Memang Bukan Negara Islam Tapi Kan Masih Ada Shalawatan

Liputan Singkat Sinau Bareng Hari Jadi 187 Purbalingga, 16 Desember 2017

Kembali saya melihat kesungguhan, tekad, dan kesetiaan jamaah untuk mengikuti Sinau Bareng. Walau rumput alun-alun basah kuyub oleh air hujan yang mengguyur sejak sore, mereka satu per satu mengambil tempat.

Sebagian mengenakan mantel atau jas hujan, karena langit masih menyisakan rintik-rintik air hujan itu. Sebagian lain tidak berlindung apa-apa. Mereka duduk beralaskan lembaran plastik. Sementara tanah di sebelahnya becek kondisinya.

Itulah suasana fisikal awal yang tampak dan berlangsung di Alun-alun Purbalingga malam ini. Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng kali ini diselenggarakan dalam rangka HUT Kabupaten Purbalingga ke-187.

Tatkala menjelang pukul 21.00, Mbah Nun telah tiba di panggung dan berhadapan dengan seluruh jamaah, pertama kali Mbah Nun mengajak mereka yakin bahwa kesetiaan mereka pada kondisi seperti ini menunjukkan siapa yang Allah pilih untuk masa depan Indonesia.

Mbah Nun juga mengajak para hadirin menghayati dan mendaftarkan ini semua sebagai bagian dari menjalani ujian. Mbah Nun menyitir ayat al-Qur`an: belum beriman seseorang sebelum lulus menghadapi ujian.

Kemudian, Mbah Nun juga minta maaf karena harus minta mereka berdiri dan duduk lagi dalam situasi seperti itu. Tapi mereka no problem. Mereka diajak bersama-sma menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Syukur. Semua berdiri dan khidmat. Asli, mereka layak diacungi jempol.

Walau telah dimulai, jamaah terus datang mengalir memenuhi jengkal demi jengkal alun-alun Purbalingga ini. Dua menara masjid Purbalingga yang tampak terang seakan menjadi saksi akan niat suci mereka untuk mengikuti Sinau Bareng.

Apa sih arti fenomena seperti Sinau Bareng ini? Mbah Nun punya jawab yang unik dan agak beda kali ini. Begini. Di Jakarta, atau pada tataran politik nasional, kita tahu, kita dirangsang untuk tak sudah-sudah bertengkar dan mempertengkarkan antara Islam dan negara, Khilafah dan NKRI.

Coba belok dikit berpikirnya. Supaya tak tegang dan bertengkar terus. Mbah Nun kasih perspektif: Iya memang Indonesia ini bukan negara Islam atau khilafah, tapi kan yo isih ono istighotsah, shalawatan, tahlilan, pengajian, dll. Di setiap Kabupaten yang dikunjungi Mbah Nun, tema maupun muatan acaranya sangat banyak yang berkaitan dengan agama.

Uniknya lagi, banyak bupati yang secara simbolik bukan “Santri”, malah menunjukkan kemauan dan tekad untuk nyantri. Sehingga tak bisa lagi berlaku dikotomi-dikotomi lawas. Mereka bupati-bupati itu juga ingin menunjukkan bahwa secara sosial-kultural mereka juga bagian dari Islam.

Bagaimana dengan semua jamaah yang hadir ini? Ternyata, saat Mbah Nun ingin ajak mereka shalawatan di segmen awal, yakni shalawatan Nariyah, diceklah dulu mereka. Dan alhamdulillah, semua bersuara melantunkan shalawat tersebut.

Suara mereka terdengar jelas. Khusyuk dan murni. Isyarat bahwa akan terjalin ketersambungan yang kuat dan kaya, dan tak terduga antara mereka dengan Mbah Nun dan KiaiKanjeng, walau kalau lihat awalnya agak berat karena usai hujan. Tapi itulah, starting yang jossss dari interaksi batiniah Mbah Nun dan Jamaah! (HM)

Kembali saya melihat kesungguhan, tekad, dan kesetiaan jamaah untuk mengikuti Sinau Bareng. Walau rumput alun-alun basah kuyub oleh air hujan yang mengguyur sejak sore, mereka satu per satu mengambil tempat. Sebagian mengenakan mantel atau jas hujan, karena langit masih menyisakan rintik-rintik air…