Kolosalitas Mencari Buah Simalakama

Mencari Buah Simalakama adalah satu ujud mencari itu sendiri yang sekaligus juga jawaban atas keadaan dan persoalan yang jawabannya terletak pada mencari.
“Esensi dari tugasmu mencari buah simalakama adalah pada kata mencari....” Demikianlah pesan Semar kepada Hanoman pada malam ini.
“Esensi dari tugasmu mencari buah simalakama adalah pada kata mencari….” Demikianlah pesan Semar kepada Hanoman pada malam ini (Foto: Adin).

Boleh dikata pementasan naskah “Mencari Buah Simalakama” ini termasuk kolosal sifatnya. Ini terlihat dari jumlah pemain yang memegang peran dan dialog sekitar 13 orang. Belum lagi ditambah Suto Kurawa dan para penari. Juga para musisi yang mengambil tempat di belakang layar.

Kekolosalan juga tampak mungkin justru pada busana atau kostum yang dikenakannya, yang rasa-rasanya lebih pas disebut Kostum Nusantara. Yaitu nusantara yang terentang jauh ke belakang sampai ke masa dan tempat negeri Hastinapura. Tidakkah rentangan panjang sejarah itu terbilang kolosal jua?

Tetapi, “Sesungguhnya bangsa Hastinapura tidak suka belajar sejarah. Sejarah hanya diberikan di sekolah dan materinya ya ampun hanya hitam putih saja,” begitu kata Dewi Uma. Tanpa terasa, para penonton yang sudah masuk gedung sejak pukul 19.45 dibawa masuk ke dalam cerita dan pesan-pesan mendasar kehidupan ya manusia ya bangsa, yang tak lain adalah diri kita sendiri.

Para penonton yang terhormat semuanya menyimak dialog-dialog dan adegan cerita “Mencari Buah Simalakama” dengan penuh kekhusyukan. Kalimat-kalimat ringkas tegas jelas sedari awal telah menegaskan kepada penonton apa yang selayaknya diimajinasikan dan direnungkan. “Esensi dari tugasmu mencari buah simalakama adalah pada kata mencari….” Itulah salah satunya.

Ya, benar, dan tidak sulit menyadari serta memahami bahwa tugas hidup manusia adalah “mencari”, tetapi seberapa banyak dan seberapa sungguh-sungguh orang, kelompok,  institusi, ormas, bahkan negara yang bersungguh-sungguh mencari.

Orang-orang, para tetua khususnya, yang berhimpun dalam paseduluran Perdikan Teater ini coba urun piweling akan pentingnya mencari, dan “Mencari Buah Simalakama” yang sedang dihadirkan ini adalah satu ujud mencari itu sendiri yang sekaligus juga jawaban, yakni jawaban atas keadaan dan persoalan yang jawabannya terletak pada “mencari”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image