Maiyah: Ngaji, Ngajeni, Aji

Saya pernah nekad memberi nama Sinau Bareng untuk acara di dusun terpencil pesisir selatan kota Malang. Pesertanya adalah guru TK, guru SD, Ibu-ibu dusun. Tidak seperti kemasan acara seminar atau workshop di hotel atau auditorium megah. Suasana Sinau Bareng itu lebih kental seperti pengajian. Lesehan di ruangan semi terbuka. Di halaman gedung itu dibeberi terpal.

Bekerja sama dengan para sahabat penggiat pendidikan di dusun itu, saya tidak memiliki pilihan selain menawarkan situasi belajar bersama, sinau bareng, ngaji bareng, mukti bareng. Formula itu, jujur, saya peroleh dari Maiyah, terutama dari Padhangmbulan. Tidak menempatkan diri sebagai satu-satunya “narasumber”, melainkan memainkan peran distribusi informasi dan ilmu kepada mereka yang hadir—Sinau Bareng model orang dusun itu berjalan gayeng.

Pagi itu Sinau Bareng berlangsung empat jam—masih kalah jauh dengan durasi Maiyahan hingga tujuh jam dan menjelang dini hari pula. Rekor “seminar” ala kadarnya itu patut disyukuri. Warga dusun tumplek-blek, guyub rukun, nyengkuyung dan belajar bersama. Selain tema yang dibahas cukup sederhana, seputar pendidikan anak, acara itu juga mendidik saya agar terampil memelihara suasana kebersamaan bahwa setiap orang memiliki keahlian menurut pengalaman mereka masing-masing.

Jamaah Maiyah atau teman-teman penggerak simpul pasti memiliki pengalaman serupa. Membuka diri selebar-lebarnya, menampung segala kemungkinan potensi jamaah, mengayomi setiap watak dialog, merangkul warna-warni mozaik pemikiran—sambil tetap menjaga keseimbangan dan keadilan cara berpikir—menjadi pintu masuk untuk saling ngajeni sesama.

Sikap ngajeni itu bukan sekadar menampung bermacam-macam gagasan dari jamaah, menyimak setiap pembicaraan, atau mencermati alur berpikir—bahkan mereka yang terbuang atau dibuang akan kembali ditampung, dirangkul, dipeluk oleh kemesraan dan kasih sayang. Salim, salaman, salamatan: saling menyelamatkan (salim) yang ditandai oleh “ikrar” jabat tangan (salaman) dan komitmen menjaga keselamatan bersama (salamatan).

Maiyah adalah lingkaran kebersamaan, lingkaran kemesraan, lingkaran paseduluran, majelis ilmu yang tidak saling mbagusi atau minteri. Masing-masing orang adalah guru yang me-murid, murid yang me-guru. Kalau memakai terminologi sabil, syari’, dan thariq, lingkaran keseimbangan adalah sabil, arah, mata angin bagi hidup bebrayan. Yang diperlukan tidak hanya akurasi memandang nasi sebagai nasi, melainkan kejujuran untuk ngajeni dan memperlakukan nasi sebagai nasi.

Dengan demikian Maiyah adalah jalan (syari’) yang di-thariqah-i oleh kesanggupan saling ngajeni: ngajeni sesama manusia, ngajeni kenyataan koordinat ruang dan waktu, ngajeni jatah hidup di dunia yang sangat singkat ini, ngajeni batu, kayu, angin, air, daun…

Ungkapan yang kerap disampaikan Mbah Nun, kita adalah makhluk surga yang sejenak saja bertugas di bumi didasari oleh kesungguhan ngajeni misi penciptaan manusia. Mbah Nun mengajak kita slulup untuk menemukan kesadaran sebagai manusia yang aji, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai duta-Nya di bumi.

Bagaimana kita tidak ngajeni setiap ciptaan Allah, sedangkan tidak ada sesuatu pun yang diciptakan sia-sia dan main-main? Produk perilaku rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilaa adalah sikap ngajeni itu.

Dan lihatlah bagaimana Mbah Nun ngajeni orang-orang yang terbuang atau dibuang. Siapakah mereka? Adalah yang kalah dan dikalahkan oleh kekacauan pola kesadaran yang nir-logika; yang terhempas oleh ambisi politik dan nafsu berkuasa; yang tersingkir oleh subjektivisme tafsir penguasa; yang terperosok ke dalam jurang gelap hidup tanpa martabat dan harga diri; yang tiba-tiba tali-temali kekuasaannya nglokro oleh kesombongan mereka sendiri: sopo siro sopo ingsun; yang di hari tuanya kecelek dan menyadari ternyata ambisi duniawi itu njekethek dan lucu.

Ketika arus utama pendidikan sedang dikerangkeng oleh human-oriented, Maiyah telah menginjakkan kaki kesadarannya di evolusi kesadaran hamba dan khalifah. Terminologi ini tidak perlu dimuluk-mulukkan. Sederhana saja aplikasinya: Bertanam Kesuburan di Kebun-kebun Maiyah adalah akurasi sikap silmi yang siapa saja bisa mengerjakannya. Asalkan jelas dan akurat peta primer-wajib serta sekunder-sunnahnya, cukup sudah persemaian bibit-bibit itu kita tanam di kebun Maiyah kita masing-masing.

Di tengah jamaah yang menyemut saya mendengar obrolan seorang kawan. “Aku datang ke Maiyah untuk menemukan kembali diriku, diri manusiaku, diri kehambaanku, diri kekhalifahanku. Shirothol mustaqim sebagai manusia yang aji membayang di garis cakrawala.” Saya catat kalimat itu karena ngaji, ngajeni dan aji juga aku temukan di Maiyah. []

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image