Maiyah Menyindir Dirinya Sendiri

Catatan Majelis Ilmu Mocopat Syafaat, Yogyakarta 17 Juli 2017

Tanggal 17 Juli 2017, hari pertama para pelajar kembali bersekolah setelah liburan panjang. Ini juga adalah Mocopat Syafaat pertama bakda Idul Fitri 1438 H.

Mocopat Syafaat Juli 2017
Mocopat Syafaat Juli 2017 (Foto: Adin, Dok: Progress)

Saya sampai di TKIT Alhamdulillah, sudah sekitar pukul 20.30 WIB. Cuaca belakangan dingin menusuk. Seharusnya saya bisa sempat melihat bahwa di backdrop panggung ada sebuah tulisan yang dimaksudkan sebagai tema besar malam ini “walaa tansa nashibaka mina-dunya” tetapi saya tidak sempat melihatnya. Saya baru tahu pada kemudian waktu dari laporan singkat di Foto Headline website caknun.com yang tayang malam itu juga. Saya lengah, mungkin karena dingin, mungkin karena lapar.

Saya lantas bergegas ke warung di belakang, memesan nasi rames dan sempat mendengar pembacaan ayat Al Qur’an yang tengah berlangsung. Saya menyimpulkan surat yang dibacakan adalah QS Ali Imron. Nasi rames khatam, sebelum satu surat selesai.

Setelah pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an Pak Toto beserta Mas Helmi dan Mas Jamal pun mengisi panggung. Beliau bertiga bergantian memandu diskusi pembuka kali itu dengan membacakan dan sedikit demi sedikit mengulas pesan Mbah Nun yang berjudul “Bertanam Kesuburan Di Kebun Maiyah”.

Dalam tulisan pesan tersebut, sebagaimana yang dielaborasi oleh tiga pembuka panggung malam itu, bisa kita tangkap pesan dari Mbah Nun untuk mempertegas bahwa sekalipun begitu besar cinta Maiyah pada Indonesia, namun sudah saatnya Indonesia dan beberapa hal lain diletakkan pada posisi sekunder. JM diajak untuk kembali, balik haluan, memprimerkan keselamatan dan kedaulatan diri sendiri, keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Timing, saya berpikir soal timing dan momentum.

Sebab dalam kumpulan-kumpulan lain, bila ada yang menyarankan kita untuk kembali memikirkan dan berkonsentrasi pada keterpenuhan kebutuhan diri sendiri dan keluarga, kemungkinan besar kita akan ditertawakan.

Mengapa? Karena dalam banyak kumpulan, komunitas, organisasi, bahkan mungkin tarekat formal, apalagi perusahaan, negara sekalipun memang urusan utamanya adalah soal itu. Soal kenyang sendiri dulu. Sementara, yang menjadi sumber permasalahan seringnya karena komunitas, lembaga, organisasi apapun itu bahkan negara, selalu meminta manusia-manusia di dalamnya untuk mem-primer-kan si organsisasi atau komunitas itu sendiri.

Saya berpikir soal timing, dan sempat mengetahui dari timeline berita bahwa malam itu Setya Novanto resmi dijadikan tersangka dalam kasus E-KTP, tepat sebulan lalu Mbah Nun memang mengutarakan bahwa satu nama akan kembali masuk dalam daftar tersangka pada kasus ini dengan ciri mirip orang itulah.

Sementara itu Mother of The Dragon sudah menjadi kekuatan politik baru di seberang Narrow Sea, Jon Snow dan Sansa berkoalisi di North, Cersei Lannister menggantikan putranya bertahta di Weseteros. Iya, Game of Throne season 7 juga sedang tayang perdana malam ini.

“when you play the game of thrones, you win or you die. There is no middle ground”

“Maiyah baru kali ini menyindir dirinya sendiri,” kata Mbah Nun ketika sudah berada di panggung di tengah-tengah jamaah.

Sebelum itu diberi kesempatan kepada Pak Arsanto Adi Nugroho yang berasal dari Solo. Beliau merupakan seorang pelaku bisnis dan aktif di Suluk Surakartan. Pak Arsanto menjabarkan aksi bela ulama, bela kiai, bela pesantren versinya. Sesuatu yang beliau sebut merupakan gerakan pemberdayaan ekonomi, agar pesantrean-pesantren dan ulama-ulama tidak bergantung pada pihak manapun. Kita diharapkan mengutamakan mengkonsumsi dan membeli prodak-prodak sesama kita sendiri dulu. Pak Arsanto cukup tangkas juga menjelaskan berbagai fenomena cengkeraman kapitalisme, bahkan dari sekedar air kemasan saja kita sudah dikuasai.

Siapa yang Dimaksud Ulama

Aksi bela ulama ala Pak Arsanto kemudian menjadi bahan pembuka untuk kita diajak mempertanyakan kembali mengenai apa arti ulama? Di masyarakat kita kata ulama memang sudah seperti onggokan yang pasti bentuknya, sudah seperti itu. Walau agama-agama turun untuk membongkar kelas di antara manusia, namun seiring berjalannya waktu manusia justru membikin agama sebagai legitimasi kelas-kelas sosial. Kata Ulama pun juga menjadi seolah sebuah kelas sendiri.

Mocopat Syafaat Juli 2017
Mocopat Syafaat Juli 2017 (Foto: Adin, Dok: Progress)

Untuk membedah kasus ini, kita diajak Mbah Nun membuka QS Surah Fathir ayat 28

“Dan demikian pula diantara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya. Diantara hamba-hamba Allah yang takut pada-Nya itulah ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun”

“Saat ayat itu turun, apakah sudah ada ulama seperti yang kamu anggap seperti ulama sekarang?” Mbah Nun membuka pertanyaan. Tentu saja jawabnya belum. Betapa malunya menjadi ‘ulama’ sedang ada Rasulullah Saw sebagai sumber ilmu di masa itu.

Persoalannya selama ini di masyarakat dikembangkan pola pikir, bahwa yang takut sama Allah itu ‘hanyalah ulama’ di Al Qur’an terjemahan yang saya miliki juga memang tulisannya seperti itu. Mbah Nun menjelaskan, bukan yang dimaksud hanya ulama yang takut pada Allah Swt tapi justru bila manusia memanfaatkan kemampuan keilmuannya — merunut pada ayat tersebut dan ayat sebelumnya, justru ilmu alam dan ilmu pasti dulu yang utama, bukan malah ilmu fiqh atau tasawwuf dan sejenisnya — sehingga terbit rasa takut, kagum pada Allah Swt maka itulah ulama.

Mbah Nun menjelaskan pula bahwa yang disampaikan Pak Arsanto merupakan sesuatu yang baik. Itu merupakan sebentuk antivirus. Namun juga perlu ditanyakan kembali sebagai sebuah antivirus, seberapa besar efektifitasnya dan sebera luas jangkauan pembersihannya? Karena bila kita benar-benar jernih menilainya, virus itu sudah menguasai seluruh jaringan hard disk sehingga tidak tersisa satu ruang kecil pun untuk menyimpan file yang bukan virus. “Jadi sekarang perlu bersihin virus atau ganti hard disk?”

Hard disk itu bisa bernama NKRI, bisa bernama tatanan dunia global. Bisa apa saja.

Mbah Nun kemudian meminta satu nomor dari Kiai Kanjeng tapi dengan diisi vokal oleh jamaah. Seorang jamaah, bernama Surip yang tadi ikut aktif berdiskusi di segmen awal, menawarkan diri dan dengan riang menyanyikan lagu “Ngopi” yang dipopulerkan oleh Kassimex.

Benar juga kata Mbah Nun, kali ini Maiyah sedang menyindir diri sendiri. Kita mungkin banyak mengkaji ini-itu, tapi lupa pada hal-hal yang pokok. “Maiyah itu ada naif-naifnya, terlalu percaya sama Gusti Allah”

Saya yang sampai sekarang belum memiliki pekerjaan pasti juga tertampar bolak-balik. Kita di Maiyah, jangan sampai menjadi sekumpulan kiri-kere-hore, yang jago kalau bicara data hulu-hilir perekonomian negara, khatam soal peta perkoalisian politik, ngerti sejarah pergerakan, jago berbusa-busa omong peradaban sampai fisafat kebatinan, lihai menjabarkan teknik spionase, tapi keok di hadapan tuntutan hidup. Kemudian mencari pembenaran dengan menyalahkan dunia? Ah, masa-masa seniman gila karena idealis seperti Van Gogh sudah lewat. Sekarang, jutaan orang kalah mengaku dan ingin merasa dirinya se-gila Van Gogh. Jangan sampai kita juga. Gilanya iya, jeniusnya ndak. Kasian kita ini.

Saat Pak Toto membuka kesempatan bagi para JM untuk berinteraksi, untuk bertanya maupun juga mengutarakan apa dan bagaiamana usaha mereka untuk berdaya mandiri secara ekonomi, rupanya para JM juga sudah banyak yang berpikir ke arah situ. Banyak hal, banyak bidang usaha yang telah mereka gerakkan dengan tetap di jalur jalan sunyi, tidak ramai dan jauh  dari ingar bingar. Tidak tampak di luar sebagai prodak Maiyah, tidak gembar-gembor di socmed. Sunyilah pokoknya mah.

