Majelis Ilmu Gambang Syafaat 25 Mei 2017

Belajar bersama ngungkupi permasalahan yang menimpa bangsa hari ini.
Belajar bersama mentakabburi permasalahan yang menimpa bangsa hari ini.

Udara cukup panas meliputi pelataran Masjid Baiturrahman Semarang malam jumat 25 Mei ini. Namun itu tidak berarti dibanding kesejukan hati dari suasana kegembiraan yang hadir. Ikatan batin yang menyatukan jamaah menambah kuatnya  kesejukan itu dalam mengumpulkan butiran air hikmah dari perjumpaan ini.

Sebuah perjumpaan cinta antar jamaah Maiyah Gambang Syafaat dengan Mbah Nun, Sujiwo Tedjo, Bu Anne Rasmussen, Pak Toto Rahardjo, Anis Sholeh Baasin, Kyai Muzammil, Pak Ilyas, dan Pak Saratri. Kegembiraan demi kegembiraan hadir dalam cinta itu, dari dialektika komunikasi yang asik antara Mbah Nun, Mbah Tedjo, dan Bu Anne.

Di awal Mbah Nun memberi beberapa pijakan mendasar untuk bekal jamaah menemukan keseimbangan dari apa-apa yang akan dipaparkan dari beliau-beliau nantinya. Beberapa hal yang menjadi pijakan agar menjadi metode untuk ngukupi atau mentakabburi beragam permasalahan bangsa yang mau tak mau menimpa kita. Di antaranya metode dari surah An-Nas: Rabb, Malik, Ilah. Kemudian tentang Qadha, Iradah, Amr. Dan juga menyambung seperti yang disampaikan di beberapa Maiyahan terakhir di UII, Imogiri, dan semalam di Bantul, yakni tentang simbol-simbol jalan di Al-Qur`an: Sabil, Syari’, Thariq, Shirath.

Pembelajaran di Maiyah tidak hanya didapat dari apa yang dipaparkan Mbah Nun, Mbah Tedjo, Pak Toto, dan yang lain, namun peristiwa-peristiwa yang berlangsung di Maiyahan adalah pembelajaran yang bernilai. Kolaborasi indah yang penuh improvisasi yang diawali Bu Anne dengan petikan gitar gambusnya yang menyanyikan sebuah lagu Arab yang sederhana, lalu diisi sebuah tembang Jawa oleh Mbah Tedjo, dan menukik menjadi Renungkanlah milik M. Ashabi yang dipimpin Mbah Nun yang dibalut iringan musik dari Ranu Band.

Salah satu pemaknaan yang bisa ditangkap dari kolaborasi dan improvisasi ini adalah kebaikan dan keindahan yang dihasilkan. Setiap orang punya kebenarannya masing-masing. Kebenaran musikal baik dari Bu Anne maupun Mbah Tedjo tidak dipaksakan sehingga berbenturan, namun dihikmahi sehingga outputnya kegembiraan bersama.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image