Makin Banyak Shalawat, Makin Banyak Berkah Didapat

Liputan Singkat Sinau Bareng Hari Jadi 187 Purbalingga, 16 Desember 2017

Ada keistimewaan tersendiri pada Sinau Bareng di Alun-Alun Purbalingga malam ini, yakni karena kehadiran Marja’ Maiyah Syaikh Nursamad Kamba. Beliau ada agenda acara di Purwokerto. Tetapi, lantaran mengetahui jadwal Mbah Nun dan KiaiKanjeng yang akan berada di Purbalingga, Syaikh Nursamad mengubah rencana menjadi datang sehari lebih awal untuk bisa ikut Sinau Bareng malam ini.

“Merupakan keberkahan bagi saya bisa hadir Sinau Bareng bersama Mbah Nun,” tutur Syaikh Kamba kepada segenap hadirin. Para Jamaah Maiyah pun yang telah mengenal sosok Syaikh Kamba telah merasakan bagaimana ikatan batin antara Mbah Nun dan Syaikh Nursamad Kamba. Malam ini, kembali mereka menyaksikan saling hormat dan tawadlu di antara beliau berdua.

Sejak sore beliau sudah bersama Mbah Nun yang tiba di Purbalingga sore tadi juga. Dan di rumah transit, beliau berdua memanfaatkan kesempatan dengan menemui teman-teman Juguran Syafaat: bersilaturahmi, membimbing, dan memberikan doa kepada para Salikinal Maiyah Juguran Syafaat. Tak bisa disembunyikan rasa syukur teman-teman bahwa untuk kesekian kalinya Mbah Nun dan Syaikh Kamba berkenan hadir di Purbalingga.

Mensyukuri kehadiran Syaikh Nursamad Kamba, dalam kesempatan Sinau Bareng ini, Mbah Nun meminta beliau untuk ikut naik ke panggung dan menjadi Marja’ dalam soal-soal yang akan dibicarakan. Di antaranya, sebelum shalawatan bareng-bareng, Mbah Nun meminta Syaikh Kamba menjelaskan arti dan makna shalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

“Sepanjang saya baca, Allah memerintahkan shalawat, tapi tidak seperti pada perintah-perintah lain, untuk perintah shalawat ini, Allah memberikan contoh melalui penekanan kalimat awal ayatnya Innallaha wa malaikatahu… Di dalam bahasa Arab, secara harfiah yushollu atau nusholli artinya adalah berdoa atau mendoakan. Jadi pada ayat itu malaikat mendoakan Nabi. Sementara pada ayat lain, Inna fatahna laka fathan mubiina… (ila akhirhihi), Allah telah mengampuni dosa Nabi Muhammad. Rasul sebenarnya sudah tak butuh apa-apa. Tapi mengapa masih ada shalawat, dan diberi contoh langsung oleh Allah?,” Syaikh mengawali memaparkan.

Jawaban atas pertanyaan di atas adalah karena begitu besar posisi Rasul di sisi Allah. Inilah konsep Nur Muhammad yang Jamaah Maiyah sudah pahami. Syaikh Kamba menjelaskan analogi atau cara lain memahami Nur Muhammad Pada mulanya itu, makhluk sudah tercipta, tapi belum terlihat. Masih potensi. Masih gelap. Seperti ruang hampa. Begitu cahaya atau sinar matahari datang, ruangan tadi jadi terlihat isi-isinya. Dari potensi menjadi aktual. Itulah fungsi Nur Muhammad. Dialah cahaya yang menerangi potensi menjadi ada atau aktual.

Kemudian ihwal mengapa kita bershalawat, Syaikh menyitir penjelasan yang juga sudah sering dipahami bahwa Nabi itu ibarat sebuah wadah. Airnya sudah penuh. Ketika ditambahi, akan meleleh, mengalir ke bawah, dan menyebar ke mana-mana. Filosofinya: semakin banyak shalawat, semakin banyak berkah yang didapat.

Tentang hal ini, Syaikh Kamba bercerita mengenai apa yang dialami Syaikh Abdul Halim Mahmud. Beliau adalah Syaikh al-Azhar pada tahun 60-an. Pada saat itu Syaikh Halim berbeda pendapat dengan Gamal Abdun Naseer menyangkut harta kekayaan Universitas Al-Azhar. Menurut dia, harta tersebut tak boleh dikuasai pemerintah. Tapi dia juga tak ingin konfrontasi dengan Gamal Abdun Nasser. Ia merenung dan berpikir. Sampai pada suatu malam ketika Ia shalat Tahajjud, lampu mati, gelap total, dan ada secercah cahaya masuk. Cahaya itu berbentuk shalawat, yang kemudian ditulis atau diabadikan di lingkungan Tarekat Syadziliah: Allahumma Sholli Sholata Jalalin… (ila akhirihi). Sejak malam itu, persoalan yang dihadapi Syaikh Abdul Halim menemukan jalan keluar, beres, dan selesai.

Syaikh Kamba kemudian bercerita aecara khusus sejarah Shalawat Nariyah. Shalawat ini sudah ada sejak masa Nabi Muhammad. Pada waktu itu, banyak Sahabat yang menyusun kalimat shalawat, dan ditolak oleh Nabi kecuali satu shalawat yang disusun oleh seseorang bernama Nariyah. Dia kemudian dikenal dengan Syaikh Nariyah. Shalawatnya bernama Shalawat Nariyah. Saking gembira hatinya karena diterima Kanjeng Nabi, Syaikh Nariyah  membacakan shalawatnya sebanyak 4444 kali. Sejak saat itu, hajat-hajatnya dikabulkan Allah Swt.

Seperti pada Sinau Bareng di berbagai tempat, malam ini shalawat Nariyah dilantunkan bersama KiaiKanjeng, dan apiknya, beberapa orang dari jamaah diminta Mbah Nun untuk memimpin. Naiklah empat orang muda bersama vokalis KK memimpin shalawat Nariyah.

Rasanya lengkap mengenai shalawat ini. Dilantunkan, tetapi dilengkapi terlebih dahulu dengan ilmu dan sejarahnya. Bersamaan shalawat Nariyah dibaca, suasana Sinau Bareng bergerak menuju lebih padat, solid, hangat, dan tenang hawanya. (HM)

Ada keistimewaan tersendiri pada Sinau Bareng di Alun-Alun Purbalingga malam ini, yakni karena kehadiran Marja’ Maiyah Syaikh Nursamad Kamba. Beliau ada agenda acara di Purwokerto. Tetapi, lantaran mengetahui jadwal Mbah Nun dan KiaiKanjeng yang akan berada di Purbalingga, Syaikh Nursamad mengubah…