Daur-II • 146

Kok ‘Hanyalah’ Ulama

Cak Sot dan apalagi warga Patangpuluhan lainnya yang lebih awam dari Markesot, merasa sadar diri bahwa pengetahuan mereka tentang Bahasa Arab sangatlah rendah. Apalagi tatkala Bahasa Arab dipilih dan digunakan oleh Allah dalam menuturkan Al-Qur`an.

Misalnya firman yang menyebut Ulama itu: “Innama yakhsyallaha min ‘ibadihil Ulama[1] (Fathir: 28). Kenapa terjemahannya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama”. Sungguh bodoh Cak Sot tidak mampu memahami itu. Kenapa pakai kata ‘hanya’? Apakah itu terjemahan dari kata ‘innama’? Apakah gramatika keseluruhan kalimatnya memberi nuansa yang kesimpulannya adalah ‘hanya Ulama’?

Makanya sekolah, Cak Sot. Nyantri di Pesantren. Atau tekon otodidak nderes ngaji belajar memahami arti Qur`an barang sedikit-lah. Rata-rata masyarakat meyakini: bagaimana mungkin orang bisa pintar ilmu dan ngaji kalau tidak sekolah atau nyantri. “Terjemahan ayat itu tekanan maknanya yang mana”, kata Markesot, “Yang takut kepada Allah hanyalah Ulama, selain Ulama tidak takut kepada Allah. Ataukah siapapun saja yang takut kepada Allah adalah Ulama, dan belum tentu yang sudah terlanjur disebut Ulama itu takut kepada Allah?”

Sundusin tersenyum dan menghela nafas. “Iya ya. Titik berat itu terletak pada peristiwa takutnya atau identitas Ulamanya? Apakah Ulama itu identitas, ataukah kondisi kejiwaan manusia?”, “Rasanya tidak patut juga kalau seorang tukang tambal ban yang meskipun rajin ibadah dan selalu takut kepada Allah — lantas kita sebut Ulama. Tetapi lebih tidak pantas dan memalukan lagi kalau ada orang sudah disebut Ulama oleh ummat tapi rakus harta dan penjilat penguasa…”.

“Mungkin pembicaraan tentang itu perlu repetisi, diulang-ulang. Itupun belum tentu membuat kita nyanthol dan ingat…”, kata Markesot.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra