Lalar-gawe, Berjalan Menyusuri Rel Kereta Api

Kakak adik itu berboncengan naik sepeda pancal ke kota kecamatan. Tiba di stasiun kecamatan, sang adik minta naik kereta api ke Mojokerto. Kakak mengiyakan. Berdua mereka naik kereta api lalu turun di stasiun Mojokerto.

Amat sebentar, cukup sebentar saja, kakak-adik itu berjalan dan melihat-lihat kutho Mojokerto. Yang terjadi selanjutnya adalah adegan kebingungan sang kakak. “Ayo kita pulang, Cak!” pinta adiknya. Dan kereta api yang membawa mereka kembali ke stasiun kecamatan masih beberapa jam lagi.

“Pulang?” tanya sang kakak untuk meyakinkan dirinya sendiri

“Ya. Pulang. Sekarang.”

“Kereta api masih empat atau lima jam lagi.”

“Kita pulang jalan kaki!”

Sesaat kemudian, kakak-adik itu sudah menyusuri rel kereta api. Berjalan dari Mojokerto menuju kota kecamatan: Sumobito Jombang.

Peristiwa jalan kaki dari Mojokerto ke Sumobito itu tidak perlu dimistiskan. Zaman itu jalan kaki lumrah dialami oleh generasi ketika RRI atau TVRI menjadi satu-satunya “siaran online” yang diakses banyak orang. Belum ada smartphone—apalagi Whatsapp dan Youtube. Apa nama generasi yang lahir saat itu? Tidak ada nama bagi mereka.

Bagi orang modern berjalan kaki menyusuri rel kereta api dari Mojokerto hingga Sumobito itu lalar-gawe banget. Tidak lazimnya anak muda berjalan-jalan, menikmati keramaian kota, melihat gadis cantik. Sebenarnya masih cukup waktu sambil menunggu kereta api hingga beberapa jam untuk bergaya atau berlibur layaknya orang kota.

Berjalan dan berjalan-jalan memang beda. Berjalan—menjadi cara yang dipilih oleh kakak-adik itu untuk melatih kondisi mental dan pikiran. Peka saat melihat, mendengar, merasakan peristiwa dan fakta yang dijumpai sepanjang rel kereta api merupakan sejumput pengalaman kala itu.

“Saya sendiri jadi mengerti dan ikut merasakan situasi berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh. Dia yang waktu itu sekolah setingkat SMP memang sengaja mencari situasi itu,” ungkap sang kakak. Kabarnya, sang adik terus memelihara kebiasaan jalan kaki itu hingga usia dewasa.

Saya tidak hendak kemeruh bagaimana situasi mental dan alam berpikir keduanya. Namun, saya pernah mengalami harus berjalan kaki dari pasar Dinoyo Malang hingga Mergosono. Berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh menghadirkan ruang iqra` yang terbuka.

Hari ini orang jalan kaki demi alasan kesehatan—olah raga yang murah meriah setiap pagi. Di luar tujuan kesehatan, jalan kaki adalah sebuah lalar-gawe, seperti dilakukan kakak adik itu beberapa puluh tahun lalu. Orang berjalan kaki saat ini mungkin karena terpaksa mematuhi kebijakan dan regulasi demi mengurangi polusi udara dan menghemat bahan bakar.

Jalan kaki sebagai salah satu conditioning alam berpikir semakin jarang atau bahkan mungkin punah di tengah budaya yang dimanjakan oleh teknologi informas.

Berjalan kaki seperti William Wordsworth, pujangga Inggris abad 18, atau seperti Gorky yang melas, penulis novel Bunda, bacaan wajib madzhab sosialis, atau seperti Umbu Sang Presiden Malioboro yang misterius—adalah aktivitas manusia yang loro lopo, pendamba kesunyian yang akut di tengah hiruk pikuk jutaan suara status di media sosial.

Masyarakat modern menghindari kesunyian—hening sunyi itu justru menelanjangi eksistensi diri. Situasi mental yang menakutkan ketika pencitraan dan talbis menjadi metodologi komunikasi untuk mengelabuhi lawan. Yang sunyi, yang hening, yang lembut, yang ruhani adalah hantu bagi pelaku materialisme. Kebudayaan yang dikepung oleh gelombang teknologi informasi itu justru menempuh lalar-gawe yang lain—satu jenis kesia-siaan yang ditalbis sebagai perkara paling penting dan primer.

Kecepatan dan percepatan yang tinggi adalah kekuatan untuk memenangkan pertarungan yang menggunakan teknologi informasi sebagai senjata utama. Asumsinya, semakin cepat kita bergerak dengan konten informasi yang diusung, kemenangan semakin mudah diraih. Semakin lambat sebuah gerakan, bisa dipastikan kekalahan sudah menunggu.

Maka, pertarungan di dunia modern tak ubahnya seperti beras den interi. Sporadis, acak, tumpang tindih, silang sengkarut, tumpuk undung. Situasi mabuk berjamaah itu terjadi justru ketika setiap orang sedang berada di puncak kesadaran agar selalu bergerak cepat. Gerakan yang tidak kenal momentum.

Dalam dekapan waktu, momentum tidak mengenal cepat atau lambat. Setiap momentun membutuhkan sikap presisi, pas, akurat, adil, tengah-tengah. Dalam rangkulan ruang, momentum tidak mengenal banyak atau sedikit, besar atau kecil, berat atau ringan. Satu detik momentum memerlukan sikap yang proporsional sesuai takaran. Bukankah fakta yang dikandung oleh momentum adalah sebuah keseimbangan itu sendiri? Bisa jadi, momentum itu serupa satu biji atom yang apabila sedetik saja dicabut dari ikatan strukturnya akan meruntuhkan seluruh bangunan alam semesta.

Berjalan kaki beberapa kilometer, yang dibarengi kesadaran ulang-alik, ya keluar ya ke dalam diri, internal-eksternal, pada konteks kebutuhan dan sisi pandang bahwa wadagisme adalah berhala—bukanlah aktivitas lalar-gawe. Minimal, saat sedang jalan kaki berhala laa ilaaha yang ngendon dalam diri kita nampak dalam kesadaran. Hingga entah, pada langkah dan detik keberapa, momentum illallaah menyergap.

Tapi, peristiwa selama berjalan kaki juga tidak harus seseram itu. Apalagi saya berjalan kaki  karena tidak punya ongkos untuk bayar angkot dari Dinoyo ke Mergosono.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image