Markesot Enggan Ngèsot

Belum pernah terlintas di dalam benak bahwa Markesot lulusan sarjana kedokteran. Melihat papan nama bertuliskan “Buka Praktik dr. Markesot…….dijamin sembuh” pun belum pernah. Dengan mengucap segala puji syukur kehadirat Tuhan, Markesot tidak akan punya kesempatan ngorak-arik bangku perkuliahan. Apalagi di sana juga tidak ditemukan kemungkinan bahwa meriang disebabkan karena hutang menumpuk terlalu banyak. Alangkah bahagianya jika Markesot dijauhkan dari area bebas asap rokok tersebut. Bisa-bisa nanti mulutnya mengkerut dan terasa kecut karena tidak merokok dalam waktu yang lama.

Dokter, suster, dukun, tabib ada karena ada orang yang sakit. Semakin banyak orang sakit maka dibutuhkan orang yang dapat menyembuhkan orang yang sedang sakit dalam jumlah yang banyak. Kalau tidak bisa, maka dibutuhkan ahli penyembuhan yang banyak agar tidak terjadi antrian yang sangat panjang.

Kita semua mengamini bahwa negara ini sedang sakit-sakitan. Sudah mencapai stadium di mana malaikat Izrail sedang melakukan pemanasan sebelum melakukan kewajibannya. Kejahatan, korupsi, pembodohan intelektual, pengkerdilan mental, kemiskinan, jual beli harga diri dan martabat bangsa menjadi permasalahan yang harus segera disembuhkan. Pemerintah, kepolisian, KPK, Dinas Kesehatan berhasil sedikit demi sedikit melakukan kewajibanya sebagai penyembuh. Penangkapan koruptor, sosialisasi virus flu burung, privatisasi BUMN, pasar bebas dan gerakan perempuan agar lengser dari jabatannya sebagai ibu rumah tangga. Perkerjaan yang sangat mudah bagi mereka. Namun penyakit-penyakit tersebut tak kunjung hilang, mati satu tumbuh seribu.

Niat dan tujuan seseorang untuk melakukan sesuatu memang tidak bisa diketahui secara pasti. Koruptor dapat diberangus dengan cara meneliti rantai-rantai tak terlihat yang ada di dalam akal dan nurani. Begitu pula dengan kesehatan jasmani. Orang sakit tidak pernah diperiksa kondisi psikisnya, sosialnya, dan kejujuran pada dirinya. Orang zaman sekarang sudah tidak mampu lagi meraba dan merasakan hal yang tidak terlihat. Enggan untuk mengerti bagian mana yang terkena penyakit jasmani atau rohani. Sebab mengapa bisa sakit dan obat yang cocok untuk menyembuhkan penyakit. Dukunlah yang mempunyai kemampuan tersebut dibanding yang lain. Namun lagi-lagi hiburan televisi selalu mengabarkan bahwa dukun hanya sebatas ahli nyantet, menggandakan uang, pesugihan, dan mahir dalam trik-trik cabul. Parahnya, perilaku tersebut merupakan bagian dari skema pembobrokan moral bangsa.

“Yang bisa dianggap fakta kan yang diungkapkan atau dilakukan”

“Itu fakta bagi tape-recorder, bagi alat-alat perekam, bagi mesin. Tapi bagi manusia, terutama bagi manusia yang punya rohani yang bernama pikiran dan hati: yang lebih merupakan fakta justru adalah yang tidak diungkapkan”.

Logika Mistika

Jika negara sedang sakit, maka warga negara itulah yang mampu mengobati karena hanya mereka yang paham tentang negara beserta isinya. Prabu Jayabaya pernah berkata bahwa kelak wong jawa ilang jawane, orang Indonesia hilang keIndonesiaanya, manusia hilang kemanusiaanya dan dukun ilang awune. Pada akhirnya mereka lari mencari siapa sebenarnya dirinya. Namun yang mereka temukan hanyalah keangkeran malam jumat kliwon, dukun yang dimusyrik-musrikkan, dan kerikil yang bernilai puluhan juta.

Semua hal yang tak terlihat dibuat agar terlihat dan diakui oleh seluruh manusia. Materialisme diperlukan untuk bertahan hidup pada tahap pertama. Bangsa Indonsia sejak dahulu sudah tuntas pada tahapan tersebut. Tanah yang subur, sumber daya alam yang melimpah dan kebutuhan sandang, pangan, dan papan tercukupi. Sehingga bangsa Indonesia sudah memasuki tahapan Memayu hayuning bawana, melestarikan dan melindungi kekayaan alam yang ada. Orang-orang barat yang datang untuk menjajah Indonesia sangat kesusahan karena terhalang mistisisme. Mereka berpikiran bahwa membuat barang untuk memperoleh kecepatan dan bangsa Nusantara berpikiran bahwa kecepatan untuk membuat barang. Tak heran, ilmu sapu angin, rawarontek, brajamusti sangat diperlukan pada zaman dahulu, khususnya untuk membela bangsa dan negara.

Cara pandang yang terpotong-potong sangat berpengaruh terhadap pola berpikir yang tidak seimbang. Apalagi materialisme sudah menjamur di pikiran dan hati setiap manusia Indonesia. Indikator kesejahteraan adalah uang. Cita-cita setiap orang adalah untuk menjadi kaya. Mereka menuhankan yang tampak dengan membuang jauh yang tidak tampak, sehingga mereka sudah tidak bisa lagi ngudhari hal-hal yang berbau klenik, nylekuthik. Bangsa Indonesia dipaksa untuk turun ke tahapan materialisme, sedangkan bangsa penjajah sudah sejak dahulu menjalankan logika mistika. Mbah Tan Malaka sudah tahu pastinya bahwa kebudayaan dan pola berpikir yang klenik wal nylekuthik adalah jati diri dan kepribadian bangsa Indonesia.

Ketertarikan saya terhadap Daur 111 – Aktivisme Dukun memunculkan keresahan-keresahan selama tinggal di lereng Merapi. Mungkin sama yang dialami oleh Markesot yang terlihat berdiri gagah di sebelah selatan gunung. Matanya masih tajam dan penuh kewaspadaan.

“Sampeyan baru tahu sekarang? Dari dulu saya memang Dukun. Dukun itu artinya orang yang mengobati. Orang yang menolong sesamanya. Mengupayakan agar orang yang ditimpa masalah bisa keluar dari masalah. Bahwa wilayahnya macam-macam. Itu karena perkembangan peta masalah manusia. Ada urusan bayi lahir, orang sakit, orang kehilangan barang, orang ingin bangun dari penderitaan, orang ingin gembira hidupnya”.

Tiba-tiba ada suara teriakan dari utara,

”Mbah Sot, jangan sampai ngèsot lho! Jangan renggut nyawa si suster!”

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image