Daur-II • 198

Kuliah Roh

Meskipun sudah sering mendengar hal-hal tidak biasa pada komunitas Patangpuluhan, sejak Mbah Sot hingga para Pakde Paklik ini, tetapi Junit Jitul Toling Seger agak terpana juga menyaksikannya. Juga tidak mudah memahami, ini peristiwa apa, temanya apa, kejadian tentang apa. Kok ada serangan, tadahan, kemudian lunglai, pingsan.

Pakde Brakodin mengangkat pemuda itu dibawa masuk ke kamar belakang. Pakde Tarmihim yang menjawab ketika Junit bertanya setengah berbisik-bisik. “Dua lelaki yang di luar berpendapat bahwa pemuda itu dirasuki oleh semacam ruh liar, entah apa. Mereka mungkin anggota semacam perguruan entah apa juga. Bermaksud mengusir ruh liar itu dari dalam tubuh dan jiwa di pemuda…”

“Apa hubungannya dengan Pakde Brakodin?”, Seger mendesak.

“Banyak orang menganggap Pakde Brakodin punya ilmu atau kemampuan soal-soal begitu. Saya tidak tahu entah benar entah salah. Tapi dua lelaki itu butuh Pakde Brakodin untuk menadahi akibat dari lemparan kekuatan mereka yang berusaha mengusir ruh itu”

“Ruh apa, Pakde?”, Toling bertanya.

“Mana saya tahu. Saya tidak pernah sekolah atau kuliah fakultas ruh…”

Seger mengutip ayat Qur`an: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. [1] (Al-Isra: 85).

Junit merespon. “Manusia tidak tahu apa-apa tentang ruh”

“Tahu dong, meskipun hanya sedikit”, Seger membantah berdasarkan ayat yang dikutipnya, “bahkan kalau Tuhan bilang sedikit, mungkin saja sudah sangat banyak bagi manusia… Kabarnya satu hari yang dimaksud Tuhan sama dengan 500 ribu tahun bagi konsep waktunya manusia…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra