Wedang Uwuh (54)

Lelah To, Move Back-Lah

Kedaulatan Rakyat, 21 November 2017

Basiyo, Atmonadi, Darsono, Mbah Guno, Suwariyun, Marsidah, Ngabdul, Gito, Gati, JUnaidi, Buwang, Jambul, Prapto, Prapti, Kancil, Marwoto, Daryadi, Waluh, Yati Pesek, Gareng, Joned, Wisben, Sugeng Iwak Bandeng, Novie Kalur, Rabies…

Aduh siapa lagi ya. Saya coba ingat-ingat beliau-beliau yang kelak insyaallah menjadi penghuni sorga. Karena selama hidupnya berjuang membuat masyarakat bergembira, terutama masyarakat Yogya. Tapi banyak yang belum tercatat, baik yang sudah swargi maupun yang masih sugeng. Ternyata kalau sudah tua seperti saya ini daya ingat sangat rendah. Apalagi saya dalam keadaan semakin lelah dan kesel. Sungguh saya butuh bantuan para kids di zaman now.

Tidak tahu kenapa sejak pagi saya seperti bertamasya ke masa silam. Kemarin saya menyarankan agar Gendhon, Beruk dan Pèncèng mulai kembali ajur-ajer dengan kehidupan masyarakat. Bekerja baik-baik sebagaimana semua orang, bersyukur dan merancang rumah tangga untuk masa depan mereka. Ambil jaraklah dari saya, supaya tidak semakin paranoid, traumatik, mikir yang tidak-tidak, terlalu mencemaskan keadaan Negara dan macam-macam penyakit jiwa lainnya yang ketularan saya.

Maka mulai hari ini saya menikmati kelelahan masa tua saya. Sejak pagi saya sibuk membuka-buka lembaran masa silam. Membaca-baca kembali karya budayawan agung Pak Ageng Umar Kayam, yang juga seorang Ulama Mujtahid besar, sekaligus ranking teratas intelektual dan akademisi: Profesor Doktor. Yang hampir seratus buku-buku karya beliau seperti cahaya menabur dari langit, menebar partikel-pertikel hikmah ke dalam ruang akal, kesadaran dan nurani publik yang luas. Sehingga karya-karya beliau terus diterbitkan ulang dan ulang sesudah puluhan tahun ditulis.

Dulu putra kreativitas beliau adalah sahabat saya juga: almarhum Linus Suryadi AG, dengan karya utamanya yang dahsyat prosa-lirik “Pengakuan Pariyem”. Ketika itu Linus putra Kadisobo ini anak muda yang paling dekat kepada Pak Umar Kayam. Boleh dikatakan ia murid utama beliau. Saya mengekor di belakang Linus, pegangan bajunya, ikut mendekat-dekat ke Pak Kayam, siapa tahu kecipratan ilmu beliau juga. Tapi pastilah hanya setetes dua tetes yang bisa saya akses, karena level rendah “software” saya hanya memungkinkan untuk menyerap sangat sedikit dari samudera ilmu Pak Umar Kayam.

Bukannya saya membantah ketentuan Tuhan. Tapi terus terang memang ada semacam rasa menyesal kenapa Pak Kayam dan Linus dipanggil oleh Allah terlalu cepat – diukur dari cinta dan harapan saya kepada beliau berdua. Koran utama Yogya menjadi kehilangan kolumnis handalnya: Pak Kayam dan Linus adalah maskot koran itu. Primadona yang selalu ditunggu-tunggu oleh sidang pembaca. Dan sepeninggal beliau berdua, saya dipasang untuk menulis kolom menggantikan beliau berdua. Itu aneh dan ngawur.

Maka jadilah saya seperti “kere munggah mbale”. Bahkan saya merasa seperti “wedus dipupuri” atau “kethèk diklambeni”. Tulisan-tulisan saya dipaksakan, “karbitan”, mentah, hambar, dan mustahil bisa mengisi ruang yang dulu secara sangat nyamleng dan mendalam diisi oleh Pak Kayam dan Linus. Lambat atau cepat tulisan saya akan di-stop, oleh Redaktur atau oleh pembaca. Ibarat sepakbola, level tulisan saya adalah “tarkam”.

