Kuda-kuda Menghadapi Zaman Baru

Catatan Sinau Bareng Universitas Amikom, 9 Oktober 2017

Amikom, ah banyak kenangan walau saya tidak punya mantan di sini. Well, faktanya saya ndak punya mantan sih memang.

Saya dulu sempat beberapa lama berjualan es dawet di sekitar kampus ini. Jadi siapa tahu ada kawan-kawan civitas kampus yang ingat bahwa di seberang gerbang kampus, ada gerobak es dawet yang penjualnya suka sambil nulis di laptop warna pink dengan novel Nagabumi-nya Seno Gumira sebagai alas laptop, kadang jadi bantal buat rebahan. Nah itu saya.

Sinau Bareng di Universitas Amikom. Foto: Adin.
Sinau Bareng di Universitas Amikom. Foto: Adin.

Salah satu pekerjaan yang menyenangkan yang pernah saya dapati, banyak waktu untuk membaca, menulis dan berinteraksi dengan banyak orang. Sayang, mas bos yang produksi dawet Banjarnegara tidak melanjutkan produksinya karena harus pulang kampung.

Cukup soal kenangan berjualan dawetnya, kali ini saya kembali ke kampus Amikom untuk mengalami kemesraan acara Sinau Bareng dalam rangka Dies Natalis Amikom yang ke-23. Rupanya acara ini juga sekaligus sebagai bentuk ujud syukur civitas kampus karena sekarang Amikom sudah berstatus Universitas.

Tampak benar bahwa pihak kampus sebagai penyelenggara acara sangat berniat berbagi kebahagiaan dengan para jamaah yang hadir. Tiap hadirin diberikan sekotak snack, dan masih belum cukup, menjelang masuk ke lokasi acara juga ada kopi gratis.

Amikom mungkin satu dari sedikit kampus yang ramah terhadap penjaja jalanan dan kaki lima. Waktu saya berjualan dawet saya merasakannya, dan saat acara Sinau Bareng pun para penjual kacang, kopi, roti dan lain sebagainya leluasa berjualan tanpa dinajiskan oleh dinding kampus. Semoga tetap dan selalu seperti itu.

Sebelum bapak-bapak Kiai Kanjeng menempati posisi masing-masing di atas panggung, tampak grup sholawatan melantunkan nada-nada syahdu dengan diiringi tari sufi. Itu lho yang orangnya muter-muter sepanjang lagu, maaf saya lupa nama tariannya. Adanya tari sufi begini di kota Yogyakarta, mau tidak mau membuat saya berpikir mengenai konsep kosmopolit. Manusia memilih budaya dari mana yang dia senangi, tanpa perlu memiliki pengalaman kultural mengenai kebudayaan tersebut. Baik atau burukkah kosmopolitanisme ini? Nah tergantung pemakaiannya.

Rupanya, perihal kosmopolitan ini jugalah yang dijadikan bahasan awal oleh Mbah Nun ketika telah berada di atas panggung.

Bahwa dunia sekarang telah bergerak menuju cakrawala peradaban yang tidak bisa dibayangkan oleh generasi sebelumnya. IT yang adalah spesialisasi Amikom menjadi avant garde dalam peradaban baru ini.

Mbah Nun juga memberi sambungan rasa antara dunia teknologi informasi dengan tugas sebagai manusia. Ada empat poin yang disampaikan oleh Mbah Nun sebagai bekal bagi para hadirin malam itu yang kebanyakan berusia belia. Pertama, kuasai IT default-nya adalah kebudayaan. Kedua, mengerti manajemen dan akuntansi. Ketiga, integritas akhlaq. Keempat, aqidah.

Empat poin ini juga bisa dibalik, atau diaplikasikan menurut pada skala prioritas masing-masing. Tidak berarti karena aqidah diletakkan terakhir lantas dia menjadi kurang penting. Dan empat hal ini perlu diolah dengan kelembutan pada sesama namun keras terhadap diri sendiri. Bahkan kalau perlu berlaku militeristik terhadap diri sendiri. Ini seperti Mbah Nun sedang meng-install software pada tiap individu yang hadir.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Software yang bersifat mandiri, yang mengokohkan kuda-kuda batin, pengaktifan sel-sel search engine kemakrifatan, sekaligus juga anti-virus dari serangan virus ahmaq, kedangkalan, dan kemalasan.

Mbah Nun juga mengabarkan bahwa sekarang ini teknologi artificial inteligence (AI) sedang dikebut, bahkan seorang berkebangsaan Rusia sedang mengupayakan agar pada tahun 2045 nanti teknologi AI bisa diaplikasikan pada bentuk hologram.

Dan pada sejatinya, apakah hidup bila bukan sekedar hologram di mata Sang Maha Pencipta?

Bahasan teknologi AI mengingatkan saya pada beberapa film dan serial science fiction. Konon, kata penggemar sci-fi movie, untuk merekayasa masa depan maka buatlah film sci-fi agar kemudian sains mengarah kepada imajinasi dalam film.

Teknologi AI memang merupakan bahasan yang cukup ramai belakangan ini dalam perfilman berbarengan dengan isu privacy vs surveilance dan tema social media vs social life. Tanpa melupakan film-film pendahulu seperti trilogi The Matrix, Terminator, Minority Report dan lainnya. Belakangan ide mengenai AI dalam film terus dikembangkan, sebutlah serial seperti Person of Interest atau Westworld, dua-duanya besutan kolaborasi Jonathan Nolan (saudaranya Cristhoper Nolan) dan JJ Abrams. Dalam film, tema AI hampir tak terhitung dan belakangan makin ramai. Terakhir Ghost In The Shell juga sepertinya tidak begitu jauh dari tema ini (saya belum nonton). Artinya, manusia memang sedang mengarah ke sana.

Dan bila kelak teknologi full AI (sebenarnya dalam game juga kan sudah AI tapi masih konsep paling sederhana) diaplikasikan bukan tidak mungkin akan ada teknologi AI yang mampu menyerap informasi, memiliki kemampuan belajar, berimajinasi bahkan kemudian menciptakan AI lain yang berdasarkan imajinasinya. Dalam serial Person of Interest sih begitu, makanya terjadi “perang suci” antara The Machine vs Samaritan dengan manusia-manusia pilihan masing-masing yang diberi rahasia penciptaan dan informasi tingkat haqiqat dari para super AI yang tidak pernah tampak wujudnya. Aih, pikiran saya malah ke film.

Dalam usia sepuh, Mbah Nun rupanya masih sangat update. Sementara kondisi sekitar yang saya saksikan belakangan, teman-teman yang baru berusia kisaran 40-50 sudah mulai mengeluh-ngeluhkan perkembangan zaman, menyebut “kids jaman now” dengan nada meremehkan sehingga membangun tembok batas antara generasi. Tapi Mbah Nun mencontohkan pada kita bahwa zaman bukan untuk dikeluhkan, melainkan digali kebijaksanaan darinya.

Dalam dunia perfilman, nama Amikom memang sempat terdengar harum dengan keberhasilan memproduksi Battle of Surabaya. Hal ini juga disampaikan oleh Pak M Suyanto sebagai rektor. Saya belum pernah menonton animasi ini, namun sekilas melihat trailler-nya rasanya memang cukup layak untuk bersanding dengan animasi-animasi produksi studio Gibli.

Tampak benar kegembiraan dan kebahagiaan Pak Suyanto, dan menurut beliau keputusan mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam acara dies natalis serta syukuran atas status Universitas dikarenakan Mbah Nun sudah bukan orang lain bagi seluruh civitas kampus Universitas Amikom, bahkan Mbah Nun dipandang sebagai orang tua yang petuah-petuahnya menjadi bekal dalam menghadapi tantangan zaman.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

KiaiKanjeng pun menyumbangkan nomor-nomor andalan, serta menggubah lagu Letto dengan vokal diisi oleh Mas Alay yang tentu saja warnanya menjadi berbeda juga. Sebuah pelajaran bagaimana kita bisa mengkhalifahi perubahan zaman dengan tetap berpaku pancang pada prinsip-prinsip yang murni.

Zaman baru memang sedang membuka, bentuk-bentuk baru bermekaran walau kita juga harus merelakan beberapa bentuk lama harus layu dan membusuk. (MZ Fadil)

Amikom, ah banyak kenangan walau saya tidak punya mantan di sini. Well, faktanya saya ndak punya mantan sih memang. Saya dulu sempat beberapa lama…