Wedang Uwuh (47)

Megat Ruh Pusaka Nusantara

Kedaulatan Rakyat, 19 September 2017

Meskipun suaranya maupun kemampuan nembangnya di bawah standar dan sama sekali tidak bisa diandalkan, saya bisa merasakan bahwa rengeng-rengengnya Pèncèng itu maksudnya adalah tembang Megatruh.

Memang tidak begitu nyaman di telinga, tetapi terharu juga mendengar anakku nembang Jawa. Saya berdosa selama ini tidak pernah mengajak mereka untuk memasuki rasa dan kesadaran untuk memasuki dan menghayati betapa pentingnya tembang-tembang warisan para Sesepuh sejarah, bagi setiap generasi muda yang memerlukan masa depan yang berkualitas. Masa depan yang memiliki kejelasan roh di dalam visi misinya. Masa depan yang memiliki jangkauan mutu dengan berpihak dari keluhuran masa silam. Bukan sekadar masa depan harta benda, tumpukan uang, sukses semu atau kejayaan hidup yang tidak mengandung nilai keabadian dan kesejatian.

Saya tidak membawa Gendhon, Beruk, dan Pèncèng kepada kelengkapan pengetahuan, ilmu dan pengalaman. Seharusnya tidak hanya sibuk dengan kekinian, karena kekinian adalah gerak ke depan, dan tidak ada konsep tentang masa depan kecuali mengacu pada sejauh mungkin wilayah belakang. Modernisme, tradisionalisme, kutho ndeso, atau berbagai prasangka lain dalam konsep ilmu dan pengetahuan—tidak boleh menjebak dan memenjarakan anak-anakku di salah satu petaknya. Justru sebaliknya, seluruh komponen itu seharusnya berada di dalam kandungan ilmu dan kepribadian anak-anakku.

Jangan sampai anak-anakku terpenjara di dalam salah satu kotak dari kotak-kotak hasil tipudaya para penguasa dunia: kaum toleran dan intoleran, fundamentalis atau radikalis, moderat atau qoumul ausath, aliran-aliran, madzhab, serta beribu keranjang kebodohan dan penindasan atas akal manusia. Anak-anakku perlu bisa meletakkan dangdut, jazz, qasidah, tembang dan apapun saja hasil ijtihad budaya manusia di dalam penataan budaya kepribadian mereka. Dan saya berdosa karena belum menyiapkan kelengkapan-kelengkapan itu pada anak-anak.

Yang mengherankan tapi juga menyedihkan, mengagumkan tapi juga menambah rasa bersalahku: Pèncèng me-rengeng-rengengkan Megatruh. Bukan Dhandhanggula, Asmaradana atau Sinom. Padahal selama ini saya tidak pernah mengajak mereka berpijak pada kesadaran Maskumambang, memasuki nuansa Mijil, ijtihad Kinanthi, kearifan Gambuh, uzlah Pangkur atau kenikmatan Durma. Tiba-tiba Pèncèng melantunkan Megatruh, seakan-akan sedang bergerak perlahan menuju Pucung.

Ketika saya akhirnya menemukan momentum, dengan hati-hati saya bertanya: “Kok Megatruh, Pèncèng?”

Pèncèng berhenti nembang, menoleh dan menatap saya. Sedikit tersenyum tapi tidak segera menjawab. Memang cocoknya yang beraspirasi Megatruh adalah Gendhon atau minimal Beruk. Sedangkan Pèncèng selama ini bukan anak muda yang tampak punya kecenderungan kontemplatif.

“Selama ini saya minta kalian menelusuri dan mengembarai situasi-situasi besar dan makro dari keadaan Ummat manusia saat ini”, saya melanjutkan, “saya minta kalian memasuki dan memikirkan banyak hal-hal yang kebanyakan orang tidak mempedulikan, bahkan menganggap semua hal yang kalian beberkan hanyalah sesuatu yang tidak penting untuk dipikirkan. Sampai terakhir saya minta kalian memasuki wilayah-wilayah yang berkaitan dengan persoalan Keraton. Pèncèng, apakah Megatruhmu ini kelanjutan dari proses yang selama ini kalian eksplorasi?”

Pèncèng tersenyum lagi. Tapi kemudian menggelengkan kepalanya.

