Daur-II • 178

Manusia Mbok ‘Mengalah’

“Maksudnya tidak sukses di mata dunia gimana itu Pakde?”, Toling bertanya.

“Karena sukses bagi Mbah Sot bukan ilusi, hologram, dan khayal keduniaan yang berlangsungnya sangat sekejap. Mbah Sot berpikir jangka panjang sampai ke kehidupan abadi yang Allah sudah memberitahukannya berulang-ulang. Sedangkan ummat manusia di bumi ini kalau omong panjang, rentangnya ya hanya kehidupan di dunia, yang sebenar-benar hanya sekejapan mata. Kalamhin bil-bashar. Mbah sangat suntuk dan khusyu dalam kenikmatan di biliknya sempit dan sunyi, namun di dalamnya terhadap ruangan yang luasnya melebihi jagat raya dan cahayanya beribu kali sinar matahari”, jelas Pakde Sundusin.

Junit tiba-tiba menyela. “Itu yang saya maksud tadi, Pakde. Dalam hal pelimpahan besi, dengan tema siapa yang menolong Allah, kemudian ada kalimat “padahal Allah tidak dilihatnya”. Tapi sebenarnya normal juga kalau umumnya manusia hanya mengacu pada apa yang tampak. Sebab sejak bayi hingga tua, melihat yang kasat mata adalah kegiatan utama mereka. Tidak ada pembelajaran di keluarga maupun sekolah tentang beribu-ribu mripat, gradasi-gradasi penglihatan, makrifat benda hingga makrifat ruh. Maka Allah memancing: apakah dalam posisi tidak melihat Allah, manusia tetap menolong-Nya”

Maklumlah. Allah sendiri berfirman: “Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat”. [1] (Al-Waqi’ah: 85). Apalagi: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. [2] (Al-An’am: 103). Sekurang-kurangnya manusia sedikit “mengalah” untuk sadar: “Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?”. [3] (Al-’Alaq: 14). Tapi profesi utama manusia memang adalah lalai. Padahal “Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan”. [4] (Ali ‘Imron: 99).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra