Kontinuasi Cara Leluhur dalam Menyikapi Hidup

Bangsa Indonesia hari ini mengalami krisis percaya diri sehingga lebih melihat apa-apa yang berasal dari luar seakan lebih baik. Dan ini tidak hanya terjadi pada wilayah budaya saja. Jika dilihat secara komprehensif menyeluruh, tata kelola bernegara kita pun tidak percaya diri. Di Maiyah diurai kekusutan dan dicari pangkal permasalahan ketidakpercayaan diri itu.

Silaturahmi YSM 17 Maret 2017

Dan sebab dari tidak percaya diri itu karena tidak mengerti asal usul dirinya. Bangsa Indonesia hari ini tidak menghargai Majapahit sebagai asal usul mereka, dan bahkan mungkin telah diputus dari ketersambungannya dengan Majapahit. Yayasan Soerjo Modjopahit (YSM) yang silaturahmi ke Kadipiro jumat pagi kemarin (17/03) melakukan suatu upaya menjaga ketersambungan dengan leluhur bangsa. Mereka sedang merancang untuk membangun sebuah Taman Perdamaian Dunia, Soerjo Modjopahit (TPDSM). Untuk itu mereka perlu untuk menemui Cak Nun untuk memohon panduan dalam merancang terwujudnya TPDSM.

Setidaknya ada beberapa hal tentang kedatangan mereka ke Kadipiro. Di antaranya silaturahmi perkenalan Pengurus YSM, kemudian memohon masukan Cak Nun mengenai langkah sinkronisasi dan koordinasi sehubungan rencana YSM membangun TPDSM sebagai wujud merevitalisasi tata nilai kebangsaan yang berpondasikan budaya Majapahit. Secara khusus YSM memohon ijin pemakaian lagu Bangbang Wetan untuk dipakai dalam film presentasi yang juga ditayangkan di awal pertemuan tadi.

Dalam suasana cair dan duduk lesehan di atas gelaran tikar di Pendopo Kadipiro, antara rombongan YSM berjumlah empat belas orang yang dipimpin bapak Bambang Sulistomo yang merupakan putra dari Bung Tomo dengan Cak Nun mengalir perbincangan yang santai. Yang lebih penting dan mendasar yang belum terjangkau oleh pengurus YSM adalah Cak Nun memberi pijakan—dalam bingkai kontinuasi yang ditanamkan terus menerus di Maiyah—bahwa menjaga ketersambungan terus dengan Majapahit adalah melanjutkan caranya para leluhur kita dalam menyikapi hidup. Ketiakbenaran manusia modern Indonesia dalam menyikapi hidup ini mengakibatkan silang sengkarut seperti terjebak dalam perang identitas, tidak bisa membedakan gula dengan manis, dan seterusnya.

YSM ini sendiri didirikan tahun 2013 oleh Ibu Sulistina Sutomo, Bambang Sulistomo, Iwan Ismaun, dan Anda Suhanda. Konsep Master Plan TPDSM sudah disampaikan dan diterima oleh  Gubernur Jatim dan di-launching pada tahun 2015 di Jakarta. Lagu Bangbang Wetan yang dijadikan soundtrack animasi rancangan TPDSM juga diinformasikan oleh Cak Nun bahwa lagu dan syairnya karya Ki Hadi Sukatno, sementara aransemennya oleh KiaiKanjeng. (AJJ)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image