Wedang Uwuh (35)

Mamayu Hayuning Agomo

Kedaulatan Rakyat, 20 Juni 2017

“Sebenarnya kita bicara soal Lailatul Qadar, Lailatul Fithri, Maulid Nabi, Maulid Muhammad, atau juga hal Mudik ini prioritas dan selingan saja lho”, saya memperingatkan ketiga anak saya.

“Maksudnya Mbah?”, Beruk bertanya.

“Nanti pada saatnya saya akan tetap menagih agar kalian jangan banyak bicara yang terlalu pakai mikir-mikir. Kita harus menyuguhi orang makanan jadi saja. Tinggal di-emplok. Kalau perlu tinggal ditelan atau di-untal. Jangan yang pakai mengunyah-ngunyah…”

“Maksud Mbah, tulisan di media atau tausiyah di masjid dan ceramah di forum-forum itu harus seperti fast-food?”, tanya Gendhon.

“Yang instan?”, Pèncèng nambahi.

“Ya pokoknya jangan yang dakik-dakik. Jangan pakai kata-kata besar: Negara, Demokrasi, Pluralisme, Intoleransi, Radikalisme, Teroris, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Khilafah… Itu semua kan bikin pecah kepala. Lha wong sekadar soto saja sudah relatif: ada Soto Bu Cip, Soto Pak Marto, Soto Pak Tembong, Soto Kudus, Soto Sadi, Soto Lamongan. Itu pun sekadar satu jenis soto saja berbeda rasanya, tergantung tangan yang mengolahnya…”

“Tapi soal Lailatul Qadar, Lailatul Fithri, Maulid Nabi, Maulid Muhammad dan lain-lain itu ya tetap perlu dikunyah tho, Mbah. Tetep pakai mikir. Wong sekadar satu huruf saja tidak bisa langsung ditelan”, Gendhon membantah, “sama-sama huruf  ‘o’ kan bunyinya beda antara di kata Soto dengan Podomoro. Generasi muda kayak kami ini semakin lama semakin kebingungan soal transliterasi antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa, juga Bahasa Inggris dan Bahasa Arab”

Pèncèng tertawa. “Simbah kan pernah cerita tentang walimurid orang Madura datang ke Kepala Sekolah mempamitkan anaknya yang tidak masuk sekolah karena sakit: “Pak, anak saya yang nomer loro, wetenge loro, sebab mangane radiator…

Memang orang Madura itu terbalik membunyikan “nomer loro” dengan “wetenge loro”. Kepala Sekolah kebingungan. Apalagi horor informasinya bahwa siswanya yang tidak masuk sekolah itu suka makan radiator. Padahal maksud si Madura itu “mangane ora diatur”. Orang Madura mengucapkan “diatur” dengan “diator”. Gus Dur diucapkan Gus Dor.

“Sudah, sudah”, saya memotong, “sekarang apa yang kalian sumbangkan tentang mudik Lebaran…”

Mereka terdiam beberapa saat. Kemudian Gendhon memulai. “Itu mamayu hayuning agomo”, katanya, “Makna Idulfithri dimaknai dan diejawentahkan secara budaya. Tidak hanya shalat Idulfithri, tapi juga mempraktekkan momentum saling maaf-memaafkan di alam keluarga dan sahabat karib. Akhirnya tidak sengaja niat mulia itu termobilisasikan menjadi Budaya Mudik”

“Jempol”, kata saya memuji.

Gendhon meneruskan, “tradisi budaya bukan hanya tidak bertentangan dengan Agama, melainkan bahkan memperindahnya, memperkaya praktek sosialnya. Sepanjang tidak ada pagar Syariat yang ditabrak oleh tradisi budaya itu, maka Mudik dan upaya-upaya budaya lain justru menjadikan ajaran Agama itu keindahan yang nyata dalam kehidupan. Allah suruh kita shalat, kita praktekkan dengan mewujudkan budaya sajadah, Masjid, arsitektur, tikar dan karpet, bahkan listrik dan speaker. Itu semua teknologi ikhtiar manusia, yang merupakan bagian dari budi daya kehidupan Kaum Muslimin”

Saya mengejar, “Bagaimana kalau ada yang berfatwa bahwa Nabi Muhammad tidak mengajarkan, menyuruh, menganjurkan atau mencontohi Mudik? Tidak ada Mudik di Mekah dan Madinah di zaman Nabi?”

Gendhon menjawab, “Nabi juga tidak pernah memberi contoh bikin tikar dari daun pandan atau plastik. Nabi tak pernah pakai peci dan sarung. Apalagi Masjid pakai loudspeaker, listrik, kipas angin, AC. Bahkan podium tempat Nabi berkhutbah juga tidak terbuat dari kayu jati. Nabi tidak pernah bersembahyang pakai baju merah, orange, toshka, apalagi bercelana Jeans…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image