Daur-II • 008

Lebih Teraniaya

“Berarti Mbah Sot merdeka dari dendam itu”, kata Seger, “kan Mbah Sot bukan pejabat dan pakaiannya ampun-ampun: sangat orang bawahan, wong cilik, meskipun tidak sampai kumal atau kumuh”

Brakodin membantah. “Mbah Sot juga dipelototi oleh mereka dengan pandangan penuh kebencian. Mereka sama-sama sedang makan di sebuah Warung Indonesia. Biasanya kapan orang Indonesia bertemu, selalu saling menyapa satu sama lain. Tapi kepada Mbah Sot mereka buang muka, bahkan menghindar ke sudut yang jauh. Sesekali mereka melirik ke Mbah Sot dengan sorot mata api….”

“Terus Mbah Sot gimana?”, Toling penasaran.

“Mbah Sot tidak bereaksi apa-apa meskipun agak heran. Sesudah mungkin melakukan Iqra` dan berpikir beberapa lama, Mbah Sot berdiri dan berjalan menemui mereka. Menyalami mereka satu persatu. Reaksi mereka sangat dingin dan terpaksa. Mbah Sot duduk di dekat mereka. Kemudian mencari peluang untuk omong kepada mereka”

“Omong gimana, Pakde?”

“Untung Mbah Sot ingat pernyataan Allah: ”Allah tidak menyukai ucapan buruk, yang diucapkan dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [1] (An-Nisa: 148), “Maaf saya sengaja datang untuk berkenalan dengan kalian”, begitu kata Mbah Sot, diceritakan oleh Brakodin, “Saya ini sudah tua dan penakut. Saya cemas dan sedih jangan-jangan kalian membenci saya. Kalian marah dan memusuhi saya. Mungkin kalian merasa teraniaya di tanah air, dan menyangka bahwa saya adalah bagian dari yang menganiaya kalian. Bagaimana kalau saya laporkan kepada kalian bahwa saya juga teraniaya? Bahkan lebih teraniaya dibanding kalian?”.