Maiyah Itu Aliran Cinta

“Tuhan kekasihku tak mengajari apapun kecuali cinta. Kebencian tak ada kecuali cinta kau lukai hatinya”. Demikian sebait puisi karya Cak Nun yang bagiku adalah hasil permenungan yang dahsyat dari seorang penyair. Puisi itu pastilah tidak lahir begitu saja. Pasti ada pergesekan dialektika dari pengalaman hidup Beliau selama ini yang kita tahu selalu mendampingi keresahan rakyat kecil yang mustadl’afin.

Sejak masa Orde Baru sampai Orde Reformasi kini Cak Nun mengkritisi Pemerintah bila tak mengemban amanah sebagai pemimpin yang mestinya mengayomi dan mengamankan harta, nyawa dan martabat rakyatnya. Kritikan-kritikan itu saya pikir tidak lahir karena kebencian Cak Nun tapi adalah ungkapan cinta Beliau dalam rangka saling mengingatkan dalam kebenaran dan disampaikan dengan cara-cara yang baik dan dibungkus dengan keindahan retorika Beliau.

Kalau kita ingin menelusuri latar belakang kenapa Cak Nun sangat berpihak dan menyayangi orang-orang kecil dan lemah, itu tak lepas dari pengalaman masa kanak-kanak Beliau yang setiap hari diajak ibundanya Bu Chalimah keliling menengok keadaan tetangga sekitar. Mungkin ada yang belum makan atau lagi ada masalah keuangan yang membelit. Tentu saja dengan berbagai upaya dan harta yang dipunyai, Bu Chalimah segera mengulurkan bantuannya kepada mereka yang sedang hidup berkesusahan.

Dari pengalaman masa kecil itu tertanam kuat sampai sekarang Cak Nun tetap konsisten menjadi “keranjang sampah” bagi keluhan-keluhan masyarakat yang datang kepada Beliau. Perjuangannya murni untuk memberi manfaat kepada sesama manusia. Sebagai tokoh Reformasi yang merupakan salah seorang anggota Tim Sembilan yang menemui Soeharto dan memintanya mundur dari jabatannya sebagai presiden saat itu.

Apa yang selama ini Cak Nun lakukan semuanya karena cintanya yang begitu besar kepada tanah air kita Indonesia. Prinsip kita di Maiyah adalah memberikan sedekah kepada Indonesia untuk memperbaiki kondisi Bangsa dan Negara. Kita yang berkumpul di lingkaran Maiyah merasa peduli dan prihatin. Maka dari itu dengan dimulai dari diri-diri pribadi, kita upayakan tidak merepotkan Negara. Juga kita tidak berbuat kerusakan melainkan terus nandur, terus menanam kebaikan sekuat tenaga.

Pasca reformasi 1998 Cak Nun menempuh jalan sunyi menjauh dari media Nasional sehingga peran-peran sosial yang dilakukan tidak dipublikasikan di media. Antara lain seperti meredakan konflik petambak udang di Tulang Bawang Lampung, mendamaikan konfilk etnis Dayak dan Madura di Sampit, atau mencegah penyerbuan kepada masyarakat Tionghoa di Muntilan sebagai efek dari Pilpres 2014.

Orang Maiyah yang berhimpun karena cinta adalah kaum yang baru yang diharapkan tidak meneruskan apa yang dilakukan generasi sebelumnya. Orang Maiyah berupaya menjadi manusia yang mengubah keadaan dan melahirkan perubahan-perubahan dengan kesadaran bahwa hanya Allah yang menjadi faktor utama perubahan itu. Di tengah “kemurtadan-kemurtadan” yang merebak ini Allah mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya. Orang-orang yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi tidak tega terhadap orang-orang kafir. Mereka yang berjihad dan berjuang di jalan Allah dan tidak takut terhadap celaan atau bullying dari orang-orang yang suka mencela.

***

Kalau saya membahasakan Maiyah itu adalah aliran cinta yang terus menerus memberi. Give and give bukan take and give, laksana mata air yang terus memancar bagi para pejalan untuk menghilangkan dahaga di tengah gurun sahara peradaban. Sesuai dengan harapan Cak Nun yang selalu menegaskan Maiyah bukan Ormas apalagi Madzhab. Bukan organisasi yang sifatnya padat. Tetapi ia adalah organisme yang sifatnya mencair mengikuti Sunnatullah. Sehingga aliran yang saya maksud bukan golongan karena sudah banyak golongan dalam tubuh ummat Islam dan kita tidak ingin menambah perpecahan itu.

Orang-orang Maiyah menelusuri bagaimana Islamnya Muhammad dengan terus mengkaji sejarah Nabi Muhammad Saw. Mereka berbagi pengetahuan dan pengalaman hidup. Maiyah sama sekali bukan tujuan. Tetapi ia hanyalah jalan menuju keberIslaman yang setepat mungkin. Dan Islam adalah jembatan untuk menuju tujuan akhir sekaligus asal-usul keberadaan kita.  Yakni Allah dengan puncaknya bertauhid kepada Allah Swt.

Asal-usul penciptaan alam semesta dan kita ummat manusia yang termasuk di dalamnya, semata-mata berdasarkan cinta karena Allah. Terikat dengan terpesona kepada tajalli-Nya yang disebut Nur Muhammad (cahaya terpuji).  Sehingga dalam sebuah riwayat Allah berfirman: “Jika bukan karena engkau ya Muhammad saya tidak akan menciptakan apapun yang lain”.

Tidak boleh kita pungkiri dan tidak boleh kita menghindari jalan cinta yang dihamparkan oleh Allah itu. Dan jalan paling lapang menuju Allah adalah dengan mengikuti jalan Muhammad Saw kekasih-Nya (ittiba’). Kita tidak boleh hanya mengucapkan cinta kepada Allah tanpa membuktikannya. Dan Allah memerintahkan kita untuk mengikuti jalan Kekasih-Nya Muhammad Saw.

Mengikuti jalan yang ditempuh Rasulullah Saw untuk membuktikan benar-benar cinta kepada-Nya semata, bukan menduakan-Nya dengan yang lain.  Betapa nyata dan terbukti sepanjang hidup Muhammad Saw adalah artikulasi dan pembuktian cinta kepada Allah yang teramat dahsyat.

Tinambung, 4 Oktober 2017

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image