Wedang Uwuh (34)

Lailatul Fithri dan Maulid Nabi

Kedaulatan Rakyat, 13 Juni 2017

Bagi siapa saja yang mencintai Kanjeng Nabi Muhammad Saw, ingin menemukan waktu khusus untuk bercinta rohaniah dengan Beliau, hari-hari sekarang ini adalah momentumnya yang khusus.

Tidak hanya mensyukuri ide penciptaan Allah Swt atas diselenggarakannya kehidupan, yang ada Indonesia, ada Yogyanya, dan ada kita semua. Tidak hanya merayakan ketakjuban terhadap dramatika penciptaan oleh Allah yang diawali dengan pancaran cahaya Nur Muhammad, kemudian evolusi ekosistem jagat raya.

Kita jadi mengenal, bergelimang, berenang-renang, berjalan dan berlarian di antara cahaya dan kegelapan, melintasi siang dan malam, jaga dan tidur, mimpi dan pengalaman di bumi, serta berjuta-juta wujud perjodohan, persenyawaan, sinergi, komposisi, harmoni. Yang seluruh mozaik keindahannya disebut Tauhid. Di mana pada adegan terakhir kelak kita menyatu dengan Allah Maha Pecinta Maha Penyayang Maha Pengayom dalam kehidupan yang bukan hanya kekal, tapi juga abadi.

Kholidina fiha abada. Entah apa artinya itu. Entah bagaimana rasanya kelak. Entah bagaimana penjelasan dan rumusan hidup kekal abadi itu. Dengan sistem nilai yang kayak apa. Dengan rumus fisika kimia biologi yang seperti apa. Dengan rasa dan “ngeng” serta “dlouq” yang sedahsyat apa. Terserah. Pokoknya nikmati cintamu dengan Allah bersama kekasih-Nya, Muhammad Saw, yang juga kekasih kita semua.

Kan sudah lebih dua minggu berpuasa. Sudah meragikan jiwa dengan “shiyam” maupun “shoum”. Sudah mateg aji menyerap cahaya dan memancarkan cahaya dengan keajegan shalat tiap siang dan malam, ditambah Tarawih yang indah, segar dan meriah.

“Apa kalian terlibat kepanitiaan Maulid Nabi di kampung kalian masing-masing?”, saya bertanya kepada Gendhon, Beruk dan Pèncèng.

“Nuzulul Qur`an tho Mbah, kok Maulid Nabi”, Beruk menjawab.

“Lha ya Nuzulul Qur`an adalah Maulid Nabi. Bareng. Turunnya Iqra` ayat pertama Al-Qur`an adalah tetenger kenabian beliau Muhammad Saw. Jadi kalau mau mengenang atau memperingati Maulid Kenabian atau Maulid Nabi ya pas Nuzulul Qur àn”

“Aneh-aneh Simbah ini”, Gendhon merespons.

“Kok aneh gimana. Memang begitu. Kalau yang 12 Rabi’ul Awal yang biasanya dikenal sebagai hari Maulid Nabi dan libur nasional itu namanya Maulid Muhammad dalam posisi sebagai manusia lelaki putra Pak Abdullah dan Ibu Aminah”.

Pèncèng tertawa. “Mampus kita…”, katanya, “sana bilang ke Presiden atau Kementerian Agama agar mengubah hari libur nasional yang terkait dengan hari kelahiran Nabi. Memang tidak pernah dipikirkan selama ini yang diperingati itu Kenabiannya atau Muhammad manusianya. Benar Simbah, selama ini yang dimaksud Maulid Nabi itu Maulid Muhammad. Ya sudah Mbah, kita peringati berempat saja di sini…”

Gendhon dan Beruk salah tingkah. “Sambil menadah-nadahkan hati dan tangan siapa tahu ada Lailatul Qadar”, kata Gendhon.

“Pasti dibantah lagi oleh Simbah…”, Beruk menyela.

“Bukan membantah. Meskipun Lailatul Qadar itu absah secara informasi Islam dan wajar semua Kaum Muslimin mendambakannya, tapi saya lebih menyarankan Lailatul Fithri…”

“Opo meneh kuwi, Mbah…”, Pèncèng bertanya.

“Daripada kita menunggu-nunggu Lailatul Qadar dengan mental seperti menunggu Lotre atau bukaan nomer. Daripada kita memperlakukan Allah hanya untuk kepentingan materialisme, ingin dapat uang berkarung-karung, ingin lebih kaya harta benda – mending kita beri’tikaf, bertafakur, mengupayakan agar jiwa kita memfitri kembali. Kita berjuang menuju Lailatul Fithri dan Naharul Fithri. Siang membayi, malam membayi. Pagi memurnikan diri, sore mensucikan diri. Biar saja orang maido kita sebagai orang yang sok suci. Kita mengupayakan Lailatul Fithri justru karena hidup kita masing kotor…”.

Bagi siapa saja yang mencintai Kanjeng Nabi Muhammad Saw, ingin menemukan waktu khusus untuk bercinta rohaniah dengan Beliau, hari-hari sekarang ini adalah…