Tapi setidak-tidaknya saya merasa lega karena sudah “menyelamatkan” Gendhon, Beruk dan Pèncèng, agar move back ke masyarakat normal. Namun kemudian di siang hari saya kaget ada gemeremang banyak orang di bagian depan tempat tinggal saya. Ternyata tiga anak saya masih saja nongol, bahkan membawa tiga tamu anak muda juga. Mau tak mau saya bergerak ke depan menemui mereka.

“Mbah”, kata Gendhon, “ini ada tamu mau minta waktu omong-omong sedikit dengan Simbah. Mas yang ini namanya Andik. Yang ini Yono. Dan yang ini Mangun…”

Saya mempersilakan mereka duduk. “Apa yang bisa saya lakukan?”

Beruk yang menjawab: “Mereka ini sedang lelaku. Semacam tirakat. Yang Mas Yono ini berpuasa tidak makan tidak minum sudah hampir 40 hari. Yang Mas Andik tidak tidur sama sekali hampir 40 hari juga. Terus yang Mas Mangun ini puasa bisu, tidak bicara sepatah kata pun dalam jumlah waktu yang sama…”

Saya sangat kagum kepada tiga anak muda ini, setelah mendengar penjelasan Beruk.

“Kuat tidak makan minum 40 hari 40 malam?”, saya bertanya.

“Awalnya saya merasa tidak kuat, Mbah, tapi syukur ternyata kuat”, jawab Yono.

“Tidak tidur 40 hari 40 malam?”, saya teruskan tanya ke Andik.

“Dulu saya menolak karena marasa tidak mungkin kuat”, jawab Andik, “tapi ternyata kok kuat”

“Kalau Mangun gimana? Mestinya kamu yang paling ringan, hanya tidak ngomong”

Tiba-tiba Pèncèng bersuara: “Terbalik, Mbah. Yang paling berat justru puasa bisunya Mas Mangun ini…”

Memang wajah dan keadaan Mangun mencerminkan bahwa ia menyangga sesuatu yang sangat berat. Kedua bibirnya tertutup rapat, sorot matanya mengandung rahasia yang misterius. Tubuhnya seperti demam dan gemetar.

“Setelah melewati hari ke-33 berpuasa bisu, Mas Mangun ini melihat banyak sekali hal-hal yang kita semua tidak bisa melihatnya. Setiap melihat orang, ia bisa membaca keadaan di dalam diri orang itu, apa yang dilakukannya, baik buruknya, bahkan sering bisa melihat apa yang akan dialami oleh orang itu…”

“Lha kamu kok tahu?”, saya mengejar Pèncèng. Tapi ia meneruskan omongannya tanpa menjawab pertanyaan saya.

“Mas Mangun melihat apa yang akan terjadi di beberapa tahun ke depan, melihat banyak keadaan dan kejadian, tetapi ia tidak boleh mengemukakannya. Ia harus diam. Ia harus menyimpan dan merahasiakan semua yang diketahuinya…”

Yono menambahkan: “Dua hari terakhir ini keadaan Mangun agak drop. Kadang-kadang perilakunya agak aneh. Kami khawatir, makanya kami bawa ke sini…”

“Kok di bawa ke sini?”, spontan saya merespons.

Memang sebenarnya saya nelangsa: kok di bawa ke saya? Emang saya ini siapa? Kenapa orang bawa masalah-masalah ke saya?

“Atas saran Mas Pèncèng ini”, jawab Yono.

Bajindul si Pèncèng ini. Sejak kemarin sudah saya suruh balik ke masyarakat normal. Saya mau asyik dengan urusan saya sendiri. Sekarang malah bawa orang ke sini.

“Begini”, akhirnya saya merespons, “Nak Yono, Nak Andik dan Nak Mangun. Kalian ini pejuang yang luar biasa. Kalian tergolong generasi now yang berpotensi menjadi penyelamat masa depan bangsa. Lelaku generasi kalian ada yang di wilayah teknologi ekstrinsik, lha kalian ini pelaku teknologi intrinsik. Hanya saja, tidak ada yang perlu diselamatkan di masa depan bangsa kalian.. Tanah air kalian ini gemah ripah loh jinawi. Bangsa kalian sudah sumringah lan gumregah. Negara kalian sudah toto tentrem karto raharjo, baldatun thayibatun wa Rabbun Ghofur. Berarti tugas kalian adalah mempersiapkan diri untuk lebih memastikan Indonesia menjadi Mercusuar Dunia…”.

Maka mulai hari ini saya menikmati kelelahan masa tua saya. Sejak pagi saya sibuk membuka-buka lembaran masa silam.