Maiyah adalah Nuh, lha Indonesia?

Pada Macapat Syafaat tanggal 17 Oktober 2017 Mbah Nun mengajak para JM untuk menghitung-hitung kembali, introspeksi diri tentang bagaimana posisi Maiyah di Indonesia. Beliau mengawalinya dengan mengajak untuk kembali menegaskan bagaimana karakter Maiyah dan bagaimana karakter dari Indonesia.

Sejauh yang saya tangkap, karakter Maiyah memang benar-benar beda jauh dari Indonesia. Maiyah tidak bertujuan untuk membuat keunggulan-keunggulan secara materi. Maiyah tidak terobsesi dengan pencapaian-pencapaian kesejahteraan, kemakmuran harta benda. Yang diupayakan Maiyah adalah supaya selamat di hadapan Allah. Kalau sedikit merujuk ke Pancasila, tujuannya adalah keadilan sosial.

Sedangkan Indonesia begitu terobsesi dengan keunggulan-keunggulan materi. Maka sangat masif bangun ini, bangun itu. Terobsesi dengan kesejahteraan dan kemakmuran yang dianggapnya sebagai sumber kebahagiaan. Diam-diam yang ingin dituju di Indonesia adalah semua hidup kaya raya dan menikmati kemelimpahan dunia sepuas-puasnya. Kalau sedikit merujuk ke Pancasila, sebenarnya yang dituju Indonesia bukan keadilan sosial tetapi kesejahteraan dan kemakmuran sosial.

Maka, apapun saja yang diberikan Maiyah kepada Indonesia terpental begitu saja. Seperti tidak ada gunanya. Ke mana-mana Mbah Nun dan KiaiKanjeng beserta Maiyah mendengungkan perdamaian tetap saja Indonesia sibuk dengan permusuhan. Katanya ada yang minta saran supaya damai, tetapi tetap kekeuh dengan pendirian masing-masing yang justru memperuncing permusuhan. Katanya mau selamat dihadapan Allah tetapi tetap saja hubbud dunya dipegangnya.

Maiyah dan 25 Nabi dan Rasul

Kalau boleh, saya akan mentadabburi Maiyah dan zaman saat ini dengan mengelaborasikan antara Maiyah dengan pola sejarah 25 Nabi dan Rasul. Di samping ada unsur-unsur lain, menurut saya, urut-urutan turunnya Simbah Adam AS sampai Baginda Muhammad SAW adalah suatu urut-urutan pola peristiwa perjuangan.

Simbah Adam di awal adalah manusia baru, bersih tanpa dosa namun jam terbang hidupnya masih sangat-sangat sedikit. Maka, dengan kecerdasannya karena jam terbangnya lebih banyak Iblis bisa menipu Simbah Adam. Kejadian tersebut membuat simbah Adam banyak belajar untuk lebih berhati-hati. Selain memperbanyak keturunan Simbah Adam juga menjaga nilai-nilai yang sejalan dengan Allah bagi keturunan-keturunannya.

Kemudian Nabi dan Rasul berikutnya adalah Simbah Idri AS. Sepengetahuan saya simbah Idris dimandati oleh Allah untuk mengembangkan ilmu-ilmu sehingga manusia akan semakin kompeten untuk mengkhallifahi bumi. Pada masa ini kompetensi manusia berkembang sangat pesat. Manusia semakin paham dengan karakter-karakter alam serta bagaimana cara mengolahnya.

Urutan ketiga adalah Simbah Nuh AS. Pada masa ini perihal keilmuan manusia sudah mencapai tingkat yang ekspert. Saking ekspertnya mereka menjadi hubbud dunya. Mereka lupa dengan Tuhannya dengan tingkat yang sangat akut, yang mungkin secara perlahan akan benar-benar menjauhkan manusia dari kesejatiannya. Tauhidullah. Dan Nabi Nuh mandat perjuangannya bukanlah bukanlah merevolusi segala yang ada. Tetapi mempertahankan nilai-nilai yang sejalan dengan Allah walaupun yang setuju hanya sedikit orang saja. Memastikan orang-orang yang beriman untuk mau berlindung dalam kapal. Dan beliau diberi kesabaran, ketabahan hati luar biasa karena perjuangannya tersebut berlangsung sangat lama 950 tahun.

Banjir yang sudah surut kemudian membuat Nabi Nuh harus merencanakan persebaran manusia-manusia terpilih yang ikut dalam kapan ke wilayah-wilayah yang berbeda-beda sesuai potensi dan karakternya demi melanjutkan tugas kekhalifahan manusia di bumi.

Manusia bertambah jumlahnya di tempat-tempat yang sudah tersebar. Pada selanjutnya muncul lagi nabi-nabi dan rasul-rasul dengan mandat perjuangannya masing-masing. Sampai akhirnya tiba pada zaman Baginda Muhammad SAW. Zaman beliau adalah zaman kegelapan yang sangat membutuhkan cahaya terang. Maka perjuangan Nabi Muhammad adalah perjuangan revolusioner untuk memberikan cahaya pada kegelapan zamannya. Mengubah sesuatu yang sangat tidak mungkin menjadi mungkin. Dalam 23 tahun perjuangan beliau berhasil.

Kalau saya ibaratkan, keberhasilan Nabi Muhammad yang penandanya adalah peristiwa fathul makkah sama halnya ketika Allah menciptakan Simbah Adam di Surga. Manusia seperti memasuki surga dengan cahaya terang benderang. Setelah baik-baik saja simbah Adam menemui masalah antara Qabil dan Habil. Begitu juga umat Islam, peristiwa yang agak mirip adalah perang saudara di kalangan keluarga Rasulullah.

Namun, hal tersebut tidak terus benar-benar menjatuhkan umat Islam. Islam malah semakin jaya, meluaskan wilayah kepemimpiannya sampai cukup jauh dan mempelopori terlahirnya ilmu-ilmu dasar yang dipakai oleh zaman modern ini. Seperti filsafat, matematika, kedokteran. Zaman tersebut ibaratnya seperti zaman Nabi Idris yang dimandati pengembangan ilmu. Paling tidak zaman tersebut berlangsung sampai pada abad 13 -15 M.

Setelah abad tersebut manusia merasa mencapai sebuah pencapaian dunia yang luar biasa. Berkembangnya ilmu justru membuat manusia semakin sombong. Pada abad tersebut ibaratnya lahir Nabi Nuh sekaligus menandai nilai-nilai yang sejalan dengan Allah mudah goyah bahkan terancam tenggelam dalam banjir bandang.

Dan semenjak abad 13-15 sampai sekarang rasa-rasanya masih seperti zaman Nabi Nuh. Mandat perjuangannya pun sama mempertahankan nilai di tengah banjir bandang. Harus sabar dan tabah luar biasa sebagaimana Nabi Nuh. Karena memang keadaan manusia seperti itu, dipaksakan untuk berubah sudah tidak bisa.

Maiyah dan Zaman Nuh

Adanya Maiyah, bagi saya semakin mengukuhkan posisi zaman ini yang sekarakter dengan zaman Nabi Nuh. Yang pokok perjuangannya bukan mengubah tetapi tetap bertahan di dalam kapal, terus melatih keseimbangan berpikir, menjaga kewaspadaan hidup, sambil menunggu banjir bandang reda. Kalau saling mengingatkan tentang kebaikan jelas sudah merupakan wajarnya manusia. Tetapi kalau melakukan revolusi total misalnya seperti Nabi Muhammad SAW kelihatannya sekarang bukan waktunya.

Mungkin, besok-besok kalau sudah reda banjirnya dan manusia-manusia yang dipilih oleh Allah masuk kapal, disebar oleh Allah, akan muncul pola-pola seperti nabi dan rasul yang turun setelah Nabi Nuh. Dan sangat mungkin akan sampai pada pola yang sama seperti zaman Nabi Muhammad SAW. Perubahan total.

Tetapi, entah itu kapan waktunya. Lagi pula kalau dihitung-hitung Nabi Nuh berjuang 950 tahun. Sekarang tahun 2017. 2017 – 1300 = 717 tahun. 950 tahun – 717 tahun = 233 tahun atau 2,3 abad lagi. Hahaha, kalau di-othak–athik gathuk-kan, menunggu banjirnya reda masih cukup lama. Yang terakhir ini cuma guyon saja.

Maiyah adalah Nuh, lha Indonesia? Saya tidak tega menyebutnya.

Pada Macapat Syafaat tanggal 17 Oktober 2017 Mbah Nun mengajak para JM untuk menghitung-hitung kembali, introspeksi diri tentang bagaimana posisi Maiyah di…