Wedang Uwuh (48)

Mana Stasiunku

Kedaulatan Rakyat, 26 September 2017

Saya bercerita kepada Gendhon, Beruk dan Pèncèng:

“40 tahunan yang lalu selama hampir lima tahun setiap malam saya di Malioboro bagian utara, barat jalan, seberang Hotel Garuda. Di antara itu, 5-6 kali sebulan saya duduk-duduk di dalam Stasiun Tugu bagian utara, sendiri atau dengan sejumlah teman. Dan seringkali lantas tertidur di salah satu bangku, hingga pagi.

Kehidupan malam di Malioboro dan Stasiun Tugu itu sejak saya berusia 17 tahun hingga 22 tahun naik turun. Di era itu belum lahir musik dangdut, belum ada pelantikan Raja Dangdut Wak Haji Rhoma Irama. Belum ada lagu “Begadang”: Begadang jangan begadang, kalau tidak ada artinya. Begadang boleh saja, kalau ada perlunya. Kalau terlalu banyak begadang, muka pucat karena darah berkurang. Kalau sering kena angin malam, segala penyakit akan mudah datang….

Tentu saja “kalau ada artinya” itu relatif, bergantung pada versi cara pandangnya, bahkan bisa bersifat individual dan subjektif. Saya pernah bersama sahabat penyair Yudhistira Adhi Nugraha Massardi berjalan kaki dari kota Wates ke Yogya. Perempatan Wirobrajan belok ke utara terus ke kanan sampai Stasiun, dan kami langsung memilih bangku untuk tidur. Dengan sahabat karib yang lain, penyair Linus Suryadi AG, mungkin puluhan kali kami tidur di Stasiun Tugu.

Kami “Suku Dalu”, begadang tiap malam di Malioboro. Tiap lewat tengah malam kami jalan menyusur Malioboro hingga selatan Kantor Pos, memutari Alun-alun, kemudian Yudonegaran, perempatan Gondomanan ke timur, bioskop Permata ke utara sampai Klitren dan bioskop Rahayu, kemudian ke barat sampai Tugu, dan balik ke selatan lagi hingga Malioboro ujung sesudah rel.

Sesuatu itu baik bagi seseorang, bisa tidak baik bagi lainnya. Begadang di Malioboro tiap malam selama saya bersekolah di SMS hingga dua tahun berikutnya. Sudah pasti begadang saya di Malioboro membuat kacau Sekolah saya, nilai raport saya sangat buruk. Bahkan aslinya tidak lulus SMA berdasarkan pencapaian angka raport saya. Untung rapat Guru dan Kepala Sekolah ambil keputusan untuk meluluskan saya. Itu demi kemashlahatan situasi Sekolah, demi menjaga suasana pembelajaran yang kondusif dan teduh, serta demi ketenangan para pengajar. Saya adalah “penyakit” yang berhasil diangkat dari Sekolah sehingga atmosfernya menjadi sehat dan cerah untuk semua siswa dan Guru-guru.

Untung “raport” Malioboro saya cukup bagus. Saya “siswa” Persada Studi Klub, yang merupakan salah satu rubrik di Mingguan “Pelopor Yogya”. Itu semacam area workshop pelatihan kreativitas sastra: cerpen, novel, dan terutama puisi. Dalam waktu lima bulan, ketika itu saya kelas 1 SMA, Umbu Landu Paranggi meloloskan saya berdiri di antara beberapa orang penyair utama Yogya. Puisi saya tidak lagi dimuat berjejal-jejal di lembaran “Parade Persada”, atau berderet-deret di “Kompetisi Persada”. Melainkan “nggaya” nangkring di rubrik elite “Sabana”. Ibarat ibadah dalam Islam, lulus masuk Sabana itu rasanya seperti naik Haji.

Di era itu ada yang namanya “Poros Bulaksumur Malioboro Gampingan”. Bulaksumur adalah wilayah kaum intelektual. Gampingan tempat kampus Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), sekarang ISI, di mana para pelukis atau perupa berkiprah. Malioboro adalah tempat pendadaran para calon Sastrawan dan Penyair. Pertemuan tiap malam di ujung utara Malioboro adalah semacam interaksi dinamis para aktivis untuk mengkreativi masa depan. Mereka kritis terhadap apa yang berlangsung, dan imajinatif inovatif terhadap apa yang bisa dibangun di hari esok. Termasuk mengkritisi langkah-langkah Pemerintah maupun perilaku masyarakat pada umumnya.

Di tengah itu semua, Stasiun Tugu adalah tempat “mengambil nafas panjang”. Tempat para aktivis mengambil jarak intelektual dari kompleksitas masalah-masalah sosial. Tempat pengolahan nilai-nilai kultural. Suasana Stasiun yang romantis, meeting point untuk siapa saja yang ingin berjumpa dengan nuansa khusus, pertemuan santai, atau kencan pacaran. Warung-warung permanen di sebelah barat belahan utara. Bangun berjalan dari barat ke timur. Para penjaja, petugas-petugas kereta api, bunyi-bunyian khas kereta mau datang dan pergi. Termasuk kalau dari Stasiun kita jalan ke arah barat, di plang Wesel 16 belok ke utara—kota akan masuk ke “Los Angeles”….

Sedemikian rupa sehingga rasanya Stasiun Tugu dan kereta api benar-benar merupakan milik rakyat Indonesia, khususnya rakyat Yogya. Saya sebagai kawulo Yogya sangat merasa ikut memiliki Stasiun Tugu. Sekarang ini saya mengalami kesulitan mencari di mana letaknya Stasiun itu gerangan…”

“Di mana letaknya Stasiun Tugu? Bagaimana maksud Mbah?”, tanya Pèncèng.

Saya bercerita kepada Gendhon, Beruk dan Pèncèng: “40 tahunan yang lalu selama hampir lima tahun setiap malam saya di Malioboro bagian utara, barat jalan…