Kutukan Tlethong Markesot

Siapa sebenarnya Mbah Markesot ini, masih samar bagi saya. Ada banyak dongeng tentangnya, hanya itu yang saya tahu. Tapi kok ya dongengan itu serba aneh, makin didengar makin mengganggu, berefek mempengaruhi seperti hipnotis. Baru tau judulnya saja, saya tidak bisa tidur, apa lagi menyimak kelangkapan dongeng itu. Untung saya tak pernah bertemu langsung, bisa jadi hidup saya tersihir dengan ludah dan bau mulutnya, sehingga terpengaruh untuk ikut menggelandang tidak jelas, sebagaimana ketidakjelasan siapa Mbah Markesot.

Saya agak curiga. Jangan-jangan, dongengan tentang Mbah Markesot hanya akal-akalan saja, semacam konspirasi lain yang mengajak manusia-manusia gagal, putus asa, dan kalah bersaing, untuk menempuh serta menyatu di jalan penderitaan, tanpa pernah merasa menderita. Kalau sudah begitu kan, dijajah atau disiksa, tak kan pernah terasa.

Atau ini semacam taktik praktis untuk bersaing atau melawan, sebagaimana lakon Soeryosentiko dengan ajaran saminismenya kepada sedulur Sikep. Sedulur Sikep yang berperilaku seperti gila dan membangkang itu, akhirnya selamat dari penjajahan dengan memilih hidup di hutan.

Tapi siapapun Mbah Markesot, belum perlu lah untuk saya bertemu, cukup dongengnya saja. Khawatir sekali kalau saya sampai diramal atau malah kualat karena ucapannya. Kekhawatiran saya ini mungkin karena beberapa dongeng, yang mengisahkan bahwa omongannya itu mandhi dan memang terbukti kebenarannya. Seperti kutukan orang sakit hati tingkat dewa, yang sudah lama teraniaya.

Pada dongeng itu, dikisahkan bahwa, ”negara akan mengalami kehancuran dan kiamat-kiamat kecil di semua lapisan”. Anehnya, hal ini telah diucapkan tiga puluh tahun lalu, sebelum akhirnya, ia didatangi teman lamanya, yang baru menyadari bahwa ucapan Mbah Markesot benar.

“Sekarang saya baru mengerti apa yang Cak Sot omongkan tiga puluhan tahun yang lalu. Tentang mundur ke depan dan maju ke belakang. Begitu Cak Sot dulu menggambarkan perjalanan bangsa kita”. Daur 186Perjalanan Penderitaan

Mbah Markesot mirip sekali dengan juru tebak atau analisis profesional. Atau mungkin saja, ia memang mendapat wangsit atau ilham, tentang kehancuran negara, yang orang lain tidak tahu, bahkan sebatas menduga pun tak mampu.

“Kepala Markesot berputar-putar oleh pikiran tentang bagaimana menjelaskan banyak kebobrokan sosial yang terjadi sekarang ini.… Dari posisi dan ‘nasib’ per orang, keluarga dan komunitas-komunitas, sampai tingkat makro: kemiringan Negara, keambrukan, bahkan keterbalikannya. Yang itu semua semakin memastikan masa depan ambruk dan rubuhnya. Meskipun kebanyakan orang baru mengerti sedang ambruk ketika bentuknya sudah seperti kiamat kecil yang kasat mata….” Daur 186 – Perjalanan Penderitaan

Dasar, kalau memang benar dukun, omongannya musti manjur. Dan saya yakin, mulutnya pasti bau.

Dongeng Revolusi Tlethong

Omong-omong soal bau, ada satu dongeng aneh yang begitu mengganggu tidur saya. Revolusi Tlethong tema dongengnya. Semenjak mengetahui dongeng ini, saya jadi tidak fokus untuk merevolusi mental, agar dapat bersegera lulus kuliah, sebagaimana himbauan bapak kepala rumah tangga ibu saya. Kacau ini, hanya gara-gara tlethong revolusi permintaan orang tua jadi tertunda. Kalau yang lain bertanya kapan lulus, heemh, saya anggap basa-basi, atau sekedar kasihan, atau hanya berniat mencemooh saja. Karena jelas bertanya, tapi tidak ikut mencukupi kebutuhan kuliah saya. Yoo.. minimal mendoakan lah. Bukan doa basa-basi lho!

Oke, balik lagi pada dongeng. Bau tlethong revolusi itu seperti merasuk dan mengacak-acak pikiran, hingga akhirnya saya teringat satu revolusi di zaman kuno. Konon, nama revolusi tersebut adalah Revolusi Industri Pertanian. Revolusi ini meninggalkan budaya pupuk tlethong yang najis dan bau. Menurut cerita dari zaman itu, pupuk revolusi industri pertanian “bukan tlethong” melimpah ruah bahkan banjir, berbagai macam benih canggih juga disediakan. Bahkan ada benih yang sekali tebar, bisa langsung panen. Rakyat pada zaman tersebut benar-benar sangat dimanja. Kebijakan membangun daerah penampung air, berskala sangat luas terbukti mampu mengairi puluhan ribu hektar sawah petani, sehingga tida ada orang miskin mati kelaparan.

Begitulah cerita gemah ripah loh jinawi dari zaman tersebut. Coba bandingkan dengan cerita petani sekarang. Banyak yang mengeluh pupuk langka, mahal pula. Benih canggih tak bisa dibenihkan kembali, sehingga harus membeli benih lagi. Kalo ada yang berbaik hati meminjami pupuk dan benih kepada petani, di akhir cerita sering disimpulkan ‘Harga jual panen tak mencapai modal, katanya ada impor gadungan dan operasi liar penertiban harga pasar’. Bisa ditebak, akhir hidup petani itu gulung tikar, sawah terjual, jadi buruh paling polos, hingga tiada yang dimakannya selain tlethong majikan.

Atau ada cerita lain dari beberapa teman anak petani. Ceritanya, mereka bertani, tetapi tidak memakan buah dan hasilnya. Bukan karena takut rugi karena lebih untung jika dijual. Tetapi mereka takut terkena sakit, sebab memakannya.

Teman anak petani tersebut mengatakan bahwa, “Tanaman yang kami tanam mengandung pupuk revolusi yang canggih. Pupuk tersebut mampu menghasilkan panen yang hebat, berkualitas super dan digemari pasar industri. Hanya saja, kami tidak tega memakannya. Lha wong mencium bau pupuk dan obat penumbuhnya saja, kepala jadi pusing seperti tertusuk-tusuk, apa lagi memakannya. Bayangkan saja, ada pupuk penumbuh cepat, pembesar buah, pewarna buah, pemanis buah, setelah dipanen, disemprot obat pengawet. Belum lagi obat-obatan yang membuat makhluk hidup tidak berani mengganggu atau memakan tanaman”.

Lantas, saya hanya bisa berkomentar, “Oww..apa itu ya yang ikut menjadi sebab dibangunnya puluhan rumah sakit dan larisnya investasi jaminan kesehatan”.

Tapi saya masih heran pada dongeng tentang Mbah Markesot. Kok ya seperti terbukti. Sepertinya, dongeng tersebut memberi pesan, bahwa kita memang sedang kualat dengan tlethong, yang telah lama ditinggalkan petani dan dinajis-najiskan oleh orang-orang suci. Waaah, kacau ini. Awas, suatu saat jika sudah siap bertemu Mbah Markesot, harus saya tanyakan, bagaimana cara menghilangkan kutukan tlethong. Meski tlethong tetaplah tlethong, yang tidak ada kepantasan untuk menyuguhkannya di meja tamu, kecuali ada ilmu yang dapat mengolahnya menjadi potongan-potongan tahu bacem yang legit. Semoga tlethong segera membusuk untuk kemudian menjadi pupuk.

Dan sekarang, saya menduga, bahwa Mbah Markesot adalah salah satu dari tlethong yang dilupakan itu, yang omongannya terbukti, bahkan seperti mengilhami. Kalau Ebiet menyanyikan lagu Lelaki Ilham Dari Surga, maka saya menganggap Mbah Markesot sebagai Tlethong, Ilham dari Kandang. Jika memang benar ia adalah tlethong, akan aku gotong ia di atas kepala kemudian menebarnya di sawah, ladang, dan kebun-kebun. Semoga dengan begitu, ia rela untuk mencabut kutukannya.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image