Maiyah Rahmatan Lil ‘Alamin

Empat tahun menjadi “gelandangan” di negeri orang, menelusuri hutan belantara, berpetualang mencari jati diri. Orang mungkin beranggapan kuliah di luar negeri adalah hal yang wah. Tapi, buat aku, kuliah di luar negeri adalah belajar bagaimana meneropong Nusantara dengan kamera long shoot. Karena kita baru akan melihat sesuatu keseluruhannya justru ketika kita mengambil jarak darinya.

Di sini, seringkali aku bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi dengan rumahku Indonesia, kenapa semakin hari kita malah berjalan ke belakang. Bahkan sempat aku curahkan semua keluh kesahku semua itu dalam sebuah arikel dengan judul “Wǒ de yìnní mèng” atau Indonesia Impianku, salah satu artikel yang sempat diterbitkan koran sekolah dan salah satu koran Berbahasa Mandarin di Surabaya. Bahkan ketika diwawancara oleh Xinhua News Agency, salah satu koran di China, saya mengungkapkan lagi mimpiku tentang Indonesia itu.

Jiwa muda yang selalu membara, yang selalu ingin tahu inilah yang membuatku mengenal Maiyah. Maiyah yang sudah ada beberapa tahun di Indonesia, justru baru aku kenal ketika aku memasuki semester 5 di sini. Dan di Maiyah, perlahan aku menemukan jawaban atas segala persoalan dalam hidupku, bahkan persoalan global. Di Maiyah, kami dikasih pelok, terus kita tanam sendiri di kebun semesta. Pendidikan di Maiyah sungguh berbeda dengan pendidikan yang selama ini aku tempuh di China, di mana murid hanya dijadikan objek. Sedangkan di Maiyah kami dijadikan subjek. Yang menentukan sendiri, mau mengambil pelok atau membuangnya. Intinya kita diajari berdaulat. Lucu memang, justru dalam Maiyah aku baru menemukan ajaran China kuno yakni “lebih baik memberi orang jala daripada ikan”, sedangkan di sini ajaran nenek moyang mereka tidak diterapkan.

Dulu pernah aku baca sebuah artikel yang membahas “kebahagiaan”. Di artikel itu penulis mempertanyakan apa yang disebut kebahagiaan. Aku selalu mepertanyakan makna kebahagiaan, apakah kebahagiaan hanya diukur dengan materi seperti penulis kemukakan?  Keahagiaan adalah nilai hakiki yang ada dalam semesta jiwa, keahagiaan tidak ada hubungannya dengan materi seperti yang selama ini orang pahami, inilah pemahaman yang aku temukan di Maiyah.

Bahwa keberhasilan dan kebahagiaan hidupmu tidak terutama tergantung pada keadaan-keadaan yang baik atau buruk di luar dirimu, melainkan tergantung pada kemampuan ilmu dan mentalmu menyikapi keadaan-keadaan itu” —Daur 07 (Anak Asuh Bernama Indonesia).

Permasalahan Indonesia semakin sengkarut, semakin mbulêt, semakin tidak jelas. Dulu saya seolah frustasi dengan keadaan-keadaan Indonesia. Tapi setelah mengenal Maiyah, dan meihat jamaahnya kebanyakan usia muda, saya mulai optimis kembali. Indonesia akan bangkit. China sekarang sendiri sedang memasuki permasalahan di mana usia non produktif penduduk mereka lebih banyak dibandingkan usia produktif, dan ini berbanding terbalik dengan Indonesia.

Sebenarnya permasalahan pribadi atau masalah global bisa teratasi asal manusia mau berpuasa. Berpuasa di sini tidak hanya menahan makan, tapi juga berpuasa terhadap budaya hedonisme yang selama ini kebanyakan orang buru. Hidup yang paling enak adalah ber-Maiyah, atau bersama-sama. Paling enak itu kebersamaan sekalipun tidak ada uang. Tapi nyatanya sekarang manusia lebih memilih kenyang sendiri dan senang melihat orang lain kelaparan. Bahkan manusia saat ini tega membunuh saudaranya sendiri demi memenuhi keutuhan pribadi. Juga manusia tak jarang rela telanjang asal kenyang.

Kalau perpecahan ini ingin segera kita atasi, maka kita harus mulai menanam pelok-pelok kebaikan. Kita terapkan nilai puasa dalam segala aspek kehidupan. Tidak perlu muluk-muluk menunggu jadi pejabat atau kaya baru berbuat baik, toh nyatanya banyak orang setelah jadi pejabat atau orang kaya, mereka malah diperudak. Tapi lucunya, orang makin banyak yang memburu itu semua. Kita ubah semua yang salah mulai dari diri kita sendiri, keluarga kita, lalu lingkungan sekitar kita.

Indonesia impianku adalah Indonesia yang ber-Maiyah. Indonesia yang mau mati kelaparan asal bermartabat. Indonesia yang mau berpuasa dari budaya latah dan mengejar-ngejar budaya hedonisme. Kalau Indonesia sudah bisa berpuasa, maka Indonesia akan menjadi rahmatan lil alamin. Ini hanya masalah waktu, masalah waktu di saat manusia tidak main-main lagi dengan Tuhannya.

Xiamen, China, 4 Januari 2017

Kalau Indonesia sudah bisa berpuasa, maka Indonesia akan menjadi rahmatan lil alamin. Ini hanya masalah waktu, masalah waktu di saat manusia tidak…