Maiyah dan Visi Rasulullah

Di acara Gambang Syafaat 25 Mei lalu, Mbah Nun weling kira-kira begini, “Jika tidak mampu membaca Al-Qur`an maka bacalah Sirah Rasulullah.” Membaca dalam konteks ini tidak hanya melafalkannya tetapi sekaligus memahami maksud yang terkatakan dalam Al-Qur`an. Mbah Nun melanjutkan dan memberi rekomendasi, Sirah Rasulullah berjudul Dirasat Fi Al-Sirah Al-Nabawiyah karya Prof. Husein Mu’nis yang diterjemahkan oleh Syekh Nursamad Kamba menjadi “Telaah Historis Atas Sirah Nabi Muhammad SAW, Sejarah Perjuangan, Peperangan, dan Kesehatan”

Mengapa Sirah? Mbah Nun tidak menjelaskan. Tetapi kami menyangka karena Al-Qur`an itu telah dijalankan secara praktik oleh Muhammad. Sebagaimana disampaikan oleh istri beliau Aisyah RA, bahwa akhlak Rasulullah adalah personifikasi dari Al-Qur`an. Alasan inilah yang mendorung Mbah Nun menganjurkan kami untuk membaca Sirah. Kami kemudian merasa teramanati.

Apa bedanya Sirah dan Hadits? Dengan membaca Sirah kita akan lebih mengetahui konteks hadits, pada saatnya tidak sembarang kita memenggal-menggal hadits dan kita gunakan sesuai kebutuhan kita saja. Bahkan memanfaatkan hadits untuk membenarkan perbuatan kita yang entah benar atau salah.

Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman-teman Gambang Syafaat berkesempatan berkunjung dan bertanya-tanya dengan sang penerjemah, Syekh Nursamad Kamba, di kediaman beliau. Kata beliau: “Kita itu sering mengatasnamakan Nabi untuk urusan-urusan pribadi kita. Misalnya saja punya kecenderungan untuk berpoligami alasannya Nabi, punya kecenderungan untuk kuasa alasannya Nabi. Mereka tidak sadar kalau kecenderungan seperti ini bisa menimbulkan persepsi, sehingga nanti orang tidak suka kepada Nabi. Kemudian timbul pertanyaan pada orang lain, “Masak Nabi kok gitu?” Sebenarnya orang (non Islam-red) tidak mengenal Muhammad yang menjadikan alasan mereka menghina-hina beliau, tetapi kemudian yang mereka tahu Muhammad direpresentasikan dengan orang-orang yang seperti disebutkan di atas (poligami, kekerasan).  Maka itu pentingnya orang mempelajari Sirah Rasulullah.”

Kami telah membaca Sirah tersebut, terdiri atas empat bab. Bab pertama membahas dakwah di Makkah selama 13 tahun, dan dakwah di Madinah selama 10 tahun. Total 23 tahun mengemban tugas kenabian setelah diturunkannya wahyu pertama tahun 610 M. Bab kedua membahas tentang proses turunnya wahyu, bab ketiga membahas tentang perang, dan bab keempat membahas tentang kesehatan dan meninggalnya beliau.

Buku ini tipis, kurang dari 200 halaman. Kelebihan buku ini adalah rinciannya membahas secara ilmiah dan mendalam perjalanan hidup Muhammad. Tidak jarang mengkritik Sirah-sirah terdahulu. Katanya, Sirah-sirah yang tidak ditulis dengan cermat justru merugikan karena celah itu bisa diplintir oleh para orientalis untuk melemahkan Islam.

Hal yang dikritik misalnya, penggambaran Nabi yang lemah, miskin di saat kecil. Penulis buku ini membantah. Menurutnya, meskipun Muhammad yatim piatu, tetapi dia diasuh oleh seorang kakek dan kemudian paman yang pimpinan Quraisy. Lagi, penggambaran turunnya Wahyu yang sebagian penulis Sirah terdahulu digambarkan Muhammad dalam keadaan tidur. Ini merugikan, karena jika dalam keadaan tidur, atau mimpi itu bukan nyata dan dapat dialami oleh siapa saja.

Penulis Sirah menganjurkan untuk menulis yang pas, tidak menambah dan mengurangi. Tentang turunnya wahyu, Husain Mu’nis menyetujui hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Menjelang akhir buku, penulis menyatakan tidak menggunakan sumber satupun yang ditulis oleh orang yang tidak mengimani Muhammad sebagai Rasul, apa alasannya? Karena keimanan menjadi penting, menyangkut tujuan mereka menulis Sirah. Misal, Sirah yang ditulis oleh orientalis menuduh jika Muhammad sering berkhalwat karena secara sosial dia tersingkir.

Banyak hikmah yang dapat diambil melalui Sirah tersebut. Diceritakan Nabi dalam keseharian, misalnya bercengkerama dengan istrinya, berpakaian, kebersihan, penampilan, pertanian, dan lain sebagainya. Misalnya, tentang pertanian. Rasullulah sangat mendukung pertanian. Beliau selalu mendorong para sahabatnya untuk menanam gandum, kurma, dan buah-buahan. Katanya, “Siapa yang menanam kurma di dunia maka ia akan memperoleh taman di surga.” Suatu ketika ada sahabat yang menanam kurma, dan beliau berkata: “tangan itu sungguh berberkah.”

Diceritakan, Rasulullah adalah orang yang giat bekerja termasuk pekerjaan rumah seperti menjahit pakaian, membersihkan alas kaki, mencuci pakaian, dan menyapu rumah.

Tentang kebersihan, Rasulullah sangat memperhatikan kebersihan. Suatu kali saat Rasulullah lewat di Ahlussufah beliau melihat sampah berserakan, segera ia memanggil Abu Dzar dan meminta diambilkan sapu. Menyapulah Rasulullah. Segera Abu Dzar merebut sapu tersebut. Rasulullah berkata kepada Abu Dzar, “Beginilah cara hidup Muslim yang sejati.”

Tentang penampilan dan pakian, Rasulullah sangat memperhatikan penampilan. Suatu ketika Anas ibn Qatadah menghadap Rasul, sebelum dia membuka mulut, Rasul berkata, “Wahai Anas, bukankah kamu sudah mempunyai istri yang memperhatikan dirimu?”

“Benar, Ya Rosul” Kata Anas.

Rasulullah berkata lagi, “Kembalilah ke rumah dan minta isterimu merapikan rambut-rambut itu, mandi dan tukar pakaian. Wahai Anas, kamu sebagai orang terpandang tidak pantas berpenampilan begini.”

Pada saat perjalanan ke Madinah, sebelum sampai, Rasulullah menyuruh untuk dibelikan pakian baru warna putih dan akan dikenakan saat memasuki Madinah.

Tetapi hal yang kemudian membuat saya klik dan mengbungkannya dengan Maiyah adalah tentang cara dan visi beliau. Cara yang beliau pergunakan lembut, disebutkan sekalipun tidak pernah kehilangan daya kontrol baik dalam perkataan maupun perbuatan. Sama sekali tidak pernah kehilangan kesabaran, tidak pula sedikitpun rasa putus asa menyentuh jiwanya. Kita menyebutnya rakaat panjang.

Kemudian yang dikembangkan oleh Muhammad adalah ummat. Ia tidak membangun Negara tetapi membangun ummat yang bersaudara dan saling menolong serta saling menghormati demi kesejahteraan hidup bersama. Dikatakan dalam buku itu di masa Rasulullah tidak ada lembaga-lembaga negara seperti lembaga eksekutif, legislatif dan semacamnya. Tapi ketentuan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah yang diterapkan oleh anggota masyarakat secara jujur dan konsekuen berdasarkan kesadaran hati sanubari. Mereka tidak memerlukan pegawai karena setiap anggota masyarakat mengetahui dan menyadari tugas dan kewajiban serta hak masing-masing.

Persis seperti Maiyah, setiap malam Mbah Nun berkeliling berpindah tempat dalam rentang waktu yang tidak masuk akal jika dibandingkan dengan acara-acara lain, dari sore hingga subuh tidak lain adalah untuk membangun ummat dengan pertama-tama menumbuhkan kesadaran, menyingkap pengetahuan sejati yang selama ini tertutupi oleh media informasi yang sengkurat.

Saya jadi ingat apa yang dikatakan Syekh Nursamad Kamba: “Maiyah menurut saya semacam penugasan Tuhan kepada Mualana Muhammad Ainun Nadjib untuk mengembalikan kemurnian dalam Beragama. Sistem pendidikan kita sudah tidak bisa mengenali, meresapi, dan merasakan indahnya beragama. Semoga saja kita istiqamah.”

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image