Daur-II • 180

Markesot Siang Markesot Malam

Para Pakde ternyata belum paham. “Apa kaitan ayat itu dengan Mbah kalian Markesot?”, tanya Pakde Tarmihim.

“Ayat itu kan tentang alam dan pergantian siang dan malam”, tambah Pakde Brakodin.

Seger menjawab. “Kan paginya disingsingkan. Malam ada istirahatnya. Matahari dan bulan ada urusan perhitungan”

“Ya lantas?”, Pakde Sundusin yang mengejar.

“Mbah Sot itu pagi jenis apa, malam model yang mana. Dan kapan. Mbah Sot itu pagi yang keberapa, meskipun semua pagi seakan-akan sama. Matahari dan bulan apa manfaatnya kalau hanya untuk menghitung hari, bulan, dan tahun. Apa muatan yang terkandung dalam perhitungan mengalirnya zaman ke zaman berikutnya. Pada qadla dan qadar Allah atas alur dan mungkin putaran bergantinya siang dan malam itu, Mbah Sot letaknya di mana, Allah menugasinya untuk apa, dan sekarang ini berada pada tahap apa…”

Sundusin, Tarmihim dan Brakodin berpandangan satu sama lain. Generasi muda di hadapan mereka ini luar biasa pengembaraan detail berpikirnya. Mereka menembus mozaik, lipatan, labirin, tikungan dan sela-sela yang tak kelihatan. Orang-orang tua itu tiba-tiba menjadi sangat bergembira. Mungkin belum rasional benar, tetapi kalau anak muda sudah menunjukkan bahwa ia memasuki relung-relung yang semua generasi sebelumnya relatif belum pernah memasukinya, maka masa depan ummat manusia ini agar ada semburat cahaya rasanya.

Apalagi Junit menambahkan. “Bahkan siang tidak sendirian dan malam tidak pun berdiri sendiri. “Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam”. [1] (Luqman: 29). Itu mestinya bukan sekedar fade-in fade-out teknis…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra