Maiyah dan Manajemen Dakwah

Melakukan tinjauan manajemen dakwah terhadap Maiyah berarti harus menyiapkan pelbagai alat tinjau yang mungkin banyak di antaranya berbeda dibandingkan dengan alat-alat untuk meninjau kegiatan dakwah mainstream. Pada kegiatan dakwah mainstream pendekatan tinjauan seperti pada pencapaian jumlah jamaah yang termagnet. Apabila dikaitkan dengan definisi dakwah yang arus utama yakni dakwah sebagai ajang syiar, kampanye atau sosialisasi, maka pendekatan tinjauan lain misalnya adalah seberapa efektif sebuah proses doktrinasi terjadi.

Dakwah dalam pengertian orang awam lebih dekat pengertiannya pada proses transfer informasi keagamaan, maka melekat sifat doktriner di dalamnya. Berbeda dengan yang kita jumpai di Maiyah. Maka, titik berangkat konstruksi pemahaman tentang dakwah harus kita benahi dulu, sehingga dalam melakukan tinjauan manajemen dakwah terhadap Maiyah dapat menjadi kompatibel.

Di dalam Maiyah, perolehan jumlah jamaah yang hadir hanyalah efek. Lebih jauh, bahkan hal itu merupakan sesuatu yang tidak pernah di-rèken. Pun demikian proses doktrinasi tidak lazim dijumpai di Maiyah. Justru yang lebih dapat ditengarai adalah bagaimana proses kebaruan-kebaruan pemahaman dan keyakinan dilahirkan secara bersama-sama.

Pada sebuah kesempatan Mbah Nun beracara bersama masyarakat, beliau mengurai secara sederhana tetapi mendasar, pendek tetapi lengkap mengenai bagaimana dekonstruksi makna doa dan dakwah. Dari fragmen acara tersebut, kita dapat menyaksikan bagaimana sebuah pengertian yang baku bisa didekonstruksi di Maiyah.

Pada forum tersebut Mbah Nun pertama-tama mengajak Jamaah untuk berpikir bersama. Sebuah pancingan pertanyaan dilontarkan bahwa sebetulnya yang pertama-tama menyebut doa adalah permohonan itu siapa, dari mana asal-usulnya?

Betulkah arti doa adalah memohon? Mbah Nun kemudian menjelaskan bahwa Doa itu bermakna mengundang, memanggil, menyapa, menyeru. Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa memanggil dalam rangka meminta itu urusan lain. “Misalnya saya menyapa Mas Ari selamat pagi…! Tapi sebetulnya hati saya berniat hendak kredit barang minta dikasih murah. Tapi kan di situ saya menyapa dulu”, Mbah Nun memberi penjelasan.

Doa yang berasal dari kata da’a-yad’u-da’watan itu bermakna menyapa. Da’watan atau kemudian diserap dalam bahasa Indonesia menjadi dakwah juga memiliki makna yang serupa dengan doa. Penjabaran dari Mbah Nun, kalau dakwah itu panggilan atau sapaan terhadap kiri-kanan kita, sementara doa itu menyapa ke atas. Doa itu bentuk sapaan kepada Allah.

Dalam menyapa, bisa berkemungkinan banyak perkaranya. Bisa memohon maaf atau ampunan, menyampaikan permintaan atau juga melaporkan sesuatu hal. Yang ditekankan Mbah Nun di sini adalah yang penting menyapa dulu.

Ud’uni astajib lakum” itu bukan mintalah kepada-Ku, nanti aku kabulkan. Ud’uni yaitu panggillah, serulah nama-Ku. Kemudian ada kata astajib, bukan kata “ujib” yang dipakai. Ujib bermakna menjawab atau mengijabah. Namun bila astajib lakum, maknanya aku ‘mengerahkan’ apa saja menjadi ijabah untuk kalian. Berarti Allah tidak sendirian, tapi melibatkan banyak faktor.

Dari satu fragmen tersebut, kita bisa merasakan bagaimana karakteristik kebaruan yang disuguhkan di dalam berbagai kegiatan Maiyahan. Tentu saja dengan sebuah manajemen Mbah Nun mengungkapkan sebuah ayat mahsyur tersebut dengan kebaruan makna yang begitu memberdayakan Jamaah.

Setidaknya kita bisa mentakjubi bagaimana sebuah ayat dikelola atau di-manage sedemikian rupa oleh Mbah Nun. Perbandingannya adalah ketika ayat yang sama sedemikian rupa digunakan sebagai alat afirmasi untuk manusia meraih apa yang dia ingini dari Tuhan. Sedangkan di Maiyah ayat yang sama dikelola sedemikian rupa untuk mengantarkan kesadaran bahwa akhlak yang indah di hadapan Allah adalah gemar menyapa dan tidak njalukan.

Pada lanjutan dari fragmen acara Mbah Nun tersebut, Mbah Nun menyampaikan betapa Gusti Allah itu Maha Pemurah. Kita tidak usah minta saja sudah diberi tidak karu-karuan. Diberi secara tidak terhitung. Maka kesadaran yang lahir di hati Jamaah adalah bahwa lebih indah untuk tidak menjadi orang yang suka menuntut-nuntut Allah, melainkan menjadi orang yang senantiasa menyapa dan memberikan rasa syukur kepada Allah.

Efek logisnya adalah Allah justru akan mempercayakan kepada orang-orang yang berakhlak demikian berupa titipan-titipan. Termasuk tidak menutup kemungkinan berupa titipan harta benda yang banyak.

Melakukan tinjauan manajemen dakwah terhadap Maiyah berarti harus menyiapkan pelbagai alat tinjau yang mungkin banyak di antaranya berbeda dibandingkan…