Daur-II • 020

Latihan Lemah Lembut

Brakodin tertawa. “Aslinya ada keinginan besar diam-diam di dalam hati saya untuk sesekali menjadi Khatib shalat Jumat.…”

“Waduh”, Tarmihim tertawa sangat keras.

“Tentu itu andaikan saya punya ilmu, kefasihan, dan ilmu untuk berkhotbah”, Brakodin melanjutkan, “bukan karena saya ingin menasehati orang, dengan anggapan bahwa saya punya kedudukan keIslaman yang selayaknya punya hak menasehati. Apalagi menganggap para jamaah adalah orang yang saya anggap belum begitu Islam, sementara saya sudah sangat Islam sehingga layak berkhotbah”

“Lantas untuk apa berkhotbah, Pakde?”, Toling bertanya.

“Untuk semacam latihan. Serta saya ingin menguji diri saya berapa persen mampu melakukan anjuran Allah”

“Anjuran apa, Pakde?”

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. [1] (Ali ‘Imron: 159).

Brakodin mengulangi Iqra` ayat yang disebut Tarmihim tadi secara lengkap. Dan Tarmihim menyambutnya dengan tertawa lagi.

“Pakdemu ini melafalkan beda antara dho’ dengan dlot dan dzal saja selalu kebingungan atau terbalik-balik”, katanya, “lidahnya terlipat-lipat kalau mengucapkan tho`, tsa`, sin shod, syin…. baru mulai kalimat-kalimat awal khotbah, pasti Jamaah berdiri minta Khatibnya diganti”.