Mbah Nun Hadiri Reuni Abu Sittin

Di antara deretan panjang kegiatan Mbah Nun yang telah terjadwal untuk Mei ini, dan telah diawali dengan acara di Pasuruan 1 Mei lalu, kemarin pagi hingga siang, 4 Mei 2017, Mbah Nun menghadiri acara reuni Abu Sittin yang digelar di Selekta Batu Malang Jawa Timur. Abu Sittin adalah nama wadah silaturahmi alumni Pondok Modern Gontor yang usianya sudah di atas enam puluh tahun. Abu adalah bapak, dan sittin adalah enam puluh.

Mbah Nun menghadiri acara reuni Abu Sittin yang digelar di Selekta Batu Malang Jawa Timur.
Mbah Nun menghadiri acara reuni Abu Sittin yang digelar di Selekta Batu Malang Jawa Timur.

Pada usia sepuh enam puluh tahun ke atas itu, para alumni itu justru merasakan makin pentingnya saling sambung, menambah wawasan, dan mengikuti perkembangan kondisi umat Islam. Walau tidak secara eksplisit diungkapkan, tapi terasa semangat mereka bahwa mereka harus tetap update di masa ketika pergerakan informasi sedemikian cepat seperti saat ini.

Reuni yang berlangsung sejak tanggal 3 Malam sampai 4 Siang karena itu disusun dalam beberapa mata acara, yang secara keseluruhan bersuasana saling kangen, kekeluargaan, mengenang masa-masa saat nyantri, dan tentu saja menyimak beberapa sambutan di antaranya dari KH. Hasan Abdullah Sahal. Acara lebih banyak digelar di area terbuka yang dipenuhi pohon-pohon dan taman.

Selain dihadiri KH. Hasan Abdullah Sahal sebagai Pimpinan Pondok Modern Gontor dan sekaligus anggota Abu Sittin, sejumlah alumni lain seperti Din Syamsuddin, Ketua PP IKPM Gontor, juga Cak Fuad sebagai salah satu anggota Abu Sittin yang dituakan, panitia reuni ini meminta Mbah Nun untuk berbicara.

Sesungguhnya Mbah Nun sendiri merasa masih yunior di tengah-tengah anggota Abu Sittin lainnya, walaupun pada reuni yang digelar tahun sebelumnya di Magelang Mbah Nun hadir bersama KiaiKanjeng dan menyuguhkan berbagai rasa, kegembiraan, dan lontaran-lontaran penyegaran wawasan. Saat itu Mbah Nun mengapresiasi Abu Sittin ini sebagai al-Mutahabbiina fillah. Orang-orang yang saling mencintai di dalam Allah.

Sementara di Reuni Selekta Malang kemarin Mbah Nun menyampaikan beberapa hal yang secara garis besar terbagi ke dalam tiga kategori: tentang Pondok Gontor, kondisi umat Islam, dan perkembangan ilmu. Mengenai pondok modern Gontor ini, Mbah Nun mengingatkan, Pancajiwa Gontor merupakan kekuatan yang dapat diserap sebagai pilar pendidikan yang luar biasa di Indonesia. Pancajiwa tersebut adalah keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan.

Juga dengan perkembangan Gontor saat ini yang tersebar di berbagai tempat dan telah menghasilkan banyak alumni, pondok modern Darussalan Gontor bagi Mbah Nun dapat menjadi kekuatan yang punya posisi tawar tinggi di Indonesia dan berkiprah lebih banyak lagi khususnya dalam konteks keummatan.

Apa yang dikemukakan Cak Nun kiranya tidak berlebihan dan relevan dengan kondisi umat Islam saat ini. Sebagian kelompok mencap dengan mengkafirkan (takfiri) golongan lain, sementara sebaliknya golongan itu menuduh kelompok itu melakukan makar (tamkiri). Sebagaimana anggota Abu Sittin masing-masing mungkin telah ketahui, menurut Mbah Nun kondisi umat Islam saat ini seharusnya lebih dewasa dalam bersikap dan tidak mudah terprovokasi serta mengkafirkan dan menuduh makar orang lain.

Berkaitan dengan keadaan umat Islam saat itu pula, salah satu ilmu yang perlu dihayati dan direnungi, dan ini merupakan update keilmuan dari Mbah Nun, untuk menjadi pijakan bersikap adalah kandungan perintah Allah yaitu udkhulu fissilmi kaaffah, dan bukan udkhulu fil Islami kaaffah. Sebagaimana poin-poinnya telah dikupas oleh Mbah Nun di Maiyahan tiga bulan terakhir ini, dengan kesadaran Silmi setiap orang melihat orang Islam dengan rentang rengkuhan yang longgar-luas, bahwa mereka adalah juga saudara sesama muslim. Modal dasarnya adalah khusnudhdhon dan mensyukuri siapapun yang mau terus mendekat kepada Allah. Dengan Silmi orang tak mungkin mudah mengkafirkan atau menyesat-nyesatkan sesama muslim.

Atas pemikiran yang demikian itu, serta di tengah agama sedang dipadatkan menjadi identitas kelompok, sebagai contoh Mbah Nun lebih memilih tidak memihak atas situasi dan konstelasi politik yang berlangsung di Jakarta saat ini.

Selain beberapa pemikiran di atas, Mbah Nun juga sempat berbicara tentang konsep pendidikan anak pada masa sekarang, dan beberapa cerita lain di antaranya tentang Pak Harto dan rezim Orde Baru serta posisi strategis Mbah Nun dalam konteks Reformasi 1998 saat itu.

Demikianlah, suasana reuni Abu Sittin berlangsung hangat, akrab, satu kekeluargaan, dan tetap mengedepankan kesadaran ilmu dan ukhuwah. Usai acara ini, Mbah Nun kembali ke Jogja untuk malam nanti Sinau Bareng di Balai Kota Yogyakarta, dan setelah itu kembali lagi ke Malang untuk acara di Universitas Brawijaya pada 6 Mei lusa dan 7 Mei di Mapolres Malang dan rangkaian selanjutnya di Jawa Timur. (hm/ib)

Kemarin pagi hingga siang, 04 Mei 2017, Mbah Nun menghadiri acara reuni Abu Sittin yang digelar di Selekta Batu Malang Jawa Timur.