warga yang ternyata tadinya neduh di rumah-rumah tetangga mereka langsung menghampiri, mendekat ke panggung. Dan itu hujan, itu kegembiraan. Itu harapan. Warga Karanganyar, Gaidingharjo juga berbagi kegembiraan dengan membagikan nasi bungkus. Mereka bekerja berdaulat mempersiapkan diri. Mereka berkumpul dan bergembira, bukan atas mitos sosok, bukan dengan alasan mitos-mitos dangkal, pula bukan karena moralitas kawanan asal ikut yang banyak. Kekuatan mereka adalah infrastruktur internal manusia yang tangguh menghadapi zaman baru. (MZ Fadil)

Alkisah sebuah negeri bernama Indonesia, sedang dilanda mabuk kemegahan. Tergila-gila keedanan pada pembangunan infrastruktur demi mitos kemajuan ekonomi. Biar ndak malu sama Dubai, Singapore atau Beijing mungkin. Yah begitulah kalau standar kemaluan sudah terlanjur impor, malu saja jadi ndak…