“...kita tertinggal jauh dari keharusan kita.”
“…kita tertinggal jauh dari keharusan kita.” (Foto: Adin).

Sebelum menuju lokasi Ngaji Bareng tadi malam di Kampus II Universitas Brawijaya, Mbah Nun diminta mampir ke Kantor Jawa Pos Radar Malang untuk sejenak silaturahmi dengan pimpinan dan redaksi Radar Malang sekaligus diminta membubuhkan tanda tangan pada kenang-kenangan kehadiran Mbah Nun yang akan dipasang di ruang kerja Radar Malang bahwa Mbah Nun telah hadir di situ.

Tetapi dalam pertemuan tak lama itu, Mbah Nun diminta memberikan kultum — istilah pimpinan Radar — kepada tim redaksi yang setiap hari berkutat menulis berita sebagai bekal bagi mereka.

Mbah Nun menyampaikan secara makro bahwa zaman ini sebenarnya merupakan sesuatu yang paling menggiurkan dan paling menantang untuk dituliskan baik oleh pers maupun sastrawan atau teaterawan. Ibarat hutan, zaman ini berisi bermacam-macam hal yang sangat kaya yang dapat dituliskan.

“Tetapi masalahnya adalah seberapa besar piksel mata kita punya resolusi. Kalau hanya sekelas yang dipunya HP lawas ya tidak akan sanggup. Kita membutuhkan kamera yang tak hanya mampu close up, medium shoot, dan long shoot, tetapi yang mampu sekali mengambil gambar langsung 360 derajat,” kata Mbah Nun.

Mbah Nun menggambarkan kita butuh sudut pandang, jarak pandang, dan cara pandang terhadap zaman yang luar biasa, yang apabila sudah ditulis juga akan menumbuhkan pertanyaan: sebenarnya lakon apa yang sedang berlangsung saat ini.

Tetapi Mbah Nun lalu mengatakan bahwa semua itu ternyata tidak menarik bagi kebanyakan kita. Ibaratnya, kita adalah orang yang tertimpa rumah ambruk sehingga tidak bisa melihat ke mana-mana. “Jadi kita tertinggal jauh dari keharusan kita,” ujar Mbah Nun kepada teman-teman redaksi Radar Malang.

Uraian ini kemudian berlanjut sampai ke beberapa kondisi ketertinggalan itu, di antaranya pada soal banyaknya hal yang seharusnya kita belajar tetapi malah tidak, dan berlanjut dengan satu dua pertanyaan dari mereka. Pertanyaan yang membuat Mbah Nun bercerita tentang mengapa Beliau meninggalkan media massa tidak seperti dulu lagi dan kaitannya dengan sejarah Reformasi Politik 1998, serta sedikit menerangkan — atas pertanyaan mereka — bagaimana formula ndandani keadaan Indonesia dan posisi atau sikap Mbah Nun dalam hal itu.

Usai kultum dan dialog ringkas itu, lalu Mbah Nun segera diminta membubuhkan tanda tangan, untuk kemudian bersama-sama menuju ke lokasi Ngaji Bareng.

Mampir Kantor Radar Malang