Daur-II • 092

La Ya’riful ‘Ulama illal ‘Ulama

Firman Allah itu jangan diartikan dengan logika yang merelativisir posisi Kaum Ulama. Misalnya “kalau engkau takut kepada Allah, maka engkau Ulama”. Meskipun tanda-tanda seseorang itu Ulama menurut Allah adalah takut kepada-Nya, sebaiknya jangan serta-merta diartikan bahwa siapa saja yang takut kepada Allah berarti dia Ulama. Hampir semua makhluk takut kepada Allah, tapi tidak berarti mereka semua adalah Ulama.

“Sepanjang hidup aku sangat menghindari kesenangan dunia, karena takut kepada Allah”, kata Markesot, “tetapi ketakutan seumur hidup itu belum tentu merupakan indikator bahwa aku adalah Ulama”.

“Jadi siapa yang Ulama?”, bertanya Tarmihim.

“Yang Ulama adalah yang bukan aku, karena aku bukan Ulama”, jawab Markesot.

“Jadi apa kriteria Ulama?”, Sundusin ikut mengejar.

“Kalau di wilayah rohaniah ada pameo la ya’riful Waly illal Waly, maka mungkin berlaku juga la ya’riful ‘Ulama illal ‘Ulama. Jadi kalau mau tahu apa kriteria Ulama, tanyakan kepada Ulama.

“Apakah Ulama adalah yang menguasai Bahasa Arab?”

“Penduduk Arab Saudi rata-rata menguasai Bahasa Arab, tapi sangat sedikit di antara mereka yang Ulama”

“Yang menguasai segala aspek yang berkaitan dengan Al-Qur`an?”

“Belum tentu juga mereka adalah Ulama”

“Yang menguasai makna Al-Qur`an?”

Tidaklah engkau diberi pengetahuan oleh Allah kecuali sedikit [1] (Al-Isra`: 85). Itu pasti berlaku untuk aku dan kalian semua. Tapi ada kemungkinan tidak berlaku bagi para Ulama. Tidak mungkin Ulama ilmunya sedikit. Ilmu mereka banyak, sehingga menguasai Al-Qur`an”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra