CakNun.com
Daur-II059

Korting Cinta

Telah diyakinkan oleh Allah sendiri: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. [1] (Al-Baqarah: 186).

Tetapi kalau seberapa dekat Ia kepada hamba-Nya berbanding lurus dengan tingkat kepatuhan kepada perintah-Nya, dengan kadar keimanan kepada-Nya, serta ketepatan dan konsistensi untuk selalu berada di dalam kebenaran – bagaimana mungkin aku mampu menilai bahwa diriku mencukupi untuk persyaratan itu.

Kemudian Allah menganugerahkan keringanan dan melunakkan persyaratannya dari level tinggi-rendahnya iman, benar-bathilnya akhlak kehidupan, serta ukuran patuh-ingkar – digeser menjadi tema kemurahan hati, rasa tidak tega dan semacam kedermawanan sikap: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. [2] (At-Taubah: 128).

“Korting cinta” ini membuatku tak bisa menahan diri untuk sowan kepada Kanjeng Nabi, di manapun, bagaimanapun, dengan ongkos seberapapun, sesudah dan sesulit apapun. Allah bermurah hati kepada siapapun yang “gondhelan klambi”nya Rasulullah Muhammad kekasih-Nya. Allah seakan-akan menawarkan keringanan hukum kepada siapa saja yang hidup dengan “berpegangan” bagian belakang gamisnya Rasulullah Muhammad Saw.  “Wahai Nabi, ajari aku Iqra`”.

Lainnya

Maiyah sebagai Pendidikan Alternatif Sosial-Kemasyarakatan (3)

Maiyah sebagai Pendidikan Alternatif Sosial-Kemasyarakatan (3)

Wartawan dan Musik Puisi

Selain sebagai anggota PSK yang aktif dan produktif, Mbah Nun juga dipercaya menjadi pimpinan redaksi Harian Masa Kini—sebelum koran ini beredar sebagai media massa Muhammadiyah ia bernama Mertju Suar yang berdiri tepat pada pergantian pucuk kepemimpinan nasional dari Soekarno ke Soeharto tahun 1966—dengan tugas mengasuh rubrik remaja Insani yang muncul setiap Rabu dan rubrik budaya Kulminasi tiap Senin.