“Ya dan tidak, Mbah”, jawabnya, “Ya karena memang yang saya rasakan sekarang adalah kontinuasi dari semua yang sebelumnya. Tapi tidak juga karena secara pemahaman, Megatruh ini adalah hasil dari kesalahan saya dalam memahami apa yang selama ini coba saya hayati dan simpulkan”

“Saya mendengarkan dan mencoba memahami secara seksama apa yang sebenarnya kamu maksudkan”, saya merespons.

“Mbah”, Pèncèng melanjutkan, dengan nada yang jauh lebih serius dibanding kebiasaan dan temperatur aslinya. Beruk dan Gendhon pelan-pelan kemudian mendekat dan turut mendengarkan.

“Selama ini saya dan kita berempat ini rèwèl, bahkan terlalu rèwèl terhadap keadaan sekitar kita: Indonesia, sejarah, dunia, kemajuan, pembangunan, nilai-nilai dan semuanya. Kita jadi ruwet sendiri. Padahal dunia baik-baik saja. Indonesia baik-baik saja. Keraton baik-baik saja. Ummat Islam dan semua manusia baik-baik saja. Kota saja yang lebai, terlalu mempersoalkan banyak hal yang semua orang tidak merasa bahwa itu persoalan…”

Kami semua tak sengaja bersepakat untuk tuntas mendengarkan apa saja selengkapnya yang diungkapkan oleh Pèncèng.

“Indonesia tidak kurang suatu apa. Sudah punya semua yang diperlukan untuk menempuh masa kini dan masa depan. Sudah memilih dengan mantap desain kenegaraannya, pilihan nilai-nilainya, landasan filosofi dan konstitusinya, platform pembangunannya, serta strategi kemajuannya. Semua sudah lengkap, tegak teguh dan mantap. Sudah punya Presidennya, Pemerintahnya, kelengkapan tata kelola dan kontrolnya, sistem dan manajemennya. Di luar Pemerintahan yang mantap, Indonesia punya kekuatan kelas menengah kreatif inovatif, punya kelompok-kelompok besar etnis, pemeluk Agama-agama, berbagai golongan nasionalis, punya ormas-ormas raksasa, punya tokoh-tokoh segala bidang, dengan ekspertasi dan kompetensi yang maksimal sebagaimana yang diperlukan oleh rakyat dan bangsanya. Indonesia tidak kurang suatu apa. Kapal besar NKRI bahtera agung Nusantara Indonesia Raya sedang gagah perkasa mengarungi lautan sejarah menuju cahaya masa depan yang sangat cerah”

Kami terus tekun mendengarkan.

“Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga sudah sangat mandiri dengan eksistensinya. Sudah memiliki metabolisme dan habitat sejarahnya sendiri. Sudah lengkap pelaku-pelaku dialektika pengolahan sejarahnya. Sudah matang tradisi musyawarahnya, rerembug dan paugerannya. Sudah dewasa wilayah infantrinya, kavalerinya, artilerinya, pasukan intai dan silumannya, gebyar panggung maupun rahasia gerilyanya”

Gendhon maupun Beruk terus tenang mendengarkan.

“Selama ini kita bingung mempertanyakan bagaimana sebenarnya konsep 17 Agustus 1945 mengenai penetapan patrap Keris-Pedang-Cangkul-nya. Apa itu Keraton dan adat bagi Negara. Bagaimana NKRI memandang nilai-nilai dan ruh-ruh hikmah dari masa silamnya, apa yang akan terjadi pada Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran di Surakarta, Kesultanan dan Pakualamanan di Yogya, serta seluruh Keraton ratusan di seantero Nusantara. Apa yang akan dialami oleh NKRI nantinya sesudah ia benar atau salah memahami dan memperlakukan ruh-ruh yang sudah menjadi Pusaka Nusantara berabad-abad lamanya. Tentu para priyagung di dalam Keraton-Keraton itu tidak semua Hayam Wuruk dan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Tapi juga ada Ken Arok, Amangkurat II, Nyoo Lay Waa atau Girindrawardhana. Akan tetapi segala yang mungkin menyedihkan pada riwayat sejumlah Raja, Sunan atau Sultan—tidak bisa menjadi landasan untuk Megatruh pusaka-pusaka Bangsa Nusantara…”

Tak sengaja Gendhon Beruk dan saya berpandangan satu sama lain.

Meskipun suaranya maupun kemampuan nembang-nya di bawah standar dan sama sekali tidak bisa diandalkan, saya bisa merasakan bahwa rengeng-rengeng-nya…