Membaca “Gerakan Membaca” Model Desa Mentoro

Tulisan ini awalnya berjudul Gerakan Literasi Model Desa Mentoro. Berhubung kata “literasi” selalu dikonotasikan dengan aktivitas membaca teks, dipersempit lagi membaca buku, dan masih lumayan ketika ditampilkan sebagai gerakan menulis—rasanya kurang sreg kalau konotasi yang sempit itu digunakan untuk memotret gerakan membaca di desa Mentoro.

Apa pasal? Gerakan membaca tidak bisa dicabut dari akar terminologi dan makna denotasi, yakni iqra’. Fi’il amr atau kata kerja perintah itu memerintahkan kita agar membaca –membaca dalam pengertian dan aktivitas yang substansial dan mendasar. Bukan sekadar membaca deretan teks, kalimat, dan paragraf.

Mentoro dan Padhangmbulan: Tumbu Ketemu Tutup

Lalu mengapa desa Mentoro? Ada apa di Mentoro, yang secara geografis cukup terpencil, tersisih dan terkesan ndeso itu? Mentoro dan Padhangmbulan tak terpisahkan—tumbu ketemu tutup. Bagaimanapun setting sejarah kelahiran Padhangmbulan, acara rutin setiap malam tanggal lima belas qomariyah itu berawal di Mentoro. Padhangmbulan lantas melahirkan beragam gerakan membaca, beranak pinak menjadi Mocopat Syafaat, Kenduri Cinta, Bangbangwetan, Gambang Syafaat, Juguran Syafaat dan sejumlah anak simpul yang terus tumbuh dan berkembang.

Gerakan membaca Padhangmbulan dimulai jauh sebelum gegap gempita gerakan literasi yang dikonotasikan sebagai gerakan membaca buku. Padhangmbulan lebih dari itu—memandu  jamaah membaca firman Allah yang tertulis pada kenyataan alam semesta (fil afaqi), kenyataan diri (fii anfusikum) dan kenyataan tekstual ayat-ayat Al-Qur`an.

Tiga serangkai kenyataan itu—kenyataan alam semesta (fil afaqi), kenyataan diri (fii anfusikum) dan kenyataan tekstual ayat-ayat Al-Quran, diramu dalam komunikasi dialogis untuk menemukan titik keseimbangan berpikir.

Kenyataan alam semesta ini bukan sebatas fakta objektif alamiah. Fenomena sosial, politik, budaya, ekonomi, pendidikan, dan sejumlah tumpukan problematika negara yang bukan negara, pemerintah yang bukan pemerintah, silang sengkarut terminologi yang tidak nyambung—dibaca, diselami, diarungi melalui gerak berpikir yang utuh dan padu.

“Tagline” Padhangmbulan

Bagaimana dengan kenyataan diri? Padhangmbulan, dengan kemandirian dan kedaulatan yang tegak di tengah situasi kebangkrutan martabat dan harga diri kemanusiaan, meneteskan kesadaran bahwa tidak ada yang bisa kita andalkan di hadapan Allah kecuali kasih sayang dan syafaat Rasulullah.

Kita adalah manusia yang dholuman jahulan: banget petenge banget bodone (QS. Al Ahazab [33]: 72). Dholuman adalah situasi hati yang sangat gelap dan jahuulan adalah produk perilaku yang sangat bodoh dari hati yang sangat gelap itu. Dalam situasi yang serba gelap perkakas dan struktur berpikir morat-marit. Di kegelapan kita tidak sadar skala ruang dan waktu. Perilaku yang dihasilkan oleh situasi gelap justru berkebalikan dengan maksud awal sebuah tindakan.

Situasi itu digambarkan Cak Nun dengan cukup lugas: pesawat yang mengalami turbulence. Semua inisiatif mencelakakan. Segala sesuatu yang biasanya benar, menjadi tidak benar. Ketika dilakukan sesuatu yang sebenarnya salah, bisa menjadi benar. Tidak ada paramenter, logika, proporsi, teori, pengetahuan dan ilmu, yang bisa diberlakukan sebagaimana pada keadaan yang normal, demikian Cak Nun menegaskan.

Apa yang diungkapkan Cak Nun tersebut tidak lain adalah tragedi peradaban. Tragedi yang oleh orang Jawa dilukiskan seperti beras kang den interi. Dan semua itu berawal dari situasi gelap yang menyergap setiap diri.

Dalam konteks kegelapan seperti itu kita perlu gondelan, menjadi makmum Rasulullah—karena berkat Nur Muhammad, alam dan jaga raya ini dicipta. Bersalawat kepada Nabi Muhammad adalah upaya mencahayai hati di tengah kegelapan.

Maka, “menata hati dan menjernihkan pikiran” yang menjadi “tagline” Padhangmbulan, tidak terutama untuk memenuhi kaidah branding sebuah produk pengajian. Menata hati adalah mencahayai hati itu sendiri, melibatkan Allah dan Rasulullah pada setiap langkah keputusan.

Dengan hati yang tertata, pikiran menjernih. Setiap langkah keputusan memiliki akurasi yang tepat dan seimbang. Tidak gebyah uyah. Kita menjadi pribadi yang berdaulat. Tidak rubuh-rubuh gedhang.

Bukan Wadah Eksistensial

Ungkapan mendekonstruksi pemikiran yang kerap disematkan pada pengajian Padhangmbulan dan majelis Maiyah bukanlah labelling yang istimewa. Hukum dekonstruksi itu berlaku pada ruang lingkup mainstream yang memandang “fayakun” adalah produk yang sudah selesai, sebagaimana kun fayakun yang diterjemahankan jadilah, maka jadi!

Ketika menyadari arus yang terus bergetar dan mengalir—bukankah hidup adalah getaran yang mengalir—kita pun kecelek: apa yang kita sangka garis finish ternyata justru menjadi awal untuk memulai sesuatu dengan kesadaran yang baru.

Saya pernah bertanya pada Cak Nang terkait hasil desain yang dipercayakan kepada saya untuk mengerjakannya. “Desain logo itu berarti sudah finish ya Cak?” Saya menerima jawaban min haitsu laa yahtasib, jawaban yang tidak saya duga sebelumnya. “Mas, di Maiyah tidak mengenal finish lho!” tulis Cak Nang di Whatsapp saya.

Keutuhan menata hati dan menjernihkan pikiran tentu saja bukan sebuah garis finish. Padhangmbulan bukanlah wadah eksistensial untuk menyatakan diri bahwa kita telah tiba di titik yang paling sempurna. Kita adalah manusia seutuhnya. Kesombangan eksistensial itu sesungguhnya mengindikasikan taraf kegelapan yang tak kalah gulita.

Gerakan membaca Padhangmbulan tidak berhenti pada kajian dholuman jahulan dan tekstual ayat-ayat Al-Quran—apalagi menggunakannya untuk memenuhi nafsu eksistensialisme materialisme. Cak Fuad sebagai salah satu marja’ Padhangmbulan tidak hanya menerjemahkan arti kata per kata lalu selesai. Setelah tafsir dipaparkan dalam berbagai sudut pemahaman, langkah selanjutnya adalah menggunakan tafsir tersebut untuk mentadabburi fenomena aktual yang tengah terjadi.

Kacamata tadabbur ini berorentasi pada perilaku yang ngajeni—produk dari ngaji adalah menjadi manusia yang aji.

Semakin jelas, gerakan membaca Padhangmbulan di desa Mentoro adalah gerakan multidimensi karena hidup tidak selalu bergerak secara linier, dikotomis, dan stereotip.