Catatan Padhangmbulan, 13 Januari 2017

Memandang Sebagai Rahmat Allah Kepada Peristiwa Apa Saja

Sejak sore Jombang diguyur hujan. Pukul 20.00 WIB menjelang pengajian Padhangmbulan hujan gerimis belum reda. Listrik di desa Mentoro dan sekitarnya padam. Lengkap sudah—hujan gerimis dan listrik padam.

Jamaah Maiyah terus berdatangan. Tempat parkir di halaman SMK Global Mentoro penuh motor. Mobil berjajar memenuhi bahu jalan menuju lokasi pengajian. Hujan turun seharian mengguyur kota Jombang yang menemani sepanjang perjalanan menuju desa Mentoro tidak menyurutkan jamaah. Mereka terus mengalir berdatangan dari Jombang dan kota sekitar.

Anak-anak TPQ Halimatus Sa’diyah membuka acara pengajian Padhangmbulan dengan beberapa penampilan. Lampu penerangan seadanya menambah suasana desa seperti zaman dahulu. “Saya jadl ingat beginilah suasana tahun 60-an. Anak-anak kembali menemukan sejatinya kehidupan di desa. Ngaji, nguri-uri yang sudah lama hilang. Jadi ada lampu dan tidak sudah bukan masalah,” ungkap Cak Nun yang menyaksikan penampilan anak-anak dari ndalem kasepuhan Mentoro. Romantisme hidup di desa saat belum ada listrik hadir kembali.

Mensyukuri Rahmat Allah
Mensyukuri Rahmat Allah. Foto: Hariadi

Acara dilanjutkan ngaji tartil Al Qur`an yang dibaca oleh Bapak Abdullah Qoyim. Adapun wirid Padhangmbulan dan shalawat Nabi oleh Lek Ham dan Cak Luthfi. Bacaan wirid dan shalawat yang dilantunkan secara berjamaah di tengah hujan gerimis dan listrik padam membuat suasana terasa hangat, khusyuk, dan sarat kedalaman. Hujan bukan faktor penghalang—semua adalah rahmat dari Allah.

Harga Mati: Hanya Allah dan Rasulullah

Cak Fuad, Cak Nun, dan Kyai Muzamil sudah berada di depan jamaah. Cak Fuad memulai pemaparan pertama dan menekankan tidak ada harga mati kecuali untuk Allah dan Rasulullah. Dua kalimah syahadat merupakan sikap radikal orang beriman. Hanya Allah dan Rasulullah yang paling penting dan menjadi faktor utama dalam hidup. Yang lain akan hilang, sirna, lenyap dan dengan demikian tidak perlu menjadi harga mati.

Mengurai pengertian iman kepada akhirat dan qadla qadar, Cak Fuad memberi dasar pemikiran bahwa cita-cita dan perjuangan menegakkan kebenaran di dunia tidak berlangsung sia-sia. Tidak perlu putus asa. Cita-cita dan perjuangan tidak harus berhasil dan tidak selalu harus berhasil. Jika demikian, mengapa kita berjuang? Hasil perjuangan itu tidak harus dipanen di dunia karena panen yang sebenarnya berada di akhirat.

Di tengah perjuangan itu Allah memerintah kita supaya rajin berdoa. Secara sistematis Cak Fuad mengajak jamaah menganalisis, apakah doa yang kita mohon kepada Allah pasti terkabul? Doa pasti dikabulkan—walaupun dalam pemberian, bentuk, dan waktu yang berbeda. Diselamatkan dari hal-hal yang mencelakakan, anggota keluarga diberi kesehatan, atau apa yang diminta sengaja disimpan oleh Allah untuk simpanan akhirat—semua itu merupakan bentuk terkabulnya doa-doa kita.

“Hanya Allah yang menentukan kapan permintaan kita dipenuhi. Bahkan Allah sengaja menunda permintaan itu agar kita semakin pasrah kepada-Nya,” tutur Cak Fuad.

Tidak Gebyah-uyah (Menggeneralisasi)

Pedoman apa yang kita suka belum tentu baik buat kita dan apa yang tidak kita suka justru baik buat kita perlu dijadikan kesadaran setiap saat di tengah menjalani aktvitas sehari-hari. Hal ini kembali ditekankan Cak Fuad supaya kita tidak kehilangan sikap adil (Al ‘Adl