Manunggaling Guru lan Murid

Diam-diam ada yang mencuri perhatian saya saat pertama kali menginjakkan kaki di acara Kenduri Cinta November lalu. Sejujurnya, baru pertama kali saya mengikuti Maiyahan di area bebas seperti itu. Jika umumnya Maiyahan atau Sinau Bareng digelar di lapangan atau di tempat-tempat yang memang sengaja dipersiapkan untuk Maiyahan atau sinau bareng, tapi tidak dengan Kenduri Cinta ini. Kenduri Cinta digelar di parkiran mobil, hingga jamaah pun harus bisa legawa berdiri dan minggir sebentar saat ada mobil yang lewat di tengah-tengah Maiyahan.

Mungkin pemandangan seperti ini biasa saja bagi Anda. Tapi, bagi saya, pemandangan seperti ini cukup unik, apalagi terjadi di Jakarta hari itu. Jangankan mengalah dan minggir sebentar, di jalanan saja banyak yang tidak sabaran, parade klakson sudah menjadi pemandangan yang bertebaran.

Entah kenapa, saya yang memang tidak setiap hari berhadapan dengan ibukota merasa agak canggung saat berhadapan dengan ibukota kita ini. Mungkin saya saja yang belum begitu memahami karakter beliau. Hingga sayapun agak ‘kaget’ saat sang ibu kota tampak kaku seperti itu.

Ah, Ibu. Maafkan anakmu yang masih saja merindukan keramahanmu. Anakmu paham, Ibu. Semua ini pasti kau lakukan untuk kebaikan putra-putrimu. Anakmu mengerti, Ibu. Mesin-mesin sophistiated bin canggih itu pasti sengaja kau persiapkan untuk memudahkan pekerjaan putra-putrimu. Hanya saja, mohon maafkan anakmu ini yang masih berharap tetap bisa bercengkrama dan menangkap sisi lembutmu, Ibu.” Ah, sudahlah. Mohon lupakan saja rengekan bocah yang masih bau kencur ini.       

Saling Mengikhlaskan

Kembali ke Kenduri Cinta. Kalau boleh saya menggambarkan, Kenduri Cinta ini seolah menjadi hari raya bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Kenduri Cinta seolah menjadi oase di tengah kerontangnya ibukota. Bagaimana tidak? Setelah berkecimpung dengan segala hiruk-pikuk ibukota yang mulai menampakkan wajah ‘kekakuannya’, jamaah bisa melunasinya dengan mendapatkan berbagai kelembutan di Kenduri Cinta.

Wajah-wajah jamaah tampak sangat lega berada di sini. Mereka bisa menyimak Kenduri Cinta dengan pose bebas mereka. Tak ada larangan maupun perintah harus begitu dan begini. Semua bebas, merdeka. Ada yang duduk di atas terpal yang sudah disiapkan sembari berkenalan dengan kiri kanannya. Ada pula yang sangat menikmati duduk di atas mobil pemadam kebakaran yang diparkir di parkiran tempat ber-Kenduri Cinta.

Setidaknya, pemandangan ini juga turut menggambarkan tema malam itu. Guru-guru Peradaban. Tidak ada perbedaan antara subjek dan objek di sini. Karena semua bisa menjadi subjek. Semua bisa menjadi guru sekaligus murid. Tunggu dulu, menjadi guru sekaligus murid? Bagaimana maksudnya? Bisa kah?

Baiklah. Mari kita coba meliriknya bersama-sama. Tidak bisanya menjadi guru sekaligus murid itu ketika kita menyempitkan makna dari guru dan murid itu sendiri. Guru bukan hanya sekadar yang mengajari kita dan anak-anak kita di kelas-kelas itu saja. Lalu siapa kalau bukan hanya mereka? Siapa lagi yang bisa kita sebut sebagai guru kita? Wahai, bukankah setiap yang kita bisa mengambil pelajaran darinya itu juga sudah menjadi guru kita?

Ketika kita bisa mengambil pelajaran dari bapak penambal ban, ketika kita bisa belajar dari anak-anak yang ada di jalanan, bukankah mereka sudah menjadi guru bagi kita? Pun ketika kita tengah bermaksud belajar dari mereka, dan ternyata diam-diam mereka juga belajar kepada yang lainnya, bukankah mereka juga sudah bisa menjadi guru sekaligus murid juga? Ya, semua memang bisa menjadi guru, semua juga bisa menjadi murid.

Ini bukanlah tanpa alasan, karena seperti ini juga salah satu cara kita meneladani Kanjeng Nabi, sosok guru bangsa yang harus kita gondeli. Seperti yang telah disinggung Mbah Nun pada dini hari itu, “Maka yang menjadi guru bangsa itu, dua pulu lima nabi, harus kita pelajari.” Sedang dua puluh lima nabi itu kalau digabung akan menjadi sosok Kanjeng Nabi Muhammad itu sendiri, satu-satunya sosok yang diturunkan untuk menyempurnakan akhlak mulia di dunia ini.

Bukankah Kanjeng Nabi sendiri tidak pernah menyebut siapapun saja yang belajar kepada beliau dengan sebutan murid? Bahkan beliau menyebutnya dengan sahabat. Seolah beliau tidak ingin ini menjadi sekat di antara beliau dengan para sahabat. Beliau pun juga tidak segan-segan belajar kepada para sahabat yang lainnya. Kalau Kanjeng Nabi saja yang sudah tidak diragukan lagi keilmuan, akhlak, dan derajatnya tidak pernah memurid-muridkan orang lain, tidak segan belajar dan mengakui keilmuan orang lain, apa kabar dengan kita?

Dan sayangnya, kesadaran seperti ini yang agaknya mulai langka di tanah air kita. Tidak sedikit yang merasa bisa dan cukup dengan deretan gelar yang telah didapatkannya. Setelah mendapatkan seabrek gelar misalnya, pulang ke kampung halaman ada yang langsung merasa paling bisa, tidak mau mendengarkan yang lainnya, dan menggurui orang-orang di sekitarnya. Bahkan ada yang sampai menggunakan kepintarannya untuk menyusahkan dan merugikan yang lainnya.

Ini di antara yang menjadikan sekat di tengah masyarakat kita. Ada yang sudah merasa paling pintar, ada yang merasa paling banyak pengalamannya, dan keduanya sama-sama tidak mau saling belajar kepada yang lainnya. Padahal, keduanya sama-sama saling membutuhkan. Semua tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Karena sendiri tidak akan bisa memberikan arti.

Layakya sebuah kata yang tak akan memberikan arti kepada pembacanya, tanpa dibarengi kata-kata lainnya, hingga menjadi sebuah kalimat yang memahamkan pembacanya. Pun sebuah kalimat, ia tak akan sempurna ceritanya, tanpa ada kalimat-kalimat lain yang saling bekerja sama menyusun sebuah kesatuan cerita.

Rupanya kita memang perlu belajar saling mengikhlaskan satu sama lain. Seperti yang seringkali disinggung Mbah Nun, ketika kita sudah bisa mengikhlaskan satu sama lain, langkah kita pun jadi akan semakin ringan. Kita belajar saling mengikhlaskan untuk saling mengisi peran. Kita tidak segan mengakui kesalahan dan kekurangan kita. Untuk kemudian kita bisa belajar kepada yang lainnya. Kita belajar manunggal satu dengan yang lain. Manunggal dalam rasa, manunggaling sinau. Hingga semoga, pelan-pelan kita bisa sama-sama belajar manunggal dengan Yang Maha Tunggal.

Diam-diam ada yang mencuri perhatian saya saat pertama kali menginjakkan kaki di acara Kenduri Cinta November lalu. Sejujurnya, baru pertama kali saya mengikuti Maiyahan di area bebas seperti itu. Jika umumnya Maiyahan atau Sinau Bareng digelar di lapangan atau di tempat-tempat yang memang sengaja…