Selanjutnya giliran Kiai Muzammil memberikan buah-buah pemikiran, dengan gaya orasi beliau yang revolusioner Madura. Beliau menjabarkan bahwa kata nasib sebenarnya satu akar kata dengan kata nashob. Itulah yang dipakai dalam ayat “walaa tansa nasiibaka minad-dunya” kemudian juga dilanjutkan dengan pembahasan tentang tujuan kegiatan ekonomi dalam Islam. Menurut Kiai Muzammil, tujuan ekonomi dalam Islam tidak untuk menciptakan konglomerasi baru, tapi lebih dekat kepada keadilan sosial.

Tujuan keadilan sosial ini ditanggapi oleh Mas Sabrang, bahwa keadilan sosial tidak berarti semua orang sama-sama kaya. Tapi adil dalam hal kesempatan pada setiap orang. Maka konglomerasi, monopoli perdagangan dan dengan sendirinya korupsi adalah hal-hal yang  kita musuhi karena hal-hal tersebut sesungguhnya menutup kesempatan orang lain. Mas Sabrang melanjutkan pula dengan pembahasan mengenai hukum distribusi kekayaan bukanlah sesuatu yang univrsal dan statis. Karena apa yang dianggap berharga pada masa sekarang bisa saja tidak lagi berharga pada masa nanti dan begitu pun sebaliknya. Ini sedikit mengingatkan saya pada komik Donald Bebek yang pernah saya baca, ketika para pebisnis saingan Paman Gober  –bebek terkaya di kota bebek—berkonspirasi untuk membuat harga emas kalah berharga dibandingkan harga kayu-kayuan. Sontak seluruh emas di gudang uang Paman gober tidak lagi berharga. Mungkin seperti itu yang dimaksud Mas Sabrang.

Karena Mas Sabrang sempat menyinggung soal konglomerasi dan monopoli serta korupsi, Mbah Nun menambahkan, kesalahan gerakan antikorupsi atau anti konglomerasi dimana-mana sekarang adalah karena mereka yang anti korupsi juga masih konsentrasi pada harta yang dirampok atau eman bondo. Padahal kesadaran yang semestinya dibangun adalah rasa sayang dan cinta pada pelaku korupsi sehingga kita tidak tega kalau dia mengkhianati kemanusiaannya dengan melakukan korupsi, monopoli, dan sejenisnya. “Itulah a’izzah ‘alal kaafirin, tidak tegaan pada orang kafir,” lanjut Mbah Nun.

Mocopat Syafaat Juli 2017
Mocopat Syafaat Juli 2017 (Foto: Adin, Dok: Progress)

Diskusi dan tanya jawab, antar pembicara maupun dengan JM berlanjut cair. Pak Arsanto juga sempat diberi kembali waktu untuk menyampaikan pendapatnya. Mbah Nun mencoba menengahi bahwa sesungguhnya jangan dianggap teman-teman di sini tidak setuju dengan aksi Pak Arsanto, namun ranah teman-teman yang hadir di sini mungkin berbeda bentuk perjuangannya. “Karena jangankan mereka disuruh pilih belanja dimana, orang dulu di sini pernah nyoba ngedar kotak sumbangan aja hasilnya… Mengharukan!,” disambut ledak tawa oleh JM. Menertawakan siapa? Kemiskinan kita sendiri, ya memang mengharukan.

Banyak sekali taburan ilmu malam itu. Di belakang, saya juga mendapat beberapa kenalan baru. Sesekali candaan-candaan Mbah Nun membuat kita terpingkal-pingkal. Beberapa penanya yang entah sadar atau tidak tapi sungguh absurd, juga menambah bahan kemesraan-kemesraan tiap ber-Maiyah.

“Kalau boleh memberi setengah dari jatah usiaku untuk Cak Nun, aku rela. Karena kita butuh ada orang yang mau nemenin kita tertawa-tawa, gojek becandaan tapi ada ilmunya,” kata Mas Sabrang.

Letto kemudian membawakan nomor Sebelum Cahaya, dilanjut doa penutup oleh Kiai Muzammil.

Sekali lagi saya berpikir tentang timing dan momentum. Ini adalah Mocopat Syafaat pertama pasca Idul Fitri 1438 Hijriah. Masih bulan Syawal. Bulan peningkatan. Pembahasan mengenai pemberdayaan ekonomi diri serta keluarga, semoga memang adalah sebuah doa ampuh bahwa setelah ini kehidupan ekonomi JM (termasuk saya) akan meningkat dengan bukan menjadikannya tujuan maha utama, tapi meletakkan peningkatan taraf ekonomi sebagai bagian dari perjuangan menuju dan menempuh kesejatian kampung halaman akhirat. Amin ya robbal alamiin. (MZ Fadil)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image