Daur-II • 121

Madzhab Nul Puthul

Sebenarnya Markesot tertawa sendiri mendengarkan pendapat teman-temannya. Antara bangga tapi juga malu mengalami dialog di antara mereka tentang ayat-ayat Al-Qur`an. Dialog, diskusi, berdebat, melengkapi, mengkritik, dan segala kemungkinan dalam proses meraba-raba kebenaran. Al-Qur`an-lah kebenaran, sedang mereka hanya meraba-raba. [1] (Al-Baqarah: 91).

Markesot dan teman-temannya di Patangpuluhan itu sudah memiliki pekerjaan masing-masing di berbagai bidang. Mereka orang kecil, pekerja biasa. Tidak pernah berpikir bahwa pekerjaannya adalah profesinya. Bekerja adalah kewajaran manusia hidup, sebagaimana burung harus terbang dan ikan harus berenang karena mereka hidup.

Kalau pas berkumpul dan muncul perbincangan yang seolah-olah merupakan halaqah keagamaan, mereka tidak melabelinya sebagai Majlis Tafsir, apalagi ditambah Al-Qur`an. Hasil dari workshop olah akal pikiran itu juga bukan buku-buku tafsir atau kegagahan ilmu tafsir. Masing-masing mereka mengambil inti ilmu, presisi hikmat dan akurasi manfaat, yang mereka terapkan di dalam kehidupan mereka, pekerjaan mereka, keluarga dan bebrayan sosial mereka.

Kalau dilihat dari luar, memang ada, bahkan banyak hasil-hasil pemikiran yang sangat bisa disebut deretan atau tumpukan penafsiran atas Al-Qur`an dan kehidupan. Kalau dihimpun, bisa juga tampak seperti Aliran, kemudian bisa terpeselet menjadi Madzhab. “Kalau sampai ada orang menyangka kami adalah sekelompok penganut Aliran Islam tertentu, pengikut madzhab tertentu, maka saya menyebut madzhab kami adalah Madzhab Nul Puthul…”, kata Markesot dalam hati, “sebab kami memang nol, tidak berilmu, apalagi ilmuwan